Edelweis

Rumpun Putih menyelimuti lereng Pangrango

yang diam dan membias kemilau Sang Mentari

kesederhanaan yang biasa tuk anak gembala

yang slalu telanjang kaki menemani

Saat itu ………..

Terik, kering,

Aroma rumput menyatu dalam semilir keheningan siang

Persadapun termenung pada keteduhan sunyi

Apa yang ku cari …………..

Dan ………..

Bayu menggelitik telinga,

Ku tahu itu NafasMu yang mendesah, menanti

Rerumputan teragangguk di mata

Ku yakin itu panoramaMu yang merindu, memanggil

KasihMu …………

Sederhana,

Abadi …………

Saat ini ………

Sejumput perdu putih berhias pita di atas meja

Lambang Horizon, Kaki Langit dan ujung bumi

Tidak lagi sederhana dan biasa

Karena ……….

Ku temukanMu di puncak Pangrango

Satu Tanggapan to “Edelweis”

  1. demoffy Says:

    terpana aku membaca puisimu
    membuatku teringat akan keindahan dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s