RITUS, MITOS, SIMBOL, DAN TEOLOGI LITURGI
 
 
1.      RITUS-RITUAL
 
a.      Arti “ritus” [Latin]:  tatacara keagamaan, upacara 
agama, seremoni, adat, kebiasaan. Inggris: rite-ritual = 
Indonesia: “ritus”; sementara “ritual” sendiri adalah 
bentukan ajektifnya dalam Inggris dan Indonesia.
 
b.      Ritus:
-       A. Nijk: ritus muncul karena adanya kesadaran akan 
kekosongan (lacunae, hiatus), ada sesuatu yang hilang, tak 
terumuskan, tapi orang harus “melakukan sesuatu tanpa tahu 
bagaimana caranya”. Maka, orang pun “melakukan sesuatu” 
secara coba-coba. Apa yang tadi ada di wilayah kesadaran 
dan perasaan coba diwujudkan dengan melakukan sesuatu. 
Percobaan pertama diulang, dan diulang. Tindakan repetitif 
sering disertai devosi yang kuat. Maka, jadilah ritus.
-       Ronald L. Grimes: suatu tipe perilaku yang secara jelas 
dan sengaja dibedakan dari “perilaku biasa” yang 
menunjukkan suatu aturan khusus dalam ruang dan waktu. 
Ritus adalah serangkaian tindakan yang secara luas dikenal 
oleh anggota budayanya sebagai “klasik”, “normatif”, 
“esensial” untuk pemahaman yang semestinya tentang relasi 
dengan diri sendiri, dunia, dan Yang Ilahi.
 
c.      Ritual:
-       Ronald L. Grimes: suatu perpaduan dari beberapa jenis 
tindakan, mis. nyanyi, drama, tari;
-       Roy Rappoport: suatu bentuk atau struktur yang 
ditampilkan melalui rangkaian tindakan dan ucapan formal 
yang tidak dibuat oleh para pelakunya. Cirinya adalah 
formal (invariant, stylized, repetitif, stereotip, terikat 
waktu tertentu dan tempat khusus), performatif (tak 
sekedar cara untuk mengungkapkan sesuatu, tapi ritual itu 
sendiri adalah aspek dari apa yang sedang diungkapkan; 
beda drama [perlu audiences yang melihat] dengan ritual 
[perlu congregations yang berpartisipasi]), dan mujarab 
 (tak hanya mengkomunikasikan, tapi juga memberi dampak, 
suatu kemujaraban yang tak bersumber dari pengalaman 
inderawi dan tak merujuk pada pengaruh material).
-       Catherine Bell (ritual/ritus/ritualisasi): bukan terdiri 
dari tindakan-tindakan unik yang hanya terjadi dalam 
konteks ritus, tapi suatu cara bertindak, yang berbeda 
dengan cara-cara bertindak lainnya, ada tipe kontras (mis. 
perayaan Ekaristi = bukan seperti ritual makan-minum 
biasa). Perbedaan itu dikuatkan melalui aneka strategi 
sosial: periode, materi, lokasi. Tujuan: [1] membedakan 
cara  “ini” dengan cara “itu”, [2] menegaskan nilai-nilai 
yang ada dari pembedaan itu, [3] memberi partisipan suatu 
“pengalaman” dari pembedaan itu berdasarkan pada hakikat 
realitasnya (ada hirarki perilaku: lebih tinggi, lebih 
suci).
-       Gerard Lukken: tak cukup hanya mengatakan bahwa ritual 
mengandung unsur simbol (things), tindakan simbolik 
(acts), dan bahasa simbolik (words), tapi perlu lihat 
makna ritual dari ciri-ciri fungsionalnya: [1] penyembuhan 
dan penyaluran (memberi kelegaan, pembebasan yang tak 
harus mencari sendiri caranya; khususnya ketika menghadapi 
situasi krisis: kematian, bencana; tapi juga saat 
kegembiraan: untuk mengelola dan menyalurkan emosi); [2] 
penghubung dengan masa lalu (selalu bersifat lama, sudah 
ada, ingatan masa kecil: kini dihadirkan kembali); [3] 
etis (sumbangan untuk tindakan non-ritual: diajak keluar 
dari diri sendiri dan aktif dalam komunitas); [4] sosial 
(ungkapkan diri dalam cara yang dapat dimengerti orang 
lain, menentukan identitas kolektif, komunitas perlu 
ritual supaya sungguh menjadi komunitas); [5] permohonan 
(aspek invokatif, mengundang kekuatan di luar diri kita 
untuk menolong); [6] ekspresif (meski warisan sifatnya, 
ritual juga mengekspresikan diri kita; menolong kita untuk 
memberi wajah bagi pengalaman kita dan untuk memahami diri 
sendiri).
 
 
 
 
2.      MITOS
 
a.      Arti “muthos“ [Yunani]: amat luas, dari ucapan sampai 
kisah, cerita, fiksi (dilawankan dengan fakta). Filsuf 
Yunani cenderung melihatnya sebagai kisah primitif tentang 
dewa-dewi, mereka “mengesampingkannya” dengan menerangkan 
sebagai gambaran alegoris atas fenomena alam atau 
keutamaan-keutamaan manusia, atau malah mencapnya sebagai 
buatan para pemimpin agama/masyarakat untuk menenangkan 
orang-orang sederhana.
 
b.      Sebagai cerita atau kisah (story/narrative)
-       Biasanya dipahami sebagai cerita, simbolika naratif, 
kisah tradisional tentang asal-usul atau transisi 
(bagaimana dunia mulai; bagaimana sesuatu menjadi yang 
lain: bumi yang kosong menjadi penuh penduduk, chaos jadi 
cosmos, immortal jadi mortal, dst; fenomena liminal!);
-       Secara karakteristik dianggap sebagai non-analitika, 
lebih “formasional” ketimbang “informasional”, berurusan 
dengan hal-hal ilahi, pribadi manusiawi dan atau peristiwa 
yang memiliki asal-usul dan takdir yang melampaui 
kelaziman batas-batas ruang dan waktu.
 
c.      Sebagai pertunjukan/pergelaran (performance)
-       Mitos jangan direduksi cuma menjadi fenomena lingustik, 
teks (naratif!), tetapi lebih menjadi mitos-penceritaan 
sebagai salah satu unsur dari aksi ritual (Victor Turner: 
myth-telling as a subgenre of ritual performace);
-       Mitos adalah suatu pertunjukan, bukan teks yang terpisah 
dari aksi ritual atau sosial. Yang pernah melihat atau 
mendengar suatu mitos dalam “konteks budaya”-nya (folk 
context) sendiri tahu dengan sendirinya bahwa mitos bukan 
hanya pola kata-kata (verbal), tapi termasuk juga aneka 
unsur nonverbal (mimik, gestur, nyanyian, gambar, dsb). 
Untuk memahami makna mitos diperlukan juga pengetahuan 
tentang konteks ritual/sosialnya.
-       Secara sederhana mitos bukan pengungkapan struktur 
kognitif otak, tapi suatu rekapitulasi dari seluruh 
sejarah evolutif yang telah membuat kita seperti sekarang. 
Mitos adalah pengakuan bahwa kita-manusia mewujud dan 
mengatasi seluruh bentuk kehidupan yang telah mendahului 
kita, makanya kita punya relasi berkelanjutan dengan 
bentuk-bentuk kehidupan itu.
-       Mitos bukan hanya struktur linguistik atau kognitif yang 
bertujuan untuk pengesahan keberadaan struktur sosial 
(mis. dengan menerangkan asal-usulnya atau mengaitkannya 
dengan kehendak para dewa), tapi juga suatu “pertunjukan 
neurologis” (neurological performance).
 
d.      Beberapa kesepakatan (J.W. Rogerson):
-       Cerita sakral yang ditempatkan dalam zaman yang berbeda 
dengan zaman pencerita, sambil mengungkapkan pemahaman 
realitas yang menjelaskan beberapa adat kebiasaan dalam 
masyarakat si pencerita. Ternyata mitos juga lahir dari 
suatu kebutuhan “intelektual” akan penjelasan, bukan 
semata ungkapan perasaan primitif;
-       Sebagian kecil mitos adalah jelas berkaitan dengan 
ritus. Dalam kaitan itu masyarakat dapat masuk secara 
imajinatif ke dalam keadaan yang digambarkan dalam mitos 
mereka;
-       Selama belum ditulis dan masih diperankan kembali dalam 
masyarakat, isi mitos dapat dan akan berubah agar tetap 
mencerminkan situasi politis, sosial, dan ekonomis yang 
up-to-date. Tapi setelah ditulis mitos dicocokkan dengan 
situasi-situasi yang berubah-ubah melalui interpretasi 
teologis;
-       Jika masyarakat makin rasional, maka kaitan erat antara 
mitos yang kuno dengan pemahaman situasi aktual jadi 
melemah, bahkan bisa menghilang. Tapi mitos sendiri tidak 
hilang, karena mengandung pemahaman intuisif akan realitas 
yang memungkinkan orang untuk melampaui keadaannya yang 
langsung, maka mitos pun tetap jadi sumber untuk seni;
-       Kendati mitos sebagai fiksi cenderung dilawankan dengan 
sejarah, namun demikian kisah-kisah tentang peristiwa 
historis dapat juga berperan sebagai ekspresi dan 
peneguhan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai suatu 
masyarakat (mitologisasi sejarah!).
3.      SIMBOL
 
a.      Arti “symbolon, symballein” [Yunani]: dari dua 
symbolon: hal, tanda, atau kata digunakan untuk saling 
mengenal dan dengan makna yang dimengerti; dua symbolon 
itu dilempar bersamaan.
 
b.      Kata atau objek yang menghadirkan atau mengingatkan 
suatu entitas yang lebih besar. Suatu instrumen penuh daya 
untuk memperluas visi kita, untuk merangsang imaginasi 
kita, dan memperdalam pemahaman kita.
 
c.      F.W. Dillistone: simbol dapat dianggap sebagai [A] 
kata, objek, hal, aksi, peristiwa, pola, orang, atau 
kekhususan yang nyata, [B] yang menghadirkan, menyarankan, 
menandakan, menyingkapkan, mengkomunikasikan, 
mendatangkan, mengungkapkan, mengenangkan, mengarahkan 
pada, berdiri pada, melambangkan, menunjukkan, 
menghubungkan, mengaitkan, mencerahi, mengacu pada, 
mengambil bagian dalam, membuat kembali, atau 
menggabungkan dengan, [C] sesuatu yang lebih besar, yang 
transenden, atau yang tertinggi: suatu makna, realitas, 
ideal, nilai, prestasi, keyakinan, komunitas, konsep, 
institusi, keadaan. Pola ini menyatakan bahwa [A] lebih 
dapat dilihat, didengar, diraba, konkret daripada [C]. 
Fungsi simbol adalah menjembatani dunia [A] dan dunia [C]. 
Simbol mengaitkan dua entitas (symballein); simbol 
menghubungkan atau membawa bersama-sama. Lebih baik 
mengatakan [A] sebagai simbol (symbol) dan [C] sebagai 
yang disimbolkan (referent). Hanya manusia yang bisa 
mengalaminya karena secara sadar bisa menyusun, merevisi, 
memperluas, dan mentransformasi (hewan tak punya 
sistem-simbol, hanya tanda-sinyal-gestural karena naluri 
instinktif). Sistem-simbol adalah “bahasa” manusia.
 
d.      Bernard Lonergan: suatu imaji dari objek nyata atau 
imajiner yang mem-bangkitkan perasaan atau dibangkitkan 
oleh perasaan. Perasaan dikaitkan kepada objek-objek, 
kepada satu sama lain, dan kepada subjek-subjeknya.
 
e.      Paul Tillich: karakteristik simbol: [1] figuratif, 
selalu menunjuk pada sesuatu yang melampaui dirinya 
sendiri, sesuatu yang tingkatnya lebih tinggi (mis. devosi 
pada salib); [2] dapat dimengerti, baik sebagai bentuk 
objektif maupun sebagai konsepsi imajinatif; [3] memiliki 
daya-bawaan (an innate power). Karakteristik ini amat 
penting, dan memberikan realitas bagi  simbol yang hampir 
hilang dalam pemakaian sehari-hari; [4] secara sosial 
berakar dan didukung, selalu berkaitan dennan komunitas 
yang mengenali.
 
4.      DALAM ALKITAB
 
a.      Ritus:
-       Dalam Alkitab terdapat pula aneka ritus sakral yang 
dilakukan kalangan umat Alkitab. Ritus itu biasanya 
merupakan kegiatan fisik yang diulang-ulang sehingga 
menjadi tradisi, (tingkah laku, sikap badan/isyarat yang 
konvensional dan simbolis), yang sering disertai ucapan 
kata-kata yang sudah ditetapkan. Ritus sakral itu 
bermaksud mengadakan kontak dengan Yang Ilahi supaya 
memperoleh sesuatu yang bernilai bagi kehidupan dunia. 
Umat Israel memandang yang Ilahi  itu sebagai “Tuhan, 
Allah mereka”. Yang mereka harapkan lewat ritus-ritusnya 
adalah penyelamatan dari aneka macam ancaman terhadap 
kehidupan bangsa dan perorangan (mis. penghapusan dosa, 
pemulihan hubungan dengan Tuhan). Bagi orang Kristen, Yang 
Ilahi itu adalah Allah, Bapa dari Yesus, dan juga Tuhan 
Yesus Kristus. Dalam ritus kristiani, umat mengharapkan 
penyelamatan Allah melalui Yesus.
-       Contoh: [1] Pengikatan/pembaruan perjanjian:  salah satu 
yang tertua ada dalam kisah sumpah Allah kepada Abram (Kej 
15:9-21), tradisi kuno Sinai yang menunjukkan latar 
liturgis (Kel 19-20, 24, 33-34). Yang menarik adalah Kel 
24:3-8, karena terkumpul unsur dan lampang pokok yang juga 
sentral dalam ritus ekaristi (korban, darah, firman); [2] 
Perayaan Paskah: informasi ritualnya terutama ada dalam 
Kel 12, semula ada ritus mengoles darah pada tiang pintu 
rumah untuk menangkal ancaman pemusnah (Kel 12:21-23), 
sempat menjadi perayaan pembebasan dari perbudakan secara 
nasional di Yerusalem (Ul 16:2), tekanan bergeser ke arah 
perjamuan sakral yang menghadirkan kembali pembebasan dari 
penindasan; [3] Perjamuan bersama: orang Kristen perdana 
sering kumpul untuk makan bersama (Kis 2:46, 1Kor 11, Yud 
12). Kebiasaan ritual itu diandaikan berakar dalam masa 
pelayanan Yesus sendiri yang suka mengembara dan tinggal 
dari rumah ke rumah. Dalam Injil Yesus digambarkan 
mengadakan perjamuan dengan aneka macam orang (Mk 2:15-17, 
Lk 15:2, 19:1-10). Perjamuan Yesus dengan para murid-Nya 
tidak pernah diceritakan, kecuali perjamuan Malam 
Terakhir, dan yang setelah kebangkitan (namun kurang 
bercorak bersama, dan nantinya lebih bersifat legenda); 
[4] Perjamuan Tuhan dan perjamuan Malam Terakhir: Kisah 
tertua tentang “perjamuan Tuhan” terdapat dalam 1Kor 
11:23-26 (kl. 54 M). Dalam setiap Injil Sinoptik (antara 
70-90 M) dimuat berita dan kata-kata institusi ekaristi 
dalam konteks sebuah perjamuan Paskah (Mk 14, Mt 26, Lk 
22). Injil Yohanes juga menceritakan perjamuan terakhir 
itu (13-17). Sumber-sumber biblis itu memberi gambaran 
ritual yang berbeda. Akhirnya, Gereja membangun suatu 
ritual tersendiri berdasar data biblis tadi, yang hingga 
kini masih dipakai secara universal; [5] Pembaptisan: 
 ritus penerimaan orang sebagai jemaat Kristen yang 
didahului dengan pewartaan Injil, yang ditanggapi dengan 
penyesalan atas dosa (Kis 2:38). Beberapa formula biblis 
menjadi acuan bagi ritusnya (Kis 8:36, 10:47, 11:17, Mt 
3:13). Rumus yang paling luas dipakai adalah “dibaptis 
dalam nama Yesus Kristus” (Kis 2:38; 8:18, 10:48, 19:5, 
1Kor 1:13, Gal 3:27) yang nantinya diperluas menjadi 
rumusan trinitaris (Mt 28:19). Kemungkinan ada juga ritus 
penanggalan/pengenaan pakaian (Ef 4:22-23, Kol 3:5-17). 
Meskipun data ritus baptis ini tak banyak ditemukan dalam 
umat Gereja perdana, tapi ada ahli yang berpendapat bahwa 
1 Petrus menyajikan suatu liturgi baptis: 1:3-5 madah 
pembuka, 1:13-21 homili, 1:22-2:10 pembaptisan, 2:11-3:7, 
5:1-5 nasihat bagi yang baru dibaptis, 5:5-9 madah 
penutup.
 
b.      Mitos:
-       Pernah ada yang meragukan: adakah mitos dalam Alkitab? 
Pengaruh filsafat Yunani cenderung menampik pendapat bahwa 
dalam Alkitab pun ada mitos. Pada paruh pertama abad 20 
para penafsir di Inggris dan Skandinavia menyelidiki 
kaitan antara mitos dan ritus. Ritus-ritus itu penting 
dalam masyarakat kuno. Ritus itu tak dapat dilepaskan dari 
kisah-kisah yang mengirinya, yakni mitos. Samuel Henry 
Hooke berpendapat bahwa mitos (= sesuatu yang diceritakan) 
dan ritual (= sesuatu yang dilakukan) tak terpisahkan pada 
awal peradaban manusia. Misalnya dalam agama-agama kuno di 
Mesir, Babilonia, Kanaan. Aksi ritual adalah pengutipan 
kisah, supaya mendapat kesamaan “daya” dengan yang asali. 
Lama kelamaan memang terjadi pemisahan juga. Menurut 
Rudolp Bultmann seluruh pandangan dunia dalam Perjanjian 
Baru pada dasarnya adalah mitologis, dengan semesta alam 
yang berlapis tiga (surga, bumi, dan dunia bawah), dan 
bumi sendiri sebagai panggung kegiatan banyak roh dan 
makhluk adikodrati lainnya.  Dalam Perjanjian Lama pun 
ada. F.M. Cross menunjukkan bahwa pola dasar mitos Kanaan 
tentang terjadinya dunia, yakni perang pejuang ilahi 
melawan khaos, kemenangannya dan pengangkatannya menjadi 
raja, muncul juga dalam teks Alkitab (Mzm 29:89), lebih 
sering dalam campuran antara mitos dan sejarah.
-       Contoh: [1] Kej 1-11: pada zaman Israel tak ada lagi 
taman Eden dengan pohon kehidupan, tak ada ular yang 
bicara, atau manusia berusia 900 th. Sebagai kisah mungkin 
pernah berperan dalam ibadat Israel, tapi dalam bentuknya 
sekarang bukan lagi tampak sebagai certita kultis yang 
mengiringi ritus, namun sebagai versi teologis dari 
tradisi-tradisi suci. Lingkaran kisah dalam Kej 1-11 
disajikan dari sudut iman Israel yang khas (mengolah 
kembali tema-tema dari mitologi Mesopotamia: mis. air 
bah); [2] Kel 1-15: tentang tradisi Eksodus dan Paskah 
sebagai contoh mitos yang berkaitan dengan ritus. 
Peristiwa sejarah yang lama sekali tak bisa 
di-rekonstruksi, maka di-mitologisasi. Kel 1-15 pun bicara 
tentang penyelamatan sebuah bangsa yang ditindas dan tak 
berdaya. Hal itu dirayakan setiap hari raya Paskah, 
kendati informasi tentang ritualnya sangat terbatas (Kel 
12:21-23); [3] Kej 28:10-22: contoh mitos kultis tentang 
tangga surgawi yang dilihat Yakub dan tugu yang 
didirikannya di Betel. Yakub dianggap sebagai tokoh 
simbolis yang menggambarkan pergumulan iman Israel; [4] 
Dalam PB ada juga, yakni berupa konsep tentang jagad raya 
(Fil 2:10, Mk 1:13, Rom 9-11) dan mitos eskatologis (Mt 
14:19dst). Yesus sebagai tokoh sejarah pun diwartakan 
dalam cara mitis (kelahiran-Nya, turun ke neraka, dsb, 
untuk memberi ungkapan kepada peranan Kristus yang kosmis 
dan universal).
 
c.      Simbol:
-       Aneka simbol religius dalam Alkitab  merupakan usaha 
untuk mengungkapkan dalam bayangan visual atau konseptual 
apa yang sebetulnya ada di balik dunia bayangan manusia 
dan tak dapat dikenal atau dinyatakan secara langsung 
(“singa mengaum” [Am 3:8] = Allah “murka”; angin ribut dan 
letusan gunung = Allah turun dan hadir di Sinai = 
mysterium traemendum [Kel 19:16dst, 20:18]).
-       Ciri: [1] Simbol mengandung daya evokatif (beda dengan 
tanda yang lebih bersifat informatif). [2] Tak harus 
berupa gambaran (image) dari yang dilam-bangkan, lebih 
baik dalam analogi antara lambang dengan yang 
dilambangkan. [3] bisa juga berupa asosiasi  yang berdasar 
kaitan antara lambang dengan nilai/subjek tertentu.
-       Contoh: [1] Perjanjian Lama:  “peristiwa sejarah” 
(eksodus, laut Teberau, manna) = karya-karya besar Allah 
yang menyingkapkan kuasa dan belaskasih-Nya; tokoh-tokoh 
leluhur (Abram, Yakub) =  keutamaan, pengharapan, 
perjuangan bangsa keturunan mereka; barang-barang (awan, 
api, tabut) = kehadiran Allah yang membimbing, memanggil, 
menjalin hubungan Perjanjian; tempat-tempat (Sodom, Mesir, 
Yerusalem) = keadaan moral atau keagamaan; [2] Perjanjian 
Baru: sebagian besar berkaitan dengan Yesus Kristus, 
identitas-Nya dan makna pelayanan-Nya. Gelar “Sabda yang 
menjadi manusia” merupakan simbol terlengkap (Yoh 1:1, Ibr 
1:1). Gelar simbolis Yesus lainnya: raja, nabi, Putera 
Allah, Tuhan, Anakdomba. Ada juga yang berkaitan dengan 
bahasa simbolis (Kerajaan Allah, Gembala sejati, Pokok 
anggur sejati) dan tindakan simbolis (makan dengan orang 
berdosa, menyembuhkan, membersihkan bait Allah). Secara 
khusus disebutkan juga simbolik penyelamatan (salib, 
pembenaran, penebusan) dan simbolik ritual (air, roti, air 
anggur).
 
5.      SEBAGAI SUMBER TEOLOGI LITURGI
 
a.      Liturgi dan teologi: definisi dan distingsi
 
-       Premis dasar: liturgi adalah orthodoxia prima, peristiwa 
teologis. Esensinya: tindakan teologis (act of theology), 
tindakan Gereja sebagai umat beriman yang terarah kepada 
Allah, berdialog dengan Allah, menyatakan kepercayaannya 
akan Allah, melambangkan kepercayaannya melalui ragam 
sarana (benda, kata [terutama Kitab Suci dan eukologi], 
gerak). Dengan kata lain, liturgi itu sendiri merupakan 
rangkaian ritual bersama yang pada hakikatnya bersifat 
simbolis. Kita masukkan di dalamnya tiga pilar ini: ritus, 
mitos, simbol.
-       Memahami liturgi harus menghormati kekayaan kata dan 
simbol teologis yang dipakai di dalam liturgi (yang lebih 
metaforis, polivalen, ambigu, dan mengajak memasuki 
misteri kehadiran Allah yang hidup dan dialami dalam 
liturgi).
-       Sebagai ortodoksi prima liturgi adalah tata doksologis 
pertama bagi dan tentang Allah. Tindakan liturgi pun 
merupakan theologia prima dalam arti bahwa dalam liturgi 
orang mengalami diri terarah kepada dan bertemu dengan 
Allah.
-       Theologia secunda adalah refleksi atas tindakan liturgis 
(act of liturgy) sebagai theologia prima. Teologi liturgi 
adalah theologia secunda. [a] Gerard Lukken: Gereja 
perdana menganggap liturgi sebagai theologia prima dan 
spekulasi dogmatik sebagai theologia secunda. Arti pertama 
ortho-doxia: pujian yang benar [prima], lalu juga: ajaran 
yang benar [secunda]. Liturgi adalah sumber pertama dan 
norma iman bagi ajaran yang benar. Karena liturgi adalah 
ungkapan diri Gereja melalui rangkaian tindakan ritual 
(kata, gerak,  dan simbol). Ekspresi liturgis dari iman 
tampak lebih segera dan langsung daripada ekspresi 
intelektual atau justifikasi iman dalam argumen teologis 
atau ajaran dogmatis. Dialog konstan antara 
teologi-ortodoksi prima dan sekunda adalah esensial jika 
kita yakin bahwa liturgi tak akan terisolasi dari iman 
Gereja.  [b] David Power: beri distingsi theologia prima 
dan secunda dalam konteks lebih luas. Ada tiga realitas 
penting dan saling berkaitan: (1) pengalaman spiritual 
pewahyuan Kristiani, (2) ekspresi simbolika dan devosional 
dari pengalaman itu yang mewadahi pengalaman spiritual 
dalam cara yang hidup, (3) interpretasi ilmiah atas 
pengalaman spiritual dan ekspresi simbolik. Teologi prima 
ada di unsur kedua dan teologi sekunda pada unsur ketiga. 
Simbolika dan teoretika itu komplementer dan saling 
membutuhkan. Ada lagi, teologia tersia (theologia tertia), 
yang menggarisbawahi kaitan erat antara liturgi dengan 
kehidupan Kristiani sehari-hari (moral, spiritual). 
Teologi tersia mengalir dari teologia prima dan sekunda.
 
b.      Pengertian teologi liturgi
 
Teologi liturgi berarti “teologi tentang liturgi” 
(theology of liturgy) dan “teologi dari liturgi” (theology 
drawn from the liturgy, termasuk teologi moral dan 
spiritual):
 
A.      Teologi tentang liturgi:
-       Jelaskan apa itu liturgi Kristiani dan bagaimana 
aktualisasi realitas misteri Paskah Kristus bagi Gereja, 
yang berkumpul dan dihidupi oleh daya Roh Kudus. Di dalam 
liturgi umat memasuki misteri Paskah dan mengalami 
penebusan. Secara fundamental liturgi adalah tindakan 
kenangan (memorial action) yang menghadirkan misteri 
Paskah bagi umat sekarang melalui sarana-sarana simbolis.
-       Prinsip teologis pengertian liturgi: [a] anamnetik 
(lawannya amnesia! bersifat kristologis): pengenangan 
misteri Paskah, yang dihadirkan kembali saat ini, demi 
penggenapan penebusan di akhir zaman nanti. [b] epikletik 
(bersifat pneumatologis):  mengalir dari dan bergantung 
pada karya Roh Kudus yang mentransformasi iman umat 
melalui pengalaman liturgis akan misteri Paskah. [c] 
eklesiologis (bersifat soteriologis): selalu merupakan 
tindakan dari pemahaman diri dan pengungkapan diri Gereja; 
disempurnakan oleh, dengan, dan dalam Gereja yang sedang 
berhimpun dan berdoa (partisipasi aktif, sadar, penuh, SC 
14; sakramen kesatuan, SC 26). Penekanan eklesiologis 
berarti penekanan teologis, secara khusus penekanan pada 
aspek soteriologis liturgi.
-       Hakikat liturgis yang anamnetik, epikletik, dan 
eklesiologis menegaskan bahwa liturgi merupakan cara unik 
karena umat yang beribadat itu mengalami pengantaraan 
keselamatan Kristus dan daya Roh Kudus yang menguduskan 
dan memersatukan Gereja. Liturgi adalah locus bagi 
pengalaman akan Allah. Roh Kuduslah yang memampukan Gereja 
merayakan liturgi. Maka, Gereja menjadi peristiwa dan 
peristiwa liturgis membuat Gereja secara penuh lebih 
menjadi Tubuh Kristus di dunia. Liturgi adalah peristiwa 
yang menetapkan Gereja, dan peristiwa itu menjadi kairos 
(bukan kronos) keselamatan.
-       Mengalami misteri Paskah dalam liturgi berbeda dengan 
dalam meditasi pribadi tentang sengsara, wafat, dan 
kebangkitan Kristus. Liturgi menghadirkan peristiwa 
keselamatan itu, sedangkan meditasi pribadi hanya 
merenungkannya.
 
B. Teologi dari liturgi:
-       Teologi ini tentang bagaimana sarana komunikasi dan 
interaksi dalam liturgi, khususnya kata dan simbol, dapat 
digunakan sebagai sumber generatif bagi pengembangan 
teologi sistematik. Artinya, bagaimana konsep dalam 
teologi sistematik dapat dieksplorasi secara penuh dari 
data yang terbentang dalam ritus liturgis (mis. bagaimana 
menggambarkan keberadaan Allah [teologi], keberadaan dan 
karya penebusan Kristus [kristologis], keberadaan dan 
karya Roh Kudus [pneumatologis], Gereja [eklesiologis], 
menjelaskan dan merefleksikan kebutuhan kita akan rahmat 
[antropologi kristiani]).  Contoh: penggunaan gelar atau 
istilah untuk Kristus atau karya-Nya (penebus-penebusan, 
kudus-pengudusan, pengampunan, pendamaian, dst) 
menjelaskan juga kebutuhan akan Kristus dan menggambarkan 
bagaimana penyelamatannya berlangsung dalam liturgi. Di 
sini disiplin antropologi kristiani dan kristologi bertemu 
secara tepat karena keduanya berasal dari refleksi tentang 
apa yang terjadi dalam liturgi dan bagaimana liturgi itu 
sendiri menjelaskannya. Secara metodologis, liturgi 
digunakan sebagai sumber bagi teologi sistematik, dan 
sebaliknya teologi sistematik secara intrinsik berkaitan 
dengan tindakan ibadat itu.
-       Berteologi dari liturgi mewajibkan suatu pengujian ulang 
atas sumber konsep dalam teologi kristiani dan atas 
cara-cara konsep itu berkembang. Hal ini menyentuh pada 
distingsi penting akhir-akhir ini tentang bahasa 
“simbolis” dan “teknis”. Bahasa liturgis ditujukan untuk 
menemui dan menopang misteri-misteri yang dirayakan.
 
c.      Metode dalam teologi liturgi
 
A.      KONTEKS LITURGIS ADALAH TEKS (liturgical context is 
text = konteks liturgis menyediakan sumber/teks [ritus, 
mitos, simbol] untuk mengembangkan teologi liturgi). 
Konteks artinya [tiga komponen konteks liturgis]: (a) 
Evolusi historis dari ritus liturgis yang ada untuk 
menentukan asal-usulnya, bagian-bagian unsurnya (teks, 
simbol, aksi, tata gerak), dan variasi dalam sejarah baik 
secara liturgis maupun teologis. Studi ini bermaksud untuk 
menyingkap makna-makna teologis yang terkandung dalam 
ritus dan juga untuk membedakan aspek-aspek dari ritus itu 
mana yang esensial dan mana yang periferial. (b) 
Pemba-ruan liturgis kontemporer mengandaikan adanya 
pengujian ritus sekarang (yang sudah diperbarui) untuk 
menentukan apakah perayaan kontemporer dari ritus itu 
dalam konteks khusus mengungkapkan apa yang sesungguhnya 
diharapkan dalam buku ritus yang diterbitkan (partisipasi 
penuh, sadar, aktif). Yang diuji adalah tindakan liturgis 
secara keseluruhan, di mana kata-simbol-gerak ditafsir dan 
dipahami dalam kaitan satu sama lain. Bagaimana pula 
setting for liturgy (jemaat, tempat/lingkungan) dan 
conducting of liturgy (khotbah, musik, gestur, sarana 
partisipasi lain) dapat membantu memahami teks biblis, 
doa, simbol, gestur liturgis. (c) Adaptasi liturgis dan 
kritik teologi liturgi yang memerhatikan konteks kultural 
dan teologis dari perayaan liturgi. Pada umumnya, “konteks 
adalah text” untuk membetulkan fokus dalam teologi 
liturgi, dari studi filologis-teologis atas teks liturgis 
(sakramentari, pontifikal, dsb) menjadi pada perbincangan 
tentang sumber-sumber itu dalam terang perayaannya, baik 
pada waktu dulu maupun sekarang. Dari lex orandi-lex 
credendi, menuju lex agendi. Lex agendi menjadi fokus juga 
dalam teologi liturgi. Lex agendi menjadi locus, sumber 
untuk berteologi.
 
B.      TEKS MEMBENTUK KONTEKS (text shapes context = teologi 
dan spiritualitas yang berasal dari liturgi, teks adalah 
data dari investigasi atas teologi liturgi). Teologi 
liturgi (text) perlu membentuk teologi dan spiritualitas 
orang yang berpartisipasi dalam liturgi (context). 
Interpretasi teologis atas unsur konstitutif dalam liturgi 
(Sabda, simbol, eukologi, seni) mempunyai implikasi 
konstitutif bagi hidup Gereja, khususnya untuk refleksi 
teologis dan pengembangan spiritualitas lewat liturgi. 
Antara text dan context ada relasi dialektis 
berkelanjutan, di mana setting kultural dan eklesial yang 
menjadi tempat liturgi (context) memengaruhi cara kita 
mengalami  dan menafsirkan liturgi (text).
 
 
 
 
 
BACAAN ACUAN
 
Bell, Catherine. Ritual: Perspectives and Dimensions. New 
York-Oxford: Oxford University Press, 1997.
Dillistone, F.W.  The Power of Symbols. London: SCM Press 
Ltd, 1986.
Irwin,  Kevin W. Context and Text: Method in Liturgical 
Theology. Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1994
Liturgy Digest. Majalah terbitan Notre Dame Center for 
Pastoral Liturgy. Vol. 1, No. 1, Spring 1993.
Lukken, Gerard. Per Visibilia ad Invisibilia. Kampen: Kok 
Pharos Publishing House, 1994.
Harun, Martin. “Ritus, Simbol, dan Mitos dalam Kalangan 
Umat Alkitab”. Makalah untuk Colloquium Liturgicum yang 
diselenggarakan oleh ILSKI, 1998.
Skorupski, John. Symbol and Theory. Cambridge: Cambridge 
University Press, 1976.