dari catatan kecil Agustinus Surianto Himawan

 

Malam ini
aku sendirian Tuhan..
perlahan suara bising mereda di gereja
Umat telah pergi, dan aku kembali ke rumah,
sendiri…

Aku berpapasan dengan mereka yang kembali berjalan
kulewati bioskop…penontonnya berhamburan seusai pertunjukan
Aku bertabrakan dengan anak-anak yg bermain di jalanan,
anak-anak Tuhan, anak-anak milik orang,
dan tak pernah jadi milikku sendiri.

Aku di sini Tuhan..sendiri..sunyi..
menyesah diriku sepi menekan aku…

Tuhan, umurku telah 40 tahun.
Aku memiliki tubuh seperti orang lain,
siap bekerja..
memiliki hati yang ditakdirkan mencinta,
tetapi segalanya kukembalikan kepada-Mu.

Engkau yang mungkin membutuhkannya…!

Aku telah memberikan segalanya kepada-Mu,
tetapi betapa berat Tuhan..!
Betapa sukar membela diri,
lebih mudah menyerahkan diri kepada orang lain.

Betapa sukar mencintai semua orang,
sambil tak memilikinya.

Betapa sukar berpegang tangan,
sambil tak menuntutnya untuk diri semata.

Betapa sukarnya bahwa setelah mereka kuilhami cinta,
aku harus menyerahkan seutuhnya bagi-Mu.

Betapa sukar menjadi tak berarti sesuatu pun bagi setiap orang,
sembari menjadi segala-galanya bagi mereka.

Betapa sukar menjadi seperti orang lain,
berada di antara mereka dan bersatu dengan mereka.

Betapa sukar untuk senantiasa memberi tanpa boleh berhak menerima.

Betapa sukar mencari yang hilang,
sambil tak diperhatikan seorang pun.

Betapa sukar setelah menderita kedosaan orang lain
diharap untuk mendengar mereka dengan pengertian.

Betapa sukar diberitahu tentang segala rahasia,
sambil sendiri tak kuasa menyelesaikannya.

Betapa sukar menopang yang lemah,
sambil tak boleh ditantang sesuatu pun.

Betapa sukar bersendiri,
sendiri di antara manusia,
sendiri di tengah dunia,
sendiri menanggung derita,
kematian dan dosa …

PUTRAKU…
ENGKAU TAK SENDIRIAN, AKU BERSAMAMU, AKULAH ENGKAU.

AKU BUTUH PERANTARA, PELANJUT, PENJELMAAN, DAN PENEBUSANKU.

DARI KEABADIAN, AKU MEMILIHMU DAN MEMBUTUHKAN ENGKAU…
AKU BUTUHKAN TANGANMU, MELANJUTKAN BERKATKU.
AKU BUTUHKAN BIBIRMU, MELANJUTKAN KATA-KATAKU.
AKU BUTUHKAN TUBUHMU, MELANJUTKAN DERITAKU.
AKU BUTUHKAN HATIMU, MELANJUTKAN CINTAKU.
AKU BUTUHKAN ENGKAU, UNTUK MENYELAMATKAN.

TINGGALLAH BESERTA-KU, PUTRA-KU…!
DI SINI…AKU, TUHAN, HATI-KU, JIWA-KU.

Tuhan..
Semoga saja aku cukup besar untuk menjangkau dunia,
cukup kuat menanggungnya,
cukup ikhlas merangkulnya tanpa berangan memilikinya..

Semoga saja aku boleh menjadi pusat pertemuan,
tapi hanya sementara,
seakan jalan yang tak buntu di sini,
melainkan menghantar segalanya yang terkumpul kepada-Mu.

Tuhan..
pada malam ini, saat segalanya diam membisu,
saat aku terlampau tersiksa kesepian,
sedang manusia meluluh diriku,
tapi aku tak kuasa memuaskan dahaganya,
saat semesta dunia yang sarat derita dan dosa menindih diriku,
kuikhlaskan lagi kepada-Mu jawaban “ya”-ku…

Bukan dengan segala ledak-tawa yang bangga,
tapi hanya dengan enggan dalam keheningan dan kesederhanaan.

Sendirian aku di depan-Mu Tuhan..
pada kedamaian senja hari.

(Michael Quoist)

7 Tanggapan to “Doa Seorang Imam”

  1. Ivan Says:

    sungguh indah doanya.
    sangat menguatkan saya, akan sebuah panggilan.

  2. joko pramono Says:

    Berbahagilah yang memunuhi keiginan DIA, karena pilihanNya.
    Dunia ini sia-sia tanpa DIA. Maka kuatlah menjadi seperti DIA. Mengorbankan segalanya, termasuk jiwa raganya untuk manusia.Kuatlah dalam DIA, engkau tidak akan sendiri. Tuhan memberkati.

  3. maria goretti Says:

    Sungguh saya meneteskan air mata ketika membaca ini … ini sama sekali luput dari perhatian saya sebagai umat…
    Saya hanya tau mereka hampir sempurna
    bijaksana … dan semua ….
    Dia kami tulus untuk panggilan yang sangat mulia…Tuhan memberkati

  4. ivonne Says:

    takpernah ada yang tau derita seorg imam, karena dibungkusnya dngan kasih dan pengorbanan..tapi ada do’a slalu untukmu wahai sosok berjubah putih..agar kau slalu bersinar di dalam kemiskinan hati kami…

    1. erna Says:

      MAKSI Ivone..doakan juga bagi mereka berjubah.

  5. Egidio Says:

    Kisah hidup
    kisah tentang orang-orang yg terpainggil
    kisah kepedihan karena cinta

    Harga yang dibayar untuk sebuah cinta total terhadap Tuhan adalah kesediaan untuk memikul salibnya…

  6. Ryan Calvin Says:

    membawa salib Yesus itu memang sangat berat. tetapi Yesus tidak akan memberikan yang lebih daripada yang kita mampu karena Yesus selalu membantu kita membawa salib itu beriringan.
    sungguh menguatkan iman saya terhadap panggilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s