Mei 2009


 

Anflipflop-vi

Aya kukituna eta jalma.

Memangna kunao kitu.

Lain asa ku teu boga pikiran pisan.

Enya, kunaon kitu.

Eta aya sendal ditincakan…karunya pisan sendalna panaseun ku aspal.

sandal-jepit

Iklan

Berbahagialah mereka yang selalu mencari mutiara
dalam lumpur-lumpur duka
surga kaumiliki.

Adakalanya hidup ini terlalu mulia untuk hanya dibatasi dalam kata.
Tapi kata merupakan anugerah yang telah menjadi bahasa semesta.
Walau ada kasih Bapa yang tak tertampung kata
Tapi setidaknya kata bisa menjadi peristiwa bahasa yang mempertemukan diri dengan pemiliknya.
Terima kasih Bapa.
Atas keluasan dan keindahan hidup ini.
Kirimkanlah rahmat dan berkat melimpah ke Pdl sana.
Ah, seandainya ada sarana untuk mengungkap keluasan kasih dan berkatMu.
Engkau tahu, Bapa

Itu tubuh mengucur darah
darah
darah

merah
kasih Allah menyala
membasuh setiap jiwa yang terluka

Selamat memasuki Pekan Suci.

1/4/07

MOM, I’m here …

When you were 1 year old,she fed you and
bathed you.
You thanked her by crying all night long.

When you were 2 years old, she taught you to
walk.
You thanked her by running away when she called.

When you were 3 years old, she made all your
meals with love.
You thanked her by tossing your plate on the floor.

When you were 4 years old, she gave you
some crayons.
You thanked her by coloring the dining room table.

When you were 5 years old, she dressed you
for the holidays.
You thanked her by plopping into the nearest
pile of mud.

When you were 6 years old, she walked you to school.
You thanked her by screaming, “I’M NOT GOING!”

When you were 7 years old, she bought you a baseball.
You thanked her by throwing it through the next-door-neighbor’s window.

When you were 8 years old, she handed you an ice cream.
You thanked her by dripping it all over your lap.

When you were 9 years old, she paid for
piano lessons.
You thanked her by never even bothering to practice.

When you were 10 years old she drove you all day,
from soccer to gymnastic to one birthday party after another.
You thanked her by jumping out of the car and never looking back.

When you were 11 years old, she took you and your
friends to the movies.
You thanked her by asking to sit in a different row.

When you were 12 years old, she warned you not to
watch certain TV shows.
You thanked her by waiting until she left the house.

When you were 13, she suggested a haircut that was becoming.
You thanked her by telling her she had not taste.

When you were 14, she paid for a month away at summer camp.
You thanked her by forgetting to write a single letter.

When you were 15, she came home from work, looking for a hug.
You thanked her by having your bedroom door locked.

When you were 16, she taught you how to drive her car.
You thanked her by taking it every chance you could.

When you were 17, she was expecting an important call.
You thanked her by being on the phone all night.

When you were 18, she cried at your high school graduation.
You thanked her by staying out partying until dawn.

When you were 19, she paid for your college intuition,
drove you to campus carried your bags.
You thanked her by saying good-bye outside the door
so you wouldn’t be embarrassed in front of your friends.

When you were 20, she asked whether you were
seeing anyone.
You thanked her by saying, “It’s none of your business.”

When you were 21, she suggested certain careers for
your future.
You thanked her by saying, “I don’t want to be like you.”

When you were 22, she hugged you at your college graduation.
You thanked her by asking whether she could pay for a trip to Europe.

When you were 23, she gave you furniture for your first apartment.
You thanked her by telling your friends it was ugly.

When you were 24, she met your fianc and asked about your plans for the future.
You thanked her by glaring and growling, “Muuhh-ther, please!”

When you were 25, she helped to pay for your wedding, and she cried
and told you how deeply she loved you. You thanked her by moving
halfway across the country.

When you were 30, she called with some advice on the baby.
You thanked her by telling her, “Things are different now.”

When you were 40, she called to remind you of a relative’s birthday.
You thanked her by saying you were “really busy right now.”

When you were 50, she fell ill and needed you to take care of her.
You thanked her by reading about the burden parents become to their children.

And then, one day, she quietly died. And everything you never did came crashing
down like thunder on YOUR HEART.

GEMBALA KAMBING

Suatu hari, Ceuceu seorang mahasiswa peternakan
berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Ceuceu bertanya dengan takjub, 
Ceuceu : “Pak, boleh nanya nih?”
Gembala: “Boleh”

Ceuceu : “Kambing-kambing bapak sehat sekali, bapak
kasih makan apa?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput
basah”
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Ceuceu : “Hmmm….kambing- kambing ini, kuat jalan
berapa kilo pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, 4 km sehari” 
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Si Ceuceu mulai gondok…… ..
Ceuceu : “Kambing ini, menghasilkan banyak bulu
pertahunnya ya, pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : (dengan kesalnya) “Yang hitam dulu deh….”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, banyak…… 10 kg/th”
Ceuceu: “Kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Si Ceuceu mulai kesal: “BAPAK INI KENAPA SIH SELALU
NGEBEDAIN KAMBING JADI 2,PADAHAL JAWABANNYA SAMA AJA
?!!!!!!!!!!? ”
Gembala: “Oh, gini dik, soalnya yang hitam itu, punya
saya……”
Ceuceu : “Oh begitu pak, maafin saya kalo gitu,
habisnya saya emosi.
Kalo yang putih punya siapa, pak??”
Gembala: “Yang putih juga!!!!”

 

Wawancara dengan Tuhan
“Selamat pagi, ya Tuhanku,” aku berseru kepada Tuhan seraya mengetuk pintu dalam doa.
“Silakan masuk,” sambut Tuhan.
“Jadi kamu ingin mewawancari Aku?” lanjutNya.
“Kalau Tuhan ada waktu,” sahutku.
Sambil tersenyum Tuhan berkata:
“Abadilah waktu bagiKu. Maka Aku ada cukup waktu untuk melakukan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan apa yang hendak kauajukan kepadaKu?”
Lalu aku mulai bertanya:
“Apa yang paling mengejutkan Tuhan mengenai bangsa manusia?”
Tuhan menjawab:
“Yang paling mengherankan Aku mengenai bangsa manusia adalah mereka mudah bosan sebagai anak-anak dan mau cepat-cepat menjadi orang dewasa dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka merusak kesehatannya dengan mengejar uang dan menghabiskan uang itu untuk pengobatan. Mereka terlalu cemas tentang masa depannya dan melalaikan masa kini sehingga mereka tidak dapat menikmati dengan baik masa sekarang maupun masa depannya. Mereka menjalankan hidup seolah-olah tidak akan mati, tetapi mati seakan-akan tidak pernah hidup.”

Setelah itu tangan Tuhan memegang tanganku, lalu kami berdiam sejenak.
Kemudian aku bertanya kepada Tuhan:
“Pelajaran apa saja yang pantas kami pelajari? Dan selaku Bapa, Tuhan menghendaki apa yang harus dipelajari anak-anakMu?”

Tuhan menjawab:
“Mereka perlu belajar supaya apa yang paling utama dalam hidup, bukanlah apa yang mereka miliki, melainkan siapa yang mereka punya dalam hidupnya. Mereka harus belajar bahwa tidak baik untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain sebab semua orang akan diadili menurut nilai pribadinya, bukan sebagai kelompok perbandingannya. Mereka harus belajar bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, melainkan orang yang punya secukupnya untuk kebutuhannya.”

“Mereka harus belajar bahwa waktu berapa menit saja perlu untuk menyakiti dan melukai hati orang yang mereka cintai padahal mungkin perlu bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.”

“Mereka perlu belajar untuk memaafkan dan mengampuni bahwa sesungguhnya ada banyak orang yang amat mencintai mereka, namun saja tidak tahu bagaimana caranya untuk menyatakan itu dan mengekspresikan perasaannya.”

“Mereka perlu belajar bahwa meskipun uang dianggap bisa membeli segalanya, namun tidak dapat membeli kebahagiaan.”

“Mereka harus belajar bahwa teman yang baik adalah orang yang mengetahui semua termasuk kekurangan-kekurangan mereka, tetapi tetap menyukainya.”

“Akhirnya, mereka harus belajar bahwa tidak cukup mereka menerima pengampunan dari orang lain, melainkan mereka harus mengampuni diri sendiri.”

Setelah itu Tuhan berhenti berbicara, aku pun duduk diam sebentar di situ sambil menikmati saatnya. Lalu aku menyampaikan terima kasih kepada Tuhan atas pertemuan yang indah itu dan juga atas segala berkat yang telah kuperoleh dari Tuhan.

Kemudian Tuhan berkata:
“AnakKu, kamu boleh datang untuk wawancara denga Aku kapan saja karena Aku tetap siap 24 jam. Tanya apa saja dan Aku akan menjawab. Hanya harus kauingat ini: Orang-orang akan melupakan apa yang kamu katakan atau apa yang kamu perbuat, tetapi mereka tidak akan melupakan apa yang kamu lakukan kepadanya untuk membahagiakan mereka.”

Setelah itu, aku pulang dengan bahagia.

Laman Berikutnya »