Pada suatu hari seorang bapak datang kepada pembimbing spiritualnya dan bertanya.

 

“Saya tidak mengerti dengan sifat Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih.”

“Anda pasti telah membaca Kitab Suci.”

“Saya mencoba untuk membacanya.”

“Anda bingung karena Kitab Suci menggambarkan Tuhan dengan sifat Mahakuasa dan Mahakasih?”

“Betul.”

“Mahakuasa dan Mahakasih berarti Tuhan memiliki kekuasaan tidak terbatas dan memiliki kasih yang melimpah.”

“Saya mengerti konsep itu. Hanya saja… ada kontradiksi di sana.”

“Ya. Kontradiksi itu menyakitkan. Orang kelaparan, peperangan, penyakit, bencana…”

“Tepat. Banyak hal yang mengerikan di dunia ini. Tragedi yang terjadi pada manusia seperti membuktikan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat kekuasaan yang tidak terbatas dan kasih yang berlimpah. Kalau Dia mencintai kita dan memiliki kekuasaan untuk mengubah situasi penderitaan manusia, mengapa Dia tidak berusaha mencegah penderitaan kita?”

“Betulkah begitu?”

“Ya. Jika Tuhan mencintai kita, maka Tuhan akan melindungi kita. Memang begitu seharusnya. Sepertinya Dia Mahakuasa tapi tidak peduli, atau Maha Pengasih tetapi tidak berdaya untuk menolong.”

“Anda punya anak.”

“Punya.”

“Anda mencintainya?”

“Tentu saja. Saya sangat mencintai.”

“Apakah Anda akan melakukan apa saja dengan kekuasaanmu untuk mencegah kesengsaraan dalam hidupnya.”

“Tentu saja.”

“Apakah Anda akan membiarkan anakmu yang sudah berusia delapan tahun untuk bermain sepatu roda?”

“Tentu saja saya akan memolehkannya bermain sepatu roda tapi saya akan menyuruhnya supya berhati-hati.”

“Jadi sebagai seorang ayah Anda tidak akan melarang anak Anda untuk bermain sepatu roda, tetapi Anda akan memberikan nasihat kepada anak Anda supaya ia berhati-hati ketika bermain sepatu roda?”

“Betul. Saya tidak akan terus-menerus ikut aka saya ketika ia bermain sepatu roda. Dan tidak akan terus-menerus memanjakannya.”

“Tetapi bagaimana kalau ia jatuh dan ia terluka?”

“Dia akan belajar untuk lebih hati-hati.”

Si Pastor tersenyum:

“Jadi walaupun Anda memiliki kekuasaan untuk ikut campur dan mencegah agar anakmu tidak menderita, Anda lebih memilih untuk memperlihatkan cintamu dengan membiarkannya belajar dari kesalahannya sendiri?”

“Tentu saja. Rasa sakit adalah bagian dari pertumbuhannya. Begitulah kita belajar.”

Si Pastor menganguk:

“Tepat sekali. Dan Anda sudah bisa menjawab pertanyaan Anda sendiri.”