Komputer,

 

Senja selalu membawa cerita tentang hari,

membawa siang meminang malam.

Senja selalu membawa kisah tentang peluh untuk bahan cerita bersama keluarga.

 

Senja, keremangan yang gamang

tidak terang, tidak juga gelap.

Samar.

 

Adakah hidupku di ambang senja yang mengurai kepribadian, sementara jiwa mendamba teduh yang tidak gelap, tidak juga remang.

Aku tahu, senja bagaikan pintu kubur yang membawa pada kepekatan.

Tetapi pekat itu juga adalah harapan akan fajar esok pagi bersama Sang Surya Keadilan. Tapi akankah fajar itu menjadi bukti bahwa terang akan tetap abadi?

 

Komputer,

Bersama senja hari ini,

biarlah kubawa mimpiku ke dalam pekat malam.

Biarlah ragaku terkubur gulita, tapi mimpiku ‘kan tetap abadi.

 

Bukankah Ia kini mati

masuk dalam lorong gelap, got-got kenistaan, lumpur-lumpur kedurhakaan, kepicikan, serta kemunafikan.

Ia yang menyejarah, telah melampaui ribuan senja,

bahkan kini tak berdaya dalam kegelapan.

Tapi kegelapan tak mampu membalut cahaya Cinta.

Esok Ia akan bangkit

Ia akan mengangkasa.

Ia ada. Ia beserta kita.

Ia mengada.

Ia menjadi.

Ia merajai.

 

Biarlah kumasuki senja ini, bibir lorong kegelapan,

Karena kutahu esok akan ada fajar.

Aku akan bangkit bersama Dia.

Mengangkasakan angan-angan dan sejuta impian

seiring terangkatnya Ia dalam kemuliaan.

 

Selamat menjemput malam komputer,

Engkaulah temanku dan hanya engkau yang mengerti aku karena semua data ada padamu.