Bagi para misionaris berkarya di pedalaman merupakan suatu berkat dan rahmat. Hanya karena berkat dan rahmat Allah seorang misionaris akan mampu bertahan di hutan belantara. Karena bekerja di pedalaman seseorang harus benar-benar berani berkorban. Di sana tak akan ditemukan pujian, sanjungan dan penghargaan. Seorang misionaris harus melakukan segalanya dengan tulus dan jujur. Dengan kata lain sebagai misionaris seperti di daerah Asmat, ia harus berani telanjang bulat. Ini bukan berarti seorang misionaris harus pakai koteka. Bukan. Tetapi sebagai misionaris, tidak boleh mencari penghargaan, hadiah, pujian dan sebagainya. Umat di Asmat jarang akan memuji dan tidak biasa memuji. Kalau mereka diberi sesuatu jarang sekali mereka mengucapkan terimakasih.

Karena mereka tak mengenal kata terimakasih. Pada suatu hari saya bertanya kepada seorang kategis asli Asmat,”Kenapa orang-orang di sini kalau diberi tidak pernah mengucapkan terimakasih?” Kategis tersebut menjawab,”Pater, kami selalu berpikir, kalau pater atau seseorang memberi sesuatu itu kan sudah ikhlas. Maka kami tak perlu mengucapkan terimakasih.” Aku pikir jawaban kategis tersebut sangat benar. Ternyata dalam kesederhanaan, mereka memiliki filosofi hidup yang mendalam. Saya belajar apa artinya memberi yang sejati. Memberi tanpa pamrih, tidak menuntut balasan atau ucapan terimakasih.

Walaupun bagi suku tertentu, budaya tertentu kalau menerima sesuatu tidak mengucapkan terimakasih dianggap tidak sopan. Tetapi memang seharusnya demikian, kalau kita memberi dengan tulus tak perlu mengharapkan balasan. Memberi adalah memberi. Memberi tanpa menuntut balasan membuat orang yang menerima bahagia dan yang memberipun akan akan bahagia.
“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Demikian juga Papua pasti berbeda dengan Jawa, Sumatra dan sebagainya. Masyarakat di sana sangat dipengaruhi alam sekitarnya. Dan mereka hanya mengenal apa yang ada di sekitar mereka. Tentang binatang saja, sangat terbatas yang mereka kenal. Ikan, buaya, babi, ayam hutan, burung nuri sangat akrab dengan mereka. Karena begitu akrabnya tak aneh kalau seorang ibu rela dan merasa bahagia menyusui anak babi. Umat di Asmat tak kenal apa itu kambing apalagi sapi. Jadi dunia mereka masih sangat terbatas. Maka tidaklah mudah memberitahukan binatang yang tidak mereka kenal.

Hidup adalah kesempatan untuk belajar, melayani dan mencintai. Pada awalnya, melayani dan mencintai itu seperti mengorbankan sesuatu bagi orang lain. Tetapi ketika mencintai dan melayani itu dilakukan terus menerus setiap hari, penuh ketulusan, maka perasaan berkorban itu hilang, yang muncul hanyalah senyuman yang membahagiakan.

Ada seorang misionaris dari Belanda bernama Johas. Ia bekerja di Paroki Senggo. Paroki ini sangat pedalaman. Pastor ini sangat mencintai umatnya dan selalu berusaha mengajari umatnya berbagai macam hal. Pelayanannya tidak diragukan. Pada suatu hari ia pergi ke Paroki Basyim, di pantai Kaswari. Di Paroki ini pastornya memelihara kambing. Ketika melihat kambing-kambing yang dapat dikembangbiakkan, maka pastor Johas berminat untuk membawa beberapa ekor ke Senggo. Kendati jauh dan sulit membawanya, Johas membawa beberapa ekor kambing ke Senggo. Tujuannya hanya satu supaya umat belajar mengenal dan belajar beternak kambing.

Jarak Basyim – Senggo adalah dua hari perjalanan memakai mapiboat. Perjalanan ditempuh lewat laut dan sungai. Agar kambing-kambing tersebut tidak terlalu kecapekan, dan pastornya juga tidak lelah, maka ia menginap di paroki Yaosakor. Seperti biasa kalau ada mapiboat merapat di pastoran orang kampung lari semua menuju ke tempat di mana mapiboat berlabuh. Setelah mapiboat merapat orang-orang heran melihat binatang “aneh”. Dengan penuh semangat Johas memanggil orang-orang yang berkumpul di jembatan, Ia berteriak, “Hai, anak-anak yang besar tolong bantu pater mengangkat kambing-kambing ini.” Mereka diam tidak bereaksi sama sekali bahkan malah mereka menjauh. Johas heran sekali. Biasanya kalau dimintai tolong mereka cepat membantu, kenapa mereka kini malah pergi. Sekali lagi Johas berteriak,”Sini, tolonglah saya nanti saya beri permen.” Tetapi mereka semakin menjauh. Masih ada seorang pemuda yang berdiri di jembatan, lalu Johas bertanya,”Kenapa orang-orang pergi tidak mau menolong saya.” Sang pemuda dengan tenang menjawab,” Pater, mereka takut sekali. Anjing kecil saja kalau menggigit sakit sekali, apalagi ini binatang begitu besar. Sekali menggigit pasti langsung mati kami” Pastor Johas hanya tersenyum.
Mendengar cerita Johas, akhirnya kami di pastoran tertawa semua. Kami menemukan kegembiraan bukan karena menonton sebuah film yang lucu, karena memang tak ada gedung bioskop di sana. Kami bahagia karena menyaksikan kepolosan dan kejujuran umat yang kami layani. Saya bayangkan bagaimana kalau mereka melihat sapi, bisa jadi mereka serangan jantung.

Namun pada saat itu tidak hanya bibir kami yang tersenyum, seluruh semesta alam terlihat tersenyum. Sungai yang depan rumah kami tersenyum, hutan belantara, burung-burung bahkan rumput-rumput pun tersenyum, bahkan langit biru bersorak sorai. Melayani dengan tulus hati kami menemukan senyuman di mana-mana. Kami bisa tertawa karena hal-hal yang sederhana, tetapi menyehatkan jiwa.
Inilah kehidupan yang jendela-jendelanya sudah terbuka. Pada saat seperti itu tidak ada lagi keluh kesah, kecewa karena bertugas di daerah terpencil. Semuanya hanyalah putaran waktu yang melukis keindahan, mewarnai kehidupan. Seperti sungai yang mengalir dengan tenangnya menuju samodera, demikian juga memberi, melayani, mencintai dan berbagi dengan tulus ikhlas, akan semakin menguatkan otot-otot rohani kita. (Pst. Agustinus Sudarno, OSC)