Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saya sudah masuk ke dalam keheningan batin. Keheningan di tengah keramaian, mungkin itu istilahnya. Tapi sebenarnya keheningan yang gundah. Saya masuk ke bilik batin, dan rupanya banyak resah di sana. Ada begitu banyak pergulatan dan hal-hal yang harus dipikirkan. Ya keprihatinan tentang gempa lah, persiapan kuliah lagi, belum bikin laporan tahunan, refleksi tahunan, kemantapan ngadepin kaul, dan bla… bla… Pokoknya keheningan yang gundah dan resah (memang begitulah ketika kita berjumpa dengan diri sendiri).

Akhirnya saya terus bergulat dengan diri sendiri. Rasa lelah sehabis perjalanan panjang dari Jogya dan jalan kaki pun jadi tidak terasa lagi. Sambil terus jalan, entah nyampe daerah mana, tiba-tiba mata saya tertuju pada tali merah (kayak gantungan HP atau Name Tag) di trotoar. Setelah dekat ternyata itu adalah sebuah kunci (sepertinya kunci rumah atau kunci gerbang). Tanpa peduli kalo yang punyanya nyari ke situ, lantas saya ambil kunci itu (isengnya kambuh ya…). Masih dalam keheningan aku genggam kunci itu sambil terus jalan. Aku genggam terus tanpa tahu untuk apa. Tiba-tiba Tuhan berkata: “Kamu adalah kunci untuk dirimu sendiri, untuk hidupmu sendiri.” Ingin rasanya tertawa, ingin juga rasanya menangis. Tuhan itu lucu yah… juga baik….

Yeah, Tuhan itu hanya memberi segala tawaran (yang baik dan membahagiakan tentunya) tetapi kuncinya tetap ada pada diri kita sendiri. Apakah mau memilih tawaran Tuhan atau tidak. Akhirnya kegundahan itu berubah menjadi kedamaian. Lalu berteriaklah jiwa pada dunia: Aku adalah kunci hidupku. Seketika itu juga saya kembali ke dunia, keluar dari keheningan dan kembali masuk ke dalam keramaian malam kota Bandung. Segalanya menjadi ringan….

Tapi isengnya kumat… kuncinya kujatuhkan lagi di trotoar… entah sudah berapa meter/km dari tempatnya semula. Semoga yang punya bisa masuk rumah…