Sebuah pergulatan batin anak manusia yang mencintai dunia, bangga akan pencipta, namun pada suatu titik merasa tidak berdaya. Tapi, bukankan tawa mengalir dari lubang duka? Seperti sebuah doa: “Dalam luka-lukaMu, sembunyikanlah aku.”

Inilah sebuah senandung dari seorang eksistensialis ala Blaise Paschal dan Soren Kierkegaard.

 

Apakah Aku?

 

Apakah aku seorang masokis

ketika aku menikmati luka dan derita

ketika aku menikmati orgasme kegilaan dari perih dan

ketir kehidupan

ketika aku bisa mencecap manisnya madu dari

keterpatahan jiwa.

 

Apakah aku seorang masokis

ketika aku terlelap dalam lubang luka-luka,

lorong-lorong gelap kehidupan

ketika aku mengalami trans meskipun kepribadian terurai

ketika aku tertawa di atas puing-puing “penindasan.”

 

Apakah aku …

ketika aku hanyut dalam kegilaan … (sensor)

sementara mereka tertawa, “Lihatlah si sinting yang

tak punya nyali bagi dunia!”

 

Apakah aku…

ketika aku menjilati luka-luka komunitas

menghirup tetesan darah dari mereka yang merasa kalah.

 

Apakah aku…

ketika aku bertahan dalam kesepian

dalam angan-angan yang bukan kekinianku.

 

Apakah aku…

ketika aku mencintai mereka yang membuatku terpenjara

memasukkanku ke teralis luka batin

bilik-bilik senyap yang tak kupahami

ketika aku merasa kehilangan atas kebersamaan yang

sebenarnya biasa-biasa saja.

 

Apakah aku benar-benar sudah gila

ketika aku menuruti ajakan. “Ikulah!”

ketika aku terbuai oleh sanjungan, “Aku membutuhkanmu.”

ketika aku mendengarkan nasihat kurang ajar saat aku

jatuh, “Bertahanlah!”

sekalipun tidak ada kata penghiburan di saat aku

merindu sesuatu yang di luar diriku.

 

Aku hanya tahu

susah membedakan antara yang gila dengan yang waras

dan aku hanya tahu apa artinya kesengsaraan dan penderitaan.

 

Itu sudah cukup bagiku.

 

 

Pasosonten, di saung kahuripan.