Sudah Selesai


Adalah manusia-manusia yang merangkai hari dalam bentuk persahabatan sejak awal perjumpaan. Manusia-manusia yang mengada dan menjadi sesuai panggilan nurani yang akan membawa mereka pada titik akhir peziarahan. Mereka bertemu dalam salah satu perhentian pengalaman yang mengukir secuil sejarah hidup. Setelah itu berpisah di persimpangan, untuk kemudian bertemu kembali di tempat tujuan.

Perpisahan, bagi kebanyakan orang, adalah sesuatu yang menyakitkan. Tetapi bagi mereka yang mengerti dan mengenal diri, perpisahan adalah anugerah karena ia telah meninggalkan jejak yang akan menjadi bekal bagi hidup masing-masing. Perpisahan adalah kesempatan dan kepercayaan; melepaskan adalah ungkapan keutuhan pribadi manusia yang selalu percaya dan memberi kesempatan. Orang bilang kesempatan itu hanya muncul sekali seumur hidup, tetapi bagi mereka yang memiliki intimitas relasi tidak akan pernah percaya sepenuhnya. Mengapa? Karena kesempatan selalu diberikan dan tidak akan pernah berhenti. Yang hanya sekali adalah kepercayaan. Ya, kesempatan itu mudah didapat, tetapi kepercayaan sukar untuk diraih.

 Adalah manusia-manusia utuh yang hanya bisa mengerti gerak hati dan hasrat diri setiap pribadi, yang berani menyambut dengan tangan terbuka para musafir yang menyinggahi bilik hati. Juga adalah manusia-manusia utuh yang hanya bisa mengerti gerak hati dan hasrat diri setiap pribadi, yang rela mengurai ikatan kemapanan demi keutuhan itu sendiri.

 Para pujangga berkata:
“Manusia akan terus mengada, ibarat kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”

Dan si aku berkata:
“Manusia akan terus menjadi, ibarat isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

 Demikianlah adanya. Perjumpaan bukanlah ikatan yang menarik, meraih, menggenggam; melainkan uluran untuk melepaskan yang akan menjadikan kebersamaan menjadi tiada. Ketiadaan yang tidak lenyap. Ketiadaan yang tidak habis dan hilang. Melainkan ketiadaan yang sunyata. Para mistikus bilang: kosong itu berisi, berisi itu kosong. Manusia-manusia mandiri akan terus mengada sambil memasuki kesunyataan tanpa pernah terikat pada secuil pengalaman atau sekejap perjumpaan.

 Adalah manusia-manusia yang tidak pernah meminta kebahagiaan yang mengerti tentang arti kehidupan. Ia tidak meminta kebahagiaan, melainkan mencari kebahagiaan di balik puing-puing pengalaman dan reruntuhan egoisme. Pada titik tertentu tingkat pencerahan menjadi nyata sekaligus sunyata: Kebahagiaan itu altruistik, bukan egoistik.

Pencarian akan terus berlanjut, karena hakikat manusia cinta adalah mengada dan menjadi. On going dan becoming. Sampai pada akhirnya ia berseru: “Sudah selesai.” Manusia cinta akan menyerukan kemerdekaan pada akhir hayatnya dengan ungkapan: “sudah selesai,” bukan lagi:“Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meinggalkan daku?”

Tentu. Karena ia ilahi, ia secitra dengan pencipta.
Ia ada dan mengada.
Ia hadir dan menjadi.
“Sudah selesai.”