kita tahu bhw KS adalah buku iman. Refleksi atas pengalaman iman bersama Allah; ia bukan buku sejarah. Mengapa juga keempat pengarang Injil selalu menampilkan pesan dan kisah tentang Yesus yang berbeda-beda, padahal subjeknya sama. Jawabnya: tentu karena refleksi yang berbeda, makna atas pengalaman yang berbeda, tujuan yang berbeda dan bla.. bla..

Lembar kosong nampaknya adalah sesuatu yang biasa, kebetulan, atau hanya sekedar untuk menggenapi halaman supaya tidak ganjil. Menurut saya Tidak. Halaman kosong adalah sesuatu yang simbolis di mana kita diajak untuk menulis “injil” hidup kita sendiri. Kita diundang untuk menuliskan pengalaman-pengalaman perjumpaan kita dengan Yesus, apa pun bentuk pengalamannya. Dalam manis dan getir, kecut dan pahit, asin dan pedes (apalagi ya..) apakah kita mampu menemukan penyertaan Dia seperti Yakub yang mampu bersyukur meski dibuang saudara-saudaranya.

Markus, Matius dan Lukas menutup kisah sengsara Yesus degan ungkapan: “AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mengapa? Karena menurut refleksi ketiga pengarang Injil ini, Yesus pertama-tama adalah “manusia unggul” yang karena ketaatanNya Ia dinggikan oleh Allah. Maka kisahnya diawali dengan silsilah Yesus dan tentang kelahiranNya. Dengan kata lain, titik tolaknya adalah manusia. Anak Manusia yang dipanggil Allah, mengalami kengerian maut, kesepian, dan bertanya: Engkau telah memanggil Aku, tapi sekarang Engkau di mana? Kita pun bisa bertanya: saya telah melakukan banyak kebaikan dan kebajikan, doa dan pengabdian, kesetiaan dan ketekunan, tapi sekarang saya menderita. Allah, di mana Engkau?

Sementara Yohanes mengungkapkan Yesus yang berseru: “Sudah selesai.” Menurut refleksi Yohanes, Yesus adalah Putra Allah, Ia adalah Sabda yang menjadi manusia (lih bab 1). Ia adalah Anak Allah yang rela merendahkan diri menjadi manusia demi suatu misi: Kerajaan Allah sareng kesalamatan. Maka ketika Anak Allah ini bergantung di salib Ia telah menyelesaikan misiNya di dunia dan sudah tiba saatNya untuk kembali kepada tahta yang semestinya. “Sudah selesai,” begitulah ungkapnya. Kita pun bisa berseru, Bapa saya sudah berusaha menjalani hidup sekuat tenaga agar sesuai dengan kehendakMu. Saya sudah banyak berdosa, sudah banyak menegcewakanMu, saya menderita, saya trauma, saya…. Sekarang tugas saya untuk memujiMu di dunia “telah selesai” meskipun sering gagal dan bla… bla….

Lantas mana yang benar. Sinoptik atau Yohanes? Semuanya benar dan tidak ada yang salah. Hanya yang membedakan adalah refleksi mereka. Permenungan atas pengalaman kebersamaan langsung dengan Yesus, itu yang membedakan.

ITU HANYA CONTOH.

Nah, lantas kita melihat dan mengalami Yesus itu seperti apa? Mari kita tuliskan semuanya itu dalam “injil pribadi” kita. Melihat dan menemukan Dia dalam sejarah hidup kita. Lantas kelak di ujung senja kita, kita mau berkata seperti apa: “…mengapa Engkau meninggalkan Aku?” atau “Sudah selesai”? Atau mungkin kita punya ungkapan lain seperti Nuhun Gusti, saya takut, saya masih pengen jail ya Bapa jangan mati dulu, dan bla..bla..

Istilah menulis “injil pribadi” pun tentunya juga simbolis, tergantung qta menafsirkannya apa. Menulis dalam arti apa….