Entah Apa Judulnya
 

I

Belum renta tubuh ini, tetapi jiwaku terasa ngilu

Hatiku retak membelah kutub mimpi dan hidup nyata

Mengusik kemapanan, keseharian

Merogoh kekelaman

Menyisir titian

Tubuhku berkembang, tetapi jiwaku enggan merekah

Kuncup-kuncupku melunglai.

 

Jiwaku menggelepar dalam ranah tak bertepi

menyusup

meraksuk

membenam

kelam.

 

II

Dahaga ini menyeret-nyeretku tak ke mana pun

menjerat-jerat

melumat

memikat

sampai melunglai

menghilang.

 

Anganku telah merajam jiwa tak berdosa

menafaskan luka pada bilik diri

Membingkai arti yang tak pernah kumengerti

Memahkotai jati diri, yang bukan diriku.

 

Jiwaku kian menggelepar dalam ranah tak bertepi

‘bak malam membingkai hari

menyimpan elegi demi tawa esok pagi.

 

III

Ambisi diri

Cita-cita tak berestu

Hanyalan lafalan kelam yang membawaku tak ke manapun.

 

Keangkuhanku kadang membuatku tampak rapuh

Ambisiku hanya mencecer lunglai

Menyisakan kelu yang tak dapat terkisahkan.

 

IV

Biarlah,

Biar kini aku mengada lagi

Meski harus merayap di tepi bingkai yang tak kumaui

Asal Kau ada, aku bahagia.

 

Kan kusenandungkan elegi ini

Demi tawa esok hari

Karena,

Sisiran badai kehidupan

Terpaan rancu kemauan

Hanyalah mahkota

Perjalan ‘tuk mencicip setetes saja

rasa aman dan titian harapan.

 

Istirahatlah jiwaku

Ciptakan ruang untuk esok pagi

Terbenamlah dalam sepoi sapaan syarat makna

Mengalunlah

Mengakarlah, mengembanglah, merekahlah.

 

IV

{Hidup hanyalah kisah transendensi

tempat jiwa mengada makna

bersama menari, sendiri menyepi

demi citra diri dari yang ilahi}

 

Kisah 2005