Mengapa kausuka lagu: “Kasih-Nya Seperti Sungai?”
Karena kauberpikir bahwa kasih Allah itu mengalir bagaikan 
air sungai yang jernih, menyirami, menyegarkan. Ia adalah 
kesuburan, kesejukkan, kebahagiaan.
Tetapi kaulupa, wahai beraja, sungai pun adalah ancaman 
yang mengenaskan. Ia membawa limbah, ia menyebabkan 
banjir, ia bisa meluap-luap, ia melenyapkan.
 
Maka, kasih yang mengalir bagaikan sungai itu bukan hanya 
kasih yang membelai, tetapi juga kasih yang menghajar. 
Tanpa badai, kasih menjadi sia-sia, hampa, tak bermakna, 
tak menguji kesetiaan.
 
Semakin ke hilir, air semakin keruh, semakin rawan banjir. 
Padahal di hulu air mengalir jernih dan bening. Maka 
berusahalah untuk semakin dekat ke hulu, ke sumbernya; 
berusahalah untuk semakin dekat ke mata air kasih itu, 
yakni Allah sendiri, karena semakin kita ke hilir, jauh 
dari Allah, semakin keruhlah hidup kita; semakin rawan 
akan bencana dan badai kehidupan yang merongrong makanan 
yang bernama CINTA itu.
Semua terserah kepadamu, beraja!!!!!