Sharing Fr.Anton OCD, Fr .Hann OCD, Rm.Remi OCD

Perjalanan rohani para Karmelit yang juga merupakan proses pemurnian terus menerus dalam hidup, diumpamakan oleh St. Yohanes dari Salib sebagai perjalan mendaki Gunung Karmel, untuk memenuhi panggilan utama yaitu bersatu dengan Allah yang ada di puncak gunung. Perumpamaan gunung  digunakan karena terpengaruh pada tradisi Kitab Suci dimana tempat penampakkan Allah terjadi pada puncak gunung, dan Yesuspun menampakkan kemuliaanNya di atas puncak Gunung Tabor.

Kita semua pada awalnya berada di dataran, sedangkan Allah berada di puncak, sehingga untuk bersatu denganNya satu-satunya jalan adalah harus mendaki gunung.

Teologi pendakian ini adalah : Allah memanggil orang-orang untuk bersatu denganNya, dan Kristus sendiri memilih orang-orang secara khusus, itulah sebabnya tidak semua orang menjadi Kristen, atau menjadi Karmelit, dimana dalam perjalannya menuju kebersatuan dengan Allah orang-orang ini merasa gembira karena selalu terhibur oleh Roh Kudus.

Ada 3 syarat yang perlu diperhatikan dalam mendaki Gunung Karmel yaitu :

  1. Jangan membawa  banyak  barang supaya tidak menyulitkan pendakian. (diartikan sebagai selalu melakukan pengosongan diri, penyangkalan diri, menghayati semangat kemiskinan).
  2. Jalan terus sampai puncak, jangan pernah berhenti. Ada 3 tempat yang sering membuat pendaki ingin berhenti, namun perlu selalu melakukan dicerment atau yang diistilahkan no ti atau not this ( bukan di sini Allah berada)
  3. Bila telah tiba di puncak tetaplah di sana, selalu nikmati kesatuan dengan Allah, usahakan jangan sampai turun lagi.

 

Tiga  tempat atau tahap yang membuat pendaki tergoda berhenti mendaki bahkan kembali turun ke bawah yaitu :

Tahap 1 : Taman bunga

Awal pendakian diawali dengan rasa mencintai Allah, perasaan-perasaan yang membuat merasa seperti di taman bunga, sangat indah dan menawan sehingga membuat betah. Di tempat ini bercampur keindahan rohani dan dunia, keindahan rohani dan spiritual bercampur dengan tawaran-tawaran dunia yang mempersona. Sering pada tahap ini orang tidak menekuni kemajuan rohaninya dengan terus mendaki gunung karena akan harus menghadapi jalan mendaki dan terjal, tentunya semakin akan semaakin sulit  dan melelahkan, sehingga diperlukan keuletan dan ketekunan untuk keluar dari tahap ini agar tidak kembali ke kaki gunung mengikuti tawaran dunia.

Tahap 2. : Telaga yang menyegarkan.

Meninggalkan keindahan taman bunga, terus mendaki, akan membuat kelelahan dan haus, namun bila tekun dilakukan akan tiba pada telaga yang menyegarkan, tahap dimana ada rasa kelegaan, karena ada hasil yang didapat dari perjalanan panjang yang sudah dilalui. Namun perlu tetap ingat prinsip no ti, bukan ini tempat Allah, pendaki masih harus tetap melanjutkan, bila terlampau lama menikmati telaga ini, dia dapat tenggelam di sini. Pada tahap ini salah satunya adalah saat mulai mendapat kedudukkan yang mapan, popularitas, kemegahan dll. Di posisi ini sering muncul kecenderungan untuk enggan diutus ke bawah lagi, sikap bekorban menjadi sulit untuk muncul, penyangkalan diri menjadi sangat berat, kemudian mulai memilih-milih siapa yang menjadi teman. Semakin lama tertidur dalam keadaan enak ini dapat membahayakan karena akan menjadi lupa diri. Dalam contoh nyata yang kerap dialami oleh para frater adalah saat mereka menyelesaikan studi yang sulit dan lama sehinga sebelumnya sering merasa ingin menyerah namun melalui ketekunan akhirnya mereka dapat melalui semua itu dan dapat menjadi romo, inilah saat di mana seolah mereka menemukan telaga yang menyegarkan yaitu  mulai menerima sanjungan umat, hadiah, jamuan, pujian apalagi bila kotbahnya disukai, hal-hal seperti ini yang sering membuat romo jatuh bila ia tidak lagi ingat no ti, … amat disayangkan.

Tahap 3 : Malam Gelap

Mendaki terus meninggalkan tahap 2, memerlukan penyangkalan diri yang sungguh-sungguh, karena bukan hal-hal yang menyenangkan yang dicapai lagi namun akan menemui malam gelap, yaitu malam pemurnian. Contoh dari para kudus adalah saat mereka tetap memperjuangkan iman, namun malah  mendapat siksaan bahkan sampai harus  menjadi martir tapi mereka tetap rela menjalaninya. Banyak pengalaman pribadi yang dapat disamakan sebagai malam gelap, namun ini bukanlah titik untuk berhenti atau berbalik, cukup nikmati saja dan terus berjalan karena akan muncul pagi yang cerah. Di balik kegelapan atau penderitaan ada Allah yang telah menunggu. Sering di tempat-tempat berbahaya orang lari dan berbalik, namun ingatlah yang dikatakan Yesaya: “Di balik gunung, Tuhan telah menyediakan segala sesuatu” . Malam gelap sangat diperlukan bagi jiwa sebagai purifikasi / pemurnian. (Ibrani 12:5-7)

Pengalaman-pengalaman penyertaan Allah, merupakan puncak gunung tempat menjadi satu dengan Allah, janganlah berpaling dari pengalaman-pengalaman bersatu denganNya, karena di puncak inilah cinta pada Allah dan sesama semakin menjadi murni dan matang.

Perjalanan mendaki Gunung Karmel, merupakan lukisan pengalaman perjalanan rohani St Yohanes dari salib, gambaran keadaan jiwa yang semakin ingin dimurnikan. Tentu saja perjalanan ini bukan perjalanan liniar, mungkin suatu pengalaman dapat saja membuat langsung tiba di puncak, kemudian  dapat pula kembali  jatuh ke bawah.

Gambaran perjalan rohani St Yohanes Salib membantu kita melihat disposisi batin kita namun yang terpenting dan menjadi urusan kita adalah tetap terus berjuang, urusan sampai di mana kita tiba, biarlah terserah pada Allah. Bila mungkin  ada masanya tenggelam, apakah mau kembali bangkit atau tetap tenggelam, gambaran mendaki Gunung Karmel membawa harapan untuk kita tetap berjuang. Hal yang tersulit dalam pendakian  adalah melalui rintangan mengalahkan diri sendiri, seperti simbol Petrus yang pelaut ulung, ketika berjalan di laut menjadi takut dengan laut sehingga ia tenggelam, sehingga untuk mengalahkan diri sendiri kita perlu menata prioritas dan niat kita.

5 Tanggapan to “Mendaki Gunung Karmel”

  1. joyce tombokan Says:

    kyrie eleison…

  2. clarinah Says:

    wah, tampak sulit dan mustahil untuk dijalani, tapi semuanya karena RAHMAT!!!!


  3. karena cintaNya hatiku merindukan Tuhan. jiwaku telah menemukan harapan. Dengan rendah hati aku lalui karyaku dengan cinta, biar bahagia di dunia, bahagia bersama Tuhan di surga. Aku persembahkan diriku untuk Tuhan dan sesama. Karena Dia yang memulai mencintai aku.

  4. Harso Laksono (Nuning Witono) Says:

    Demikisnlah adanya n jgn lupa bshwa pengalaman sgt khas, identik, unik tp tetap satu benang mersh krn Roh Kudus hny satu jg Penebus hny Kristud Yesus

  5. Yos Hartono Effendi Says:

    Sangat mencerahkan. Habis gelap terbitlah terang. Ya Tuhan, kuatkan saya mengalahkan diri saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s