Jeritan-Nya

 

Maut mencekam

Penderitaan menyayat pori

Menggemakan lara daksa yang menusuk sukma.

 

Dera dan siksa merajam kasih suci

Duri-duri memahkotai ketulusan hati

Cambuk-cambuk dosa mengukir lapisan tak berdaya

Merobek sendi-sendi yang bergantungan.

 

Kasih-Nya dibungkam penghinaan

Keilahian-Nya ditelanjangi kedurhakaan

Dahaga-Nya disiram kepahitan.

 

Sakratul maut kian mendasyat

Ketika Ia terentang di kayu palang

Palu-palu menggema menikam kekeluan

Meremukkan sisa kekuatan.

 

Antara langit dan bumi

Dalam kesendirian dan kesepian

Dalam ambang maut yang kian mencekam

Merajam sisa kekuatan

Ia kabarkan derita-Nya

Menjerit melengking nyaring

Mengungkap kepahitan.

 

Jeritan-Nya

Mengguncangkan dasar-dasar bumi

Membelah kubur-kubur para suci

Membuka tabir Bait Suci

Dan mengoyak hati para terkasih.

 

Jeritan-Nya

Menggelorakan guntur-guntur

Guruh-gemuruh menggoncang surga

Menggenapkan kehendak Bapa.

 

“Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Bumi menjadi pekat dan hening

Malaikat gemetar, tersungkur menyembah

Bunda bertelut dalam duka

Sakit, terpahat luka anaknya.

 

Dan,

Allah pun menangis.

 

(Jeritan-Nya, memanggil aku)

 

Menjelang Jumat Agung, 2006