Pasio Yesus yang selalu dikenang setiap Jumat Agung, sering membawa kita dalam suasana haru biru, terbawa romantisme sendu serta rasa iba pada seorang pribadi yang mau mengorbankan diri sampai sebegitunya untuk kita. Rasa haru itu sering berhenti di fanatisme pembelaan pada orang yang tersakiti apa lagi yang berkorban untuk kita, sedang maksud keseluruhan dibalik ketaatan Yesus pada Bapa umumnya hanya samar-samar tertangkap. Ketaatan Yesus tidaklah sekedar harus taat, namun cinta Yesus yang begitu kentara pada Bapa yang Ia tahu mencintaNya ( Mrk 1:11, Engkaulah anakKu yang Kukasihi) yang menggerakkanNya mau mewartakan kabar gembira, yaitu kabar bahwa Allah mencintai manusia, meskipun apapun konsekuensinya, sekalipun harus mati disalib sesuai dengan hukum yang berlaku dijaman itu bagi penjahat atau orang yang tidak sepaham dengan penguasa. Hal keteladanan ini yang sering terlupakan dalam merenungi Pasio Yesus, bahwa sesungguhnya saat mata hanya memandang pada Kasih Allah, akan banyak rintangan dan salib-salib dapat kita panggul dengan rasa syukur.

Acapkali pergumulan, rutinitas, dan gaya hidup, membentuk sebuah penghalang dimana mata kita tidak lagi setiap saat memandang Kasih Allah, bahkan Kisah sengsara Yesuspun secara tidak disadari menjauhkan kita dari misiNya yang ingin menyibak segala peghalang itu. Adakalanya penderitaan kita yang diwakili oleh penderitaan Yesus tampak bagai sebuah skenario yang dirancang oleh Bapa, benarkah ? Coba simak sebentar cerita di bawah ini.

Ada seorang ibu janda hidup bersama dua orang anak, seorang putri bernama Cilla, dan adiknya seorang putra berama Louis. Sebenarnya Cilla bukanlah anak kandungnya tapi putri yang dibawa almarhum suaminya dari pernikahan sebelumnya. Walaupun Cilla bukan putri kandungnya, ibu ini amat menyayanginya sama seperti sayangnya pada Luois. Entah setan dari mana,Cilla tidak pernah merasa dicintai, ia lebih mendengar hasutan kalau ibunya mempunyai maksud lain dibalik kebaikkannya itu, ibu dikiranya hanya ingin dipuji orang, dan ingin memanfaatkannya saat menjadi jompo kelak. Terasuki pikiran demikian Cilla bertingkah seenaknya, kelakuannya sangat bebas, kasar, tidak mau dinasehati hingga suatu hari ia kabur dari rumah dengan membawa perhiasan ibunya yang sebenarnya disimpan untuknya juga nanti. Kehilangan anak yang menyusahkan itu tetap saja membuat khawatir dan sedih keluarga. Ibu berusaha mencarinya tanpa henti walau tahun berganti tahun, Begitupun dengan Louis, ia sangat kehilangan kakak terkasihnya, sempat beberapa lama terpaksa tidak ke sekolah karena mencari Cilla. Suatu malam Ibu tsb mendapat telpon dari seorang wanita yang tidak dikenal, suaranya sangat kasar dan tidak sopan, katanya : “ternyata benar seperti yang ku kira, engkau memang tidak pernah sungguh-sungguh menyayangiku, suarakupun tidak lagi kau kenal, aku ingin pulang, cepat jemput ya, aku lelah sekali,” Mendengar putri yang dirindukan akan pulang, ibu sangat bahagia walaupun ia tahu Cilla masih belum berubah, cepat2 dimintanya Louis untuk menjemput. Segera Louis berangkat dengan gembira dan bersemangat karena sebentar akan bertemu Cilla kakak tersayangnya. Lama ibu menanti kedua anaknya tiba, namun yang datang malah seorang polisi yang mengabarkan keberadaan anak-anaknya di Rumah Sakit kecil di sebuah dusun terpencil. Betapa hancur hati ibu menyaksikan kedua orang yang sangat dicintainya tergelapar sekarat, namun menurut dokter ternyata masih ada harapan bila mereka segera dapat tranfusi darah. Sayang sekali persedian darah habis, tapi untunglah darah ibu cocok dengan Louis, dan ternyata Cillapun mempunyai golongan yang sama. Ibu harus cepat mengambil keputusan pada siapa darah ini harus diberikan. Ibu mengenal benar kebaikan hati Louis, ibu tahu bila darahnya diberikan pada Cilla, Louis akan meninggal, namun ia akan meninggal dengan indah karena Bapa disurga akan segera menyambutnya, sedangkan sebaliknya bila Cilla yang meninggal, betapa mengerikannya, ia akan pergi dalam keadaan dosa berat. Ibu mengambil keputusan, dibisikkannya keputusan itu pada Louis, betapa hancur hati Louis, ia ingin berteriak, ibu .. aku ingin hidup .. tapi anak yang baik ini sadar akan maksud ibunya, ia mengenal hati ibunya yang benar-benar mencintainya sehingga melalui sorot matanya, ia berkata, apapun yang ibu inginkan , itu yang ku inginkan juga. Lewat peristiwa ini akhirnya Cilla menyadari betapa benar kalau ibunya sangat mencintainya, seakan ia mendapat kesempatan untuk dilahirkan kembali untuk menjadi seorang baik.

Tidakkah kisah ibu ini mengingatkan kita pada peran Kasih Bapa dalam peristiwa Jumat Agung ? Tidakkah pengorbanan Yesus membawa kita pada Kasih Bapa yang teramat sabar, yang selalu ingin menyelamatkan ? Menyadari bahwa kita dicintai, dimana ada selalu Mata Kasih Allah yang tak pernah berkedip memandangi kita, akan membuat kita menjadi seorang “anak yang baik,” karena dalam setiap yang dikerjakan akan melihat jejak-jejak Allah di dalamnya. Kita tidak akan sanggup dengan sengaja berbuat dosa, hati akan menjadi peka akan hal yang tidak benar, karena bila itu tetap dilakukan kita akan merasa seperti sedang mencuri di rumah orang, disaksikan pemiliknya. Penderitaan tidak lagi menjadi salib yang menghimpit, tapi kesempatan untuk semakin murni dalam Kasih dan Harapan.

Memandang dan menyadari dipandang Allah disebut dengan Kontemplasi dan kesadaran kontemplatif. Kontemplasi berasal dari kata contemplare yang artinya memandang, kata itu berasal dari dua kata Latin yaitu : cum = bersama dan templum = Bait Allah, sehingga kontemplasi mengandung pengertian di dalam Bait Allah yaitu tubuh kita, kita ada bersama Allah saling memandang.

Membiasakan diri memberikan waktu hening yang cukup (20-30 menit) seperti yang Yesus lakukan di taman Getsemani, setiap hari pada waktu dan tempat yang tetap secara kontinu, untuk hanya menyadari kehadiran Allah yang ada di dalam diri kita tanpa memikirkan dan memohon apapun, akan sangat membantu melewati hari dalam kesadaran kontemplatif dan suasana kontemplasi ditengah hiruk pikuk dan kesibukan yang harus dilewati, atau dapat dilukiskan seperti kata Iwan Fals dalam lagu “Kemesraan”: “Jiwaku Tentram bersamaMu”

Sungguh akan menjadi idial, bila peristiwa pengorbanan Yesus di salib, tidak hanya berhenti pada eforia paskah, tapi menjadikan kita sungguh kontemplatif ditengah dunia yang ramai, selalu menyadari Allah memandang kita dengan mata kasihNya, juga disetiap apapun, kita melihat ada Dia yang mengasihi kita disana. Maka dalam perjiarahan hidup yang kadang penuh salib, kita dapat berkata, seperti Yesus berkata dalam sekaratul mautNya : “Bukan Kehendaku tapi kehendakMulah yang terjadi,” Jalan Salib telah membuka jalan bagi terjadinya Paskah, di balik salib, selalu ada harapan dan sukacita

(AN.W)