4265_103368088708_100086358708_2716044_5766957_n

Dari catatan harian Maria

Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengkilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas di langit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.

Pada suatu hari, sorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.

Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh cinta kepada burung lain. Dan ia merasa sungguh iri, mengapa dia tak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.

Dan dia merasa kesepian.

Lalu dia berpikir: “Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi.”

Si burung yang ternyata juga jatuh cinta pada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk ke dalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.

Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-hentinya memuji: “Kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan.” Namun kini telah terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengkilat berubah kusam, dan makhluk yang penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.

Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu, dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.

Seandainya dia bisa bercermin pada kalbunya yang paling dalam, dia insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.

Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang Maut menjemputnya. “Mengapa kau datang kemari?” Tanya perempuan itu. “Kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit,” jawab Maut. “Kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya.”

11 minutes

4 Tanggapan to “Cuplik dari Eleven Minutes (Paulo Coelho)”

  1. Maryam Says:

    Mencintai tidak identik dengan memiliki dan menguasai. Melihat orang yang kita cintai merasa gembira dan bahagia, sudah merupakan wujud dari cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, bila engkau sungguh-sungguh mencintai seseorang, berikanlah kebebasan bagi orang itu untuk menggapai cita-cita, dan mengembangkan potensinya. Bila engkau menahannya, maka kisah burung yang merana dan mati, akan menjadi kenyataan.

  2. An Says:

    Paulo Coelho adalah penulis yang senantiasa bercerita tentang perjalanan serta gejolak pikiran dan jiwa yg mencari keintegralan. Berangkat dari pengalaman panjang kehidupannya sendiri yang pernah mengalami berbagai disposisi batin bahkan hingga mengalami “gangguan jiwa” membuatnya menemukan sedikit cahaya yg menerangi pencariannya. Akhirnya apa yang dia dapatkan, dia tuturkan dalam bentuk novel yang padat pesan2rohani. Untuk itu, rupanya perlu juga membacanya lebih dari sekedar buku hiburan semata.

    Dalam “Eleven Minutes” dia berkisah tentang Maria seorang pelacur yang berkebiasaan menuliskan perasaan juga refleksi batin dalam sebuah buku.

    Setiap orang bebas mempersepsikan sebuah bacaan. Bagi saya tokoh Maria mewakili jiwa yang berusaha memurnikan diri dari ego yg tak teratur nan terbalut topeng berbentuk sebentuk cinta yang indah, di mana dilambangkan sebagai burung.

    Acapkali jiwa kehilangan momen2 untuk selalu mampu menikmati Kasih Allah yang tak berkesudahan, berlimpah ruah tak terbatas, karena ruang batin telah berubah menjadi sangkar ego sempit dari ketamakkan kehendak untuk menyimpan suatu Karunia Allah baik berbentuk kenangan indah/buruk, harta dalam arti batiniah maupun jasmaniah, atau dalam rupa para kekasih seperti anak, pasangan, sahabat dll maupun bentuk2 lain yang dimaknai sebagai milik yang harus dipertahankan.

    Hal2 yang awalnya membawa kegembiraan mungkin menjadi kebanggaan pribadi, akhirnya akan menemui titik balik, berubah menjadi “burung mati” akibat sesak dalam ruang berpintu terkunci seperti layaknya sangkar burung. Kesedihan Maria akibat kematian burungnya, saya maknai sebagai kegelisahan jiwa karena luka akibat sentimentil, ketakutan akan kehilangan kuasa merawat dan menikmati Karunia Allah, atau wajah lain dari kegelisahan akibat ketamakan ego atau cinta diri.

    Maut yang menjelang Maria agar dapat kembali bersatu dengan burung pujaannya, terlihat sebagai karunia Kasih berupa campur tangan yang “Berkuasa atas Hidup” mengulurkan tanganNya bagi siapa yang hampa dan sepi makna. Campur tangan yang menyatukan kembali Maria dengan ego sejatinya. Ego sejatinya yaitu AKU adalah aku tanpa topeng apapun sebagai pribadi unik, yang siap menerima datang dan perginya segala macam jenis burung sebagai tanda penyertaan Allah dalam perziarahan di dunia.

  3. erna Says:

    Saya sudah baca bukunya.. BAGUS.

    jika mau bebas ya… jadilah budak cinta…..

  4. Tina Says:

    Saya sudah membaca bukunya dua kali…
    Maria ingin mengenggam Cintanya…sangat manusiawi….
    Tetapi kehilangan keindahannya adalah kepedihan…keegoisan akan menghilangkan ke agungan cinta…merelakannya terbang bebas adalah kebahagiaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s