Di mana-mana orang mencari cinta, karena setiap orang yakin, cinta dapat menyelamatkan dunia, menjadikan hidup bermakna dan berharga. Namun, betapa sedikit orang yang memahami apa makna cinta sesungguhnya dan bagaimana cinta tumbuh dalam hati manusia.

Sering kali cinta disamakan dengan sikap baik, murah hati, antikekerasan, atau pelayanan. Padahal, itu semua bukan cinta. Cinta bersumber dari kesadaran. Hanya bila Anda melihat seseorang sebagaimana adanya sekarang – bukan sebagaimana dalam ingatan, keinginan, bayangan, atau perkiraan Anda – Anda dapat sungguh-sungguh mencintainya. Sebab, bisa saja bukan sosok pribadi yang Anda cintai, melainkan gagasan Anda mengenai dia. Anda mencintainya sebagai objek keinginan Anda, bukan dia apa adanya.

Karena itu, unsur pertama dalam cinta adalah melihat pribadi, objek, atau realitas sebagaimana adanya. Tindakan ini membutuhkan disiplin keras dengan melepaskan segala keinginan, prasangka, ingatan, proyeksi, dan cara pandang yang serba pilih-pilih. Begitu kerasnya disiplin yang dituntut, sehingga kebanyakan orang lebih suka langsung bergiat dalam pelayanan atau perbuatan baik lainnya, daripada bersusah payah melakukan jalan mati raga yang panjang dan menyakitkan ini. Periksalah, ketika Anda bermaksud melayani seseorang yang belum pernah Anda kenal, kebutuhan orang itu atau kebutuhan Anda sendiri yang dipenuhi?

Unsur kedua, yang sama pentingnya, adalah melihat diri sendiri. Sadarilah dan periksalah kembali semua motivasi, emosi, kebutuhan, ketidakjujuran, egoisme, serta kecenderungan Anda untuk menguasai dan mengelabui. Sadarilah semua itu menurut apa adanya, tidak jadi soal betapa pun pedihnya penyingkapan dan konsekuensi itu.

Bila Anda mampu menyadari orang lain dan diri sendiri, Anda akan mengetahui makna cinta. Anda akan sampai pada budi dan nurani yang waspada, awas, bening, dan peka. Anda akan memiliki persepsi yang jernih dan kepekaan sedemikian rupa yang membuat Anda mampu menanggapi setiap situasi secara tepat.

Pada saat tertentu Anda akan terdorong untuk bertindak, namun di saat lain Anda menahan diri dan diam. Kadang Anda mengabaikan orang lain, kadang memberikan perhatian yang mereka butuhkan. Kadang Anda lemah-lembut dan mengalah, di waktu lain tanpa kompromi dan tegas.

Cinta yang lahir dari kepekaan mempunyai bentuk yang tidak bisa diperkirakan, karena ia menanggapi realitas konkret yang ada sekarang, bukan prinsip-prinsip dan garis-garis pedoman yang telah ditetapkan. Saat pertama kali mengalami kepekaan semacam ini, Anda mengalami semacam perasaan takut, karena seluruh pertahanan diri Anda diruntuhkan, ketidakjujuran Anda diungkapkan, dan benteng perlindungan Anda dilebur.

Bayangkan rasa takut yang melanda orang kaya saat melihat kondisi kaum miskin, rasa takut diktator saat melihat keadaan orang-orang yang ditindasnya, rasa takut orang fanatik ketika melihat keyakinannya keliru dan tidak sesuai dengan fakta, rasa takut pencinta romantis ketika melihat yang dicintai ternyata bukan kekasihnya melainkan gambarannya mengenai kekasihnya. Itulah sebabnya, melihat disebut tindakan yang paling menyakitkan dan paling menakutkan yang dapat dilakukan manusia. Namun, dalam tindakan itulah cinta lahir, atau lebih tepatnya, tindakan melihat adalah cinta.

Setelah Anda mampu melihat, kepekaan akan menuntun Anda pada kesadaran – tidak hanya atas hal-hal yang Anda pilih, melainkan juga atas segala sesuatu. Ego Anda menjadi tanpa pertahanan, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat bergantung. Ego Anda akan berusaha sekuat tenaga menumpulkan kepekaan itu.

Kalau Anda membiarkan diri melihat, itu akan menjadi kematian Anda. Itulah sebabnya, cinta begitu menakutkan. Mencinta adalah melihat, dan melihat adalah mematikan. Meskipun begitu, cinta juga merupakan pengalaman paling menyenangkan dan melegakan, karena dengan kematian ego muncullah kebebasan, kedamaian, ketenangan, dan kegembiraan.

Bila memang cinta yang sesungguhnya yang Anda inginkan, mulailah melihat. Lihatlah orang yang tidak Anda sukai, lihatlah sungguh-sungguh prasangka Anda. Lihatlah orang atau hal yang membuat Anda terikat. Lihatlah sungguh-sungguh penderitaan, kesia-siaan, dan ketidakbebasan akibat kelekatan itu. Lihatlah wajah-wajah dan perilaku-perilaku manusia dengan saksama dan penuh kasih sayang.

Pandanglah alam, burung di udara, bunga mekar, dedaunan kering, sungai yang mengalir, terbitnya bulan, gunung yang menjulang. Begitu Anda melakukannya, lapisan keras yang melindungi hati Anda akan melunak dan melebur. Hati Anda akan menjadi peka dan tanggap. Kegelapan di mata Anda akan hilang. Pandangan mata Anda akan menjadi jelas dan tajam. Akhirnya, Anda akan tahu makna cinta.

(Dari: Buku Dipanggil untuk Mencinta – Kumpulan Renungan, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1997)