“Inilah anak-Ku yang Ku kasihi”

 

Kayu aras tiang Nirwana mengeluh sedih

Kehilangan tirai pelindung mahligai 

Anak-anak kijang Adinda melompat jauh berhamburan

 

Pada peraduan tempat domba-domba berbaring

Kabut mengembun jantung Kakanda

O, air mata yang bercucuran

Air hidup di kebun bermeterai

Taruna-Ku, anak-Ku Gembala

Bawalah-bawalah kembali kijang-kijang Ibunda

Dari lembah-lembah singa yang mengaum

 

Di Kebun-kebun anggur En-Gedi

Membubung gumpalan mur dan kemenyan

Memuji Ananda yang telah melampaui berbagai musim

 

Langit terkoyak

mengucurkan merah degup surga

Membasahi Bunga Bakung Sungai Yordan

Karena Kelopaknya yang halus dan rapuh …

mulai menetang angin utara dan selatan

“Inilah anak-Ku yang Ku kasihi”

 

Lagi langit terkoyak

Mencurahkan merah perasan delima Firdaus

Lagi-lagi membasahi bunga Bakung Puncak Tabor

Agar Kelopaknya tetap halus walau tetap rapuh

Karena sebentar lagi bertambah

terpaan badai dari barat dan timur

“Inilah anak-Ku yang Ku kasihi”

 

Sebelum sepoi senja berhembus         

Dan bayang-bayang menghilang

Seutas pita kirmizi ibunda merekah

Dialah satu-satunya anak ibunya

Membawa kijang dan anak rusa

Dalam kereta kencana Salomo

Pulang ke kemah bertiang kayu aras

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s