Sikap doa                                             Mark Link

 

Petualangan

Berkelana naik kuda punya keindahan istimewa, tapi untuk beroleh harmoni dengan semesta bertualang tiada bandingnya. Sekali engkau siap berangkat semua bekal kauangkat pada waktu yang sama kaulihat lekuk-liku bukit batu, pohon-pohon dan kehidupan alam yang mungkin pengembara berkuda tak dapat menikmatinya…

Apakah pengalaman begini menarik hati penyair ataukah si penyair yang mencari aku tidak mengerti. Kenyataannya, banyak penyair dewasa ini pergi meninggalkan hiruk-pikuknya kehidupan kota menyusuri alur-alur bukit bebatuan atau mengikuti jejak-jejak kaki binatang melintasi pegunungan.

 

Tempat untuk berdoa

Ada sesuatu di luar rumah yang menarik perhatian bukan hanya bagi penyair, tetapi juga para pendoa. Salah seorang guru doa terbesar rupanya lebih suka tempat yang terbuka untuk meditasi pribadinya. Dalam injil kita baca: Yesus pergi ke bukit untuk berdoa (Luk. 6; 12). Yesus pergi ke tempat yang sunyi, di sana Ia berdoa (Mrk. 1; 35). Tetapi Yesus juga menganjurkan berdoa sendiri dalam bilikmu yang tersembunyi: Pergilah ke dalam bilikmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang tak kelihatan. (Mat. 6: 6).

Origenes menasehati umat Kristen pada abad kedua: “Setiap tempat dapat cocok untuk berdoa.. Tetapi bila kita ingin berdoa tanpa terganggu, sebaiknya mencari tempat istimewa dalam rumahmu – katakanlah, tempat yang dikuduskan – dan berdoalah di situ.

Dalam beberapa hal tempat doa pribadi lebih menguntungkan. Mungkin, engkau ingin berdoa sambil tiduran atau selama berdoa, mungkin engkau merasa tersentuh hati lantas mengangkat tangan tinggi-tinggi. Mungkin pula engkau ingin mendesah, mengeluh, menangis ataupun bicara keras-keras dalam doamu. Di tempat terbuka, engkau akan ragu dan merasa malu. Doamu menjadi kurang bebas dan spontan.”

Tempat-tempat yang cocok untuk berdoa bagi orang Kristen dewasa ini misalnya:

Bangku barisan belakang dalam gereja atau kapela, ranjangmu sendiri, kamar khusus di dalam rumahmu, tempat sunyi di sudut halaman atau taman.

Yang terpenting mengenai tempat doa, tempat itu dapat menolong kita untuk berdoa lebih baik. Memilih dan menentukan tempat doa yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan doa kita.

 

Waktu doa

Dalam bukunya, Ralph Martin mencatat: Saya kenal seorang pemilik perkebunan bangun tiap pagi buta untuk berdoa. Seorang insinyur ruang angkasa berdoa dan membaca Kitab Suci sewaktu makan siang. Seorang manager perusahaan modern berdoa setelah anak-anaknya tidur di malam hari.

Yesus juga memilih waktu khusus untuk berdoa. Dalam injil kita baca: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Yesus pergi ke tempat yang sunyi, Ia berdoa di situ.” (Mrk 1: 35) Pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malamam Ia berdoa kepada Allah. (Luk. 6: 12)

Selanjutnya Ralph Martin mengatakan bahwa kebutuhan hidup orang modern demikian banyak hingga bila kita tidak punya rencana waktu doa yang tetap dapat jadi kita sungguh-sungguh takkan berdoa lagi. Banyak orang tidak suka doa yang tetap, rutin. Mereka berkata, “Doa itu tak spontan lagi.”

Namun, bila kita berpikir sejenak ketika kegiatan-kegiatan lain lebih mendesak, kita tak sempat lagi berdoa. Kita akan meninggalkan yang spontan dan serba kebetulan menjadi tetap dan terencana. Ia memberi contoh demikian: Bila dua orang ingin bersahabat lebih intim mereka berdua memilih waktu dan tempat tertentu untuk bertemu dan kumpul berduaan…

Ide yang romantis mengenai spontanitas tetaplah romantis dan bukan kenyataan. Memang, tetap harus ada tempat untuk spontanitas. Doa akan sering menimbulkan kejutan bila kita lakukan dengan tiba-tiba seperti halnya seorang teman yang tiba-tiba datang. Tanpa janji mengatur waktu yang terencana nampaknya tak akan terjadi banyak doa. Demikianlah cara hidup kita, manusia.

Waktu doa yang banyak dikenal banyak dipraktekkan dan menolong kita; pada pagi hari, sehabis makan siang, menjelang istirahat malam; sebelum tidur. Memilih waktu doa harian yang tetap dan terencana membutuhkan waktu, percobaan dan kesungguhan. Mengatur waktu doa yang cocok dengan cara hidup kita mungkin butuh waktu berbulan-bulan. Tetapi usaha itu sungguh berharga sebab doa demikian penting bagi hidup kita.

 

Sikap doa

Warren Young mulai karangannya yang menarik begini: Berapa banyak resep yang harus kuindahkan agar engkau nampak awet muda, ceria dan mempesona? Banyak. Sungguh banyak. Meski rahasia sebenarnya terletak dalam tubuh manusia: tubuhmu, tubuhku, tubuh kita. Yang harus kaulakukan ialah ambil beberapa menit setiap kali telitilah sikap badanmu.

Ia menyatakan bahwa sikap badan menentukan cara kita merasa dan berpikir. Sikap badan juga menentukan dalam doa-doa kita. Tentang hal itu seorang penulis lain mengatakan: Bila engkau pergi ke sebuah kuil Zen, engkau akan segera dilatih bagaimana memusatkan diri dalam suatu konsentrasi…

Pertama adalah kontrol badan… Agama-agama Timur tahu benar bagaimana menempatkan badan selama doa. Dalam Bagawad Gita, kita temukan petunjuk dan ajaran-ajaran serupa. Pengikut Yoga dilatih untuk mencari tempat bersih yang tak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Di sana ia duduk dalam ketenangan yang mengagumkan, budi pikirnya tenang, beristirahat. Bagaikan pelita bernyala dan ruang tak berangin, tenang diam tak berkedip-kedip… Ia harus mengekang semua pikiran dan perasaannya, budinya terarah ke satu titik, pusat perhatian.

Ia tetap diam membiarkan badan, kepala dan leher lurus tak bergerak, perhatiannya terpadu menyatu… Di situ ia duduk, semua hening, lenyap ketakutannya… Budinya terkendali tidak gelisah dan mencari-cari.

Engkau dapat berdoa di setiap tempat dan saat, engkau pun dapat berdoa dengan berbagai sikap. Sikap doa yang populer ialah berlutut. Sikap badan itu berasal dari injil sendiri: Menjelang Stefanus dibunuh, Ia berlutut dan berdoa dengan suara nyaring, “Ya Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini pada mereka!” (Kis. 7: 60) Ketika orang-orang melihat Paulus dan Lukas turun dari perahu, Lukas menulis: Di tepi pantai kami berlutut dan berdoa. (Kis. 21: 5)

Meski berlutut merupakan sikap doa yang populer waktu itu, tetapi bukanlah sikap satu-satunya. Musa berdoa dengan bersujud dan menutup mukanya di depan semak bernyala. Kiranya Yesus juga berdoa demikian di taman Getsemani.

Seorang penulis buku rohani mengomentari sikap doa sujud dengan wajah tertutup atau berbaring begini: Ingat dan pikirlah bahwa sebagian besar orang terbaring bila meninggal. Di balik sikap yang rendah hati ini terkandung nilai relaksasi yang penting sekali

Origenes mengatakan: “Dari sekian banyak sikap badan dalam doa yang paling banyak digemari ialah merentangkan tangan dan mengangkat mata tinggi menengadah. Dengan demikian sikap badan mengarahkan jiwa bagaimana seharusnya bersikap di hadapan Tuhan dalam doa… Tetapi, dapat pula muncul situasi lain dimana berdoa sambil duduk, bahkan sambil berbaring terasa jauh lebih baik.

Akhirnya, sikap badan terbaik ialah yang dapat lebih menolongmu untuk berdoa.

Sikap-sikap doa yang dianjurkan:

·         Berbaring di ranjang atau di lantai, kedua kaki terjulur rata, tumit juga, dan mata tengadah menatap langit-langit.

·         Duduk tegak di kursi, kedua kaki menyentuh lantai, tangan dalam pangkuan atau telapak tangan terbuka, diam.

·         Berlutut tegak lurus menghadap ranjang, punggung lurus, tangan di atas tempat tidur sebagai topangan

·         Duduk di lantai, kaki bersila, punggung tegak dan bersandar pada dinding, tangan dalam pangkuan atau di atas lutut, telapak tangan terbuka atau tertutup.

Sikap doa terakhir ini membutuhkan perhatian tersendiri. Berbeda dengan sikap duduk atau berbaring sikap bersila tidak memberi kesan orang sedang belajar atau enak-enak istirahat.

Sikap duduk bersila, secara khusus menunjukkkan orang yang sedang berdoa. Lebih lanjut, kaki bersila dan punggung tegak menunjukkan ketenangan dan kesiagaan.

Mereka yang mempraktekkan sikap doa ini berkata bahwa mereka senantiasa merasa segar sehabis berdoa baik secara rohaniah maupun jasmaniah. Mungkin kita butuh waktu satu atau dua minggu untuk melatih dan membiasakan sikap doa ini.

 

Suasana doa

Setelah kita memilih tempat, waktu dan sikap badan yang tepat, langkah selanjutnya ialah menciptakan suasana batin untuk berdoa. Beberapa cara berikut akan dapat banyak membantu:

 

Pernafasan

Ambillah sikap doa yang kauinginkan, lantas badan istirahatkan, rileks. Mulailah dengan otot-otot wajah, terus turun melalui bahu, dada, tangan dan kakimu. Sekarang perhatikanlah pernafasan-mu teruslah amati dan perhatikan:

Apakah nafasmu mengalir lembut? Bila berdebaran, buatlah perlahan

Apakah nafasmu terasa dalam? Bila pendek terputus-putus, isaplah dalam-dalam dengan halus.

Apakah nafasmu berdegup kencang? Bila demikian, buatlah lambat pelahan.

Kemudian tutuplah kedua mata dan cobalah ciptakan pernafasan yang pelahan, teratur dan mendalam. Kerjakan terus demikian sampai tercipta suasana konsentrasi.

 

Pendengaran

Ambillah sikap doamu dan badan istirahatkan. Tutup kedua mata dan dengarkan suara di sekeli-lingmu. Biarkanlah suara-suara itu masuk meresap dengan bebas ke dalam dirimu. Usahakan terus demikian sampai tercipta suasana tenang.

Cara mendengar yang lain: Tutup telingamu dengan ibu jari, kedua mata tertutup dan dengarkan nafasmu sendiri. Setelah kira-kira delapan tarikan nafas, ibu jari lepaskan. Kedua mata tetap tertutup, dengarkan suara-suara di sekelilingmu yang paling halus, lembut dan jauh sekalipun.

Suara-suara itu hanya akan mengganggu bila kita melawan dan tidak menerimanya. Maka biar-kan suara-suara itu masuk meresapi hidupmu sampai tercipta suasana yang tenang.

 

Detak jantung

Ambil sikap doamu, badan rileks.

Rasakanlah lengketnya kain-kain baju yang menempel bahu, kaki dan tanganmu. Rasakanlah sandal atau sepatu yang membalut kakimu. Tutuplah kedua matamu dan dengarkan detak jantungmu. Bila engkau telah menyadarinya, tangkaplah iramanya. Ikutilah derap irama itu sampai tercipta suasana doa dalam hatimu.

 

Perasaan

Ambil sikap doamu, badan biarkan rileks. Raskanlah lengketnya kain baju yang menempel bahu, kaki dan tanganmu; sandan atau sepatu yang membalut kakimu dan kursi tempat dudukmu. Rasakanlah smpai engkau menjadi rileks. Seperti halnya dengan unsur-unsur lain dari proses doa, setiap orang mencipta suasana doa berlain-lainan pula. Manakah cara yang terbaik untukmu satu-satunya jalan coba dan cobalah selalu.

 

Kehadiran Allah

Setelah memperhatikan tempat, waktu, sikap dan suasana, engkau kini siap memasuki langkah kunci dalam proses doa: yaitu membuka diri bagi kehadiran Allah.

Bernard Basset menulis demikian: Untuk sementara waktu aku harus menyingkirkan berbagai pikiran mengenai macam-macam hal dan menempatkan diri di hadapan Allah, menyadari bahwa Ia hadir menyertaiku di kamar.

Kesadaran akan kehadiran Allah ini merupakan anugerah tak ternilai. Bila Allah memberikannya kepadaku seperti dikerjakannya selalu, maka yang perlu bagiku ialah tetap tinggal berdiri, duduk atau berlutut dihadapan-Nya.

Setiap usahaku memaksa diri untuk merasakan bahwa Allah hadir hampir selalu keliru. Aku tak boleh bergerak sedikit pun jua jika Allah membimbingku dekat pada-Nya.

Seringkali beberapa obyek di luar diriku seperti salib, patung atau gambar yang kugunakan dalam doaku akan menolong mempertemukan aku dengan Allah.

Seringkali dengan menutup kedua mata, memusatkan perhatian pada dinding yang kosong atau di tengah-tengah, antara dinding dan diri kita sangat menolong mengarahkan doa kita.

Armand Nigro menekankan juga pentingnya saat-saat permulaan doa: Dengan tenang dan damai sadarkan dirimu bagaimana Allah hadir padamu….

Ini butuh sedikit waktu tapi harus dikerjakan dan jangan terburu-buru. Engkau tak boleh menga-baikan persiapan awal doamu itu, bahkan seandainya hal itu menyita seluruh waktumu…

Dalam saat-saat demikian, mungkin terjadi hubungan yang istimewa dengan Allah yang hadir dalam perasaan mendalam dan sungguh pribadi. Kerap kali Allah menghendaki kehadiran-Nya kita rasakan dan kita alami. Maka, bila Ia menghendaki demikian, biarkanlah itu terjadi. Biarkan pengalaman itu membimbing dan mencekammu seperti air yang mengalir menghanyutkan badanmu. Bertahanlah demikian sampai lenyap perasaan itu.

Panjatkanlah doa singkat untuk memohon pertolongan Allah agar membuka diri dan menyadari kehadiranNya. Sesudah memanjatkan doa tersebut istirahatlah dalam sikap badan terbuka bagi kehadiran Allah. Bila kaurasakan Allah hadir, sebagaimana senantiasa terjadi, diamlah penuh doa sementara Allah menyapamu.

Janganlah bergegas dan cepat-cepat mau pergi.

Banyak orang bermeditasi setiap hari hanya dengan menggunakan salah satu latihan tadi. Latihan tersebut membantu mereka untuk mengenal diri. Dan mereka sungguh-sungguh menghabiskan waktu doanya hanya dalam sikap terbuka di hadapan Allah.