Dasar-Dasar Doa Menurut St. Teresa, cinta kepada sesama, kelepasan dan kerendahan hati merupakan dasar untuk doa dan karenanya dia menulis beberapa bab untuk menekankan hal ini dalam karyanya. Bahkan sebelum mengatakan apa-apa mengenai doa, ia menulis: “Saya akan menyebutkan hal-hal yang perlu bagi mereka yang ingin mengikuti jalan doa. Ini begitu penting sehingga kendati pun orang-orang ini tidak begitu kontemplatif, mereka bisa jauh lebih maju dalam mengabdi Tuhan bila memiliki hal-hal ini. Dan bila mereka tidak memilikinya, tidak mungkin bagi mereka untuk menjadi kontemplatif.” Ia melanjutkan, “Karena sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa mempraktekkan ketiga hal ini membantu kita agar memiliki secara lahiriah maupun batiniah kedamaian yang begitu dianjurkan Tuhan kepada kita. Yang pertama adalah saling mengasihi, kedua adalah kelepasan dan yang ketiga adalah kerendahan hati sejati, yang walaupun saya sebutkan sebagai yang terakhir, namun adalah yang terutama dan mencakup semua yang lainnya.

1. KASIH
Mengenai kasih, ia membahas dua macam kasih: “Yang satu adalah kasih rohani semata-mata, karena kasih ini nampaknya sama sekali tidak tercampur hawa nafsu dan tidak dipengaruhi kerapuhan kodrat kita, sehingga menghilangkan kemurnian kasih itu. Yang lainnya adalah kasih rohani yang tercampur dengan nafsu dan kelemahan atau cinta manusiawi, karena nampaknya memang baik, seperti halnya cinta kepada sanak keluarga kita dan kepada teman-teman.”

Kasih rohani dimiliki oleh siapa saja yang dibawa Tuhan ketingkat kesempurnaan. Mereka ini adalah orang-orang yang murah hati, berjiwa besar. Kasih ini sama sekali tidak mementingkan diri sendiri. Apa yang didambakan atau diinginkannya adalah melihat orang lain kaya dengan berkat-berkat surgawi.

Mengenai kasih kepada sesama, sangat penting bahwa kita memilikinya karena mereka yang saling mengasihi dengan senang dapat menanggung beban sesamanya. Dan bila di dunia ini perintah saling mengasihi ini dijalankan sebagaimana seharusnya, saya kira kasih yang demikian akan sangat berguna untuk menghayati perintah-perintah yang lainnya. Namun, baik karena kasih maupun berlebihan kasih, kita tidak pernah mencapai tingkat penghayatan perintah ini secara sempurna. Tetapi mereka yang tertarik pada kesempurnaan mempunyai pengertian yang mendalam akan kasih yang berlebihan ini akanmengurangi kekuatan kehendak kita untuk secara total dan utuh mengasihi Tuhan.

St. Teresa yakin bahwa hidup manusia hanya akan menjadi berarti bila seseorang mencinta dan orang yang mencinta akan menemukan arti yang sejati dari hidup bahagia dan berguna dan memiliki rasa solidaritas terhadap sesama sambl sekaligus terpaut pada Tuhan. Orang yang saling mengasihi dapat menanggung segala hal, bahkan hal-hal yang menyakitkan hati. Maka pola yang diberikannya adalah : kita harus saling mengasihi “sebagaimana Yesus mengasihi”

Untuk itu diberikannya petunjuk:

1. Kita harus saling mengasihi dan membantu dengan tidak membeda-bedakan serta memperhatikan kebutuhan sesama.
2. Hindari persahabatan yang eksklusif karena persahabatan ini betapa pun sucinya mudah ditunggangi setan. Maka bila mulai timbul kecenderungan pada seseorang melebihi yang lain, hendaknya mengendalikan diri dan tidak membiarkan diri ditaklukan oleh afeksi.
3. Kejarlah kebajikan-kebajikan dan kebaikan-kebaikan batiniah dan usahakan supaya tidak menekankan hal-hal lahiriah.
4. Selalu berjaga-jaga dan berdoa karena selain doa tidak ada jalan yang lebih baik untuk menyingkapkan tipu muslihat setan.

Suatu tanda yang jelas akan adanya kasih adalah: selalu berusaha mengurangi pekerjaan sesama dan mau melakukan sendiri dan bersyukur kepada Tuhan kalau melihat sesamanya berkembang dalam kebajikan.

2. KELEPASAN
Mengenai kelepasan, St Teresa mengatakan bahwa “kelepasan yang dipraktekkan dengan sempurna sudah mencakup segalanya”. Definisinya : kelepasan adalah merangkul sang Pencipta dan sama sekali tidak memperhatikan ciptaan. Bila kita mereangkul Sang Pencipta dan tidak lekat pada segala ciptaan, Tuhan akan menanamkan kebajikan-kebajikan. Kelepasan ini dapat kita praktekkan pada tingkat yang berbeda-beda:

a. kelepasan dari hal-hal jasmani, yaitu hal-hal yang tidak berhubungan dengan kehidupan rohani.

b. Kelepasan dari sanak saudara.

Pikiran kita tidak boleh melekat pada mereka kerena memang biasa bahwa kehendak kita lebih lekat kepada mereka daripada kepada orang lain. St. Teresa berkata: “percayalah, bahwa keluarga kita adalah yang paling lekat pada kita di dunia dan yang paling harus kita lepaskan. Yang dapat menolong adalah dengan memeluk Yesus Tuhan kita dengan tekad yang besar karena dalam Dia kita menemukan segala-galanya. Kita harus menyerahkan sanak saudara kita kepada Tuhan dan ini yang paling baik”. Dari pengalamannya ia belajar bahwa di saat kesulitan, yang membantu St. Teresa bukanlah sanak keluarganya, tetapi orang-orang lain. Tuhan akan menggerakkan mereka. Percayalah, kalau kita mengabdi Allah dengan sungguh-sungguh, Allah akan memelihara keluarga kita juga lebih baik daripada yang dapat kita usahakan sendiri.

c. Kelepasan dari diri sendiri.

Ia menulis, “Hal pertama yang harus kita perjuangkan adalah untuk melepaskan diri dari cinta akan tubuh kita karena beberapa diantara kita dari kodratnya begitu mencintai kesenangan hingga perlu banyak perjuangan di bidang ini. Para Susterku, tetapkanlah hati kalian bahwa kalian telah datang untuk mati bagi Kristus, bukan untuk hidup bersenang-senang bagi Kristus.”

3. Kerendahan Hati
“Kerendahan hati adalah aspek yang penting dalam doa dan sangat diperlukan oleh mereka yang mempraktekkan doa.” Kerendahan hati adalah kebenaran. Kerendahan hati yang sejati terutama terdiri dari kerelaan untuk menerima apapun yang ingin diperbuat Tuhan dengan mereka, dan selalu merasa apapun yang ingin diperbuat Tuhan dengan mereka, dan selalu merasa diri tidak layak disebut abdiNya. Para kontemplatif harus selalu meninggikan panji kerendahan hati dan menanggung segala pukulan yang mereka terima tanpa membalas satupun. Tugas mereka adalah untuk menderita sebagaimana Kristus telah menderita, memanggul salib lebih tinggi dan tidak melepaskannya dari tangan mereka, kendati bahaya apapun menghadang mereka. Mereka tidak boleh memperlihatkan kelemahan mereka dalam penderitaan, dan untuk inilah mereka diberi karunia-karunia yang begitu luhur. Para kontemplatif harus waspada akan apa yang mereka lakukan, karena bila mereka melepaskan panji kerendahan hati ini, mereka akan kalah.”

Disamping kebajikan-kebajikan ini, St. Teresa menekankan pentingnya ketaatan dengan mengatakan “saya dapat memastikan bahwa selama seorang gagal dalam ketaatan, ia tidak pernah akan menjadi kontemplatif, dan tidak akan pernah menjadi suster aktif yang baik, dan hal ini saya anggap sangat, sangat pasti.” Ia mengakhiri dengan berkata “Inilah kebajikan-kebajikan yang saya inginkan agar kalian miliki, inilah yang harus kalian perjuangkan untuk mana kalian hendaknya punya cemburu yang suci.”

Ia menyarankan agar berhati-hati terhadap apa yang dipikirkan dalam batin, terutama bila ini menyangkut kedudukan yang lebih tinggi. Kiranya Tuhan menjauhkan kita dari ungkapan-ungkapan:
“Saya lebih senior dari dia”
“Tapi saya lebih tua”
“Tetapi saya sudah bekerja lebih berat”
“Saudara yang lain diperlakukan lebih baik dari saya.”
“Saya berhak.”

Dan bila pikiran-pikiran ini timbul, harus segera disingkirkan sebab kalau dibiarkan, apalagi kalau diungkapkan dalam pembicaraan, akan menyebar seperti wabah dan akan menimbulkan kerugian yang besar. Penghargaan yang sia-sia terhadap kehormatan dan kekayaan dapat timbul, baik di dalam maupun diluar biara.

Justru kalau orang minta dihormati, maka dia tidak akan dihormati. Ia malah akan mendapat malu dan kerugian sekaligus.

Hendaklah masing-masing bertanya pada diri sendiri berapa banyak kerendahan hati yang dimilikinya, maka dia akan melihat kemajuan yang dicapainya. Kalau seseorang benar-benar rendah hati, maka setan tidak akan berani menggodanya untuk memperhatikan yang terkecilpun dalam soal kedudukan, karena setan takut akan serangan orang yang rendah hati. Karena seorang yang rendah hati akan selalu meninjau hidupnya, memikirkan bagaimana dia telah mengabdi Tuhan dan membandingkannya bagaimana seharusnya mengabdi Tuhan. Tuhan telah merendahkan diriNya secara luar biasa dan dengan ini memberikan teladan kerendahan hati kepada kita.

Perhatikanlah nasehat ini dan jangan dilupakan, “Janganlah hanya berjuang dalam batin, karena sangatlah merugikan kalau kita tidak mendapat manfaat dari tindakan kerendahan hati ini, tetapi berjuanglah juga secara lahiriah agar sesama dapat menarik kebaikan dari godaaan-godaan kalian, kalau mau melawan setan, dan membebaskan diri secara lebih cepat maka begitu cobaan itu datang, mintalah kepada pimpinan supaya disuruh melakukan pekerjaan-pekerjaan yang hina / lebih rendah, dan bila mungkin lakukanlah ini atas inisiatif sendiri sambil belajar melipat gandakan kemauan untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan sifat-sifat kesombongan. Dengan demikian maka godaan-godaan hanya akan bisa bertahan sebentar saja.”

Satu Tanggapan to “Dasar-dasar Doa”

  1. demoffy Says:

    o begutu ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s