
Aya kukituna eta jalma.
Memangna kunao kitu.
Lain asa ku teu boga pikiran pisan.
Enya, kunaon kitu.
Eta aya sendal ditincakan…karunya pisan sendalna panaseun ku aspal.

Mei 30, 2009

Aya kukituna eta jalma.
Memangna kunao kitu.
Lain asa ku teu boga pikiran pisan.
Enya, kunaon kitu.
Eta aya sendal ditincakan…karunya pisan sendalna panaseun ku aspal.

Mei 30, 2009
Berbahagialah mereka yang selalu mencari mutiara
dalam lumpur-lumpur duka
surga kaumiliki.
Mei 30, 2009
Adakalanya hidup ini terlalu mulia untuk hanya dibatasi dalam kata.
Tapi kata merupakan anugerah yang telah menjadi bahasa semesta.
Walau ada kasih Bapa yang tak tertampung kata
Tapi setidaknya kata bisa menjadi peristiwa bahasa yang mempertemukan diri dengan pemiliknya.
Terima kasih Bapa.
Atas keluasan dan keindahan hidup ini.
Kirimkanlah rahmat dan berkat melimpah ke Pdl sana.
Ah, seandainya ada sarana untuk mengungkap keluasan kasih dan berkatMu.
Engkau tahu, Bapa
Mei 30, 2009
Itu tubuh mengucur darah
darah
darah
merah
kasih Allah menyala
membasuh setiap jiwa yang terluka
Selamat memasuki Pekan Suci.
1/4/07
Mei 30, 2009
MOM, I’m here …
When you were 1 year old,she fed you and
bathed you.
You thanked her by crying all night long.
When you were 2 years old, she taught you to
walk.
You thanked her by running away when she called.
When you were 3 years old, she made all your
meals with love.
You thanked her by tossing your plate on the floor.
When you were 4 years old, she gave you
some crayons.
You thanked her by coloring the dining room table.
When you were 5 years old, she dressed you
for the holidays.
You thanked her by plopping into the nearest
pile of mud.
When you were 6 years old, she walked you to school.
You thanked her by screaming, “I’M NOT GOING!”
When you were 7 years old, she bought you a baseball.
You thanked her by throwing it through the next-door-neighbor’s window.
When you were 8 years old, she handed you an ice cream.
You thanked her by dripping it all over your lap.
When you were 9 years old, she paid for
piano lessons.
You thanked her by never even bothering to practice.
When you were 10 years old she drove you all day,
from soccer to gymnastic to one birthday party after another.
You thanked her by jumping out of the car and never looking back.
When you were 11 years old, she took you and your
friends to the movies.
You thanked her by asking to sit in a different row.
When you were 12 years old, she warned you not to
watch certain TV shows.
You thanked her by waiting until she left the house.
When you were 13, she suggested a haircut that was becoming.
You thanked her by telling her she had not taste.
When you were 14, she paid for a month away at summer camp.
You thanked her by forgetting to write a single letter.
When you were 15, she came home from work, looking for a hug.
You thanked her by having your bedroom door locked.
When you were 16, she taught you how to drive her car.
You thanked her by taking it every chance you could.
When you were 17, she was expecting an important call.
You thanked her by being on the phone all night.
When you were 18, she cried at your high school graduation.
You thanked her by staying out partying until dawn.
When you were 19, she paid for your college intuition,
drove you to campus carried your bags.
You thanked her by saying good-bye outside the door
so you wouldn’t be embarrassed in front of your friends.
When you were 20, she asked whether you were
seeing anyone.
You thanked her by saying, “It’s none of your business.”
When you were 21, she suggested certain careers for
your future.
You thanked her by saying, “I don’t want to be like you.”
When you were 22, she hugged you at your college graduation.
You thanked her by asking whether she could pay for a trip to Europe.
When you were 23, she gave you furniture for your first apartment.
You thanked her by telling your friends it was ugly.
When you were 24, she met your fianc and asked about your plans for the future.
You thanked her by glaring and growling, “Muuhh-ther, please!”
When you were 25, she helped to pay for your wedding, and she cried
and told you how deeply she loved you. You thanked her by moving
halfway across the country.
When you were 30, she called with some advice on the baby.
You thanked her by telling her, “Things are different now.”
When you were 40, she called to remind you of a relative’s birthday.
You thanked her by saying you were “really busy right now.”
When you were 50, she fell ill and needed you to take care of her.
You thanked her by reading about the burden parents become to their children.
And then, one day, she quietly died. And everything you never did came crashing
down like thunder on YOUR HEART.
Mei 30, 2009
GEMBALA KAMBING
Suatu hari, Ceuceu seorang mahasiswa peternakan
berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Ceuceu bertanya dengan takjub,
Ceuceu : “Pak, boleh nanya nih?”
Gembala: “Boleh”
Ceuceu : “Kambing-kambing bapak sehat sekali, bapak
kasih makan apa?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput
basah”
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Ceuceu : “Hmmm….kambing- kambing ini, kuat jalan
berapa kilo pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, 4 km sehari”
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Si Ceuceu mulai gondok…… ..
Ceuceu : “Kambing ini, menghasilkan banyak bulu
pertahunnya ya, pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : (dengan kesalnya) “Yang hitam dulu deh….”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, banyak…… 10 kg/th”
Ceuceu: “Kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Si Ceuceu mulai kesal: “BAPAK INI KENAPA SIH SELALU
NGEBEDAIN KAMBING JADI 2,PADAHAL JAWABANNYA SAMA AJA
?!!!!!!!!!!? “
Gembala: “Oh, gini dik, soalnya yang hitam itu, punya
saya……”
Ceuceu : “Oh begitu pak, maafin saya kalo gitu,
habisnya saya emosi.
Kalo yang putih punya siapa, pak??”
Gembala: “Yang putih juga!!!!”
Mei 30, 2009
Wawancara dengan Tuhan
“Selamat pagi, ya Tuhanku,” aku berseru kepada Tuhan seraya mengetuk pintu dalam doa.
“Silakan masuk,” sambut Tuhan.
“Jadi kamu ingin mewawancari Aku?” lanjutNya.
“Kalau Tuhan ada waktu,” sahutku.
Sambil tersenyum Tuhan berkata:
“Abadilah waktu bagiKu. Maka Aku ada cukup waktu untuk melakukan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan apa yang hendak kauajukan kepadaKu?”
Lalu aku mulai bertanya:
“Apa yang paling mengejutkan Tuhan mengenai bangsa manusia?”
Tuhan menjawab:
“Yang paling mengherankan Aku mengenai bangsa manusia adalah mereka mudah bosan sebagai anak-anak dan mau cepat-cepat menjadi orang dewasa dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka merusak kesehatannya dengan mengejar uang dan menghabiskan uang itu untuk pengobatan. Mereka terlalu cemas tentang masa depannya dan melalaikan masa kini sehingga mereka tidak dapat menikmati dengan baik masa sekarang maupun masa depannya. Mereka menjalankan hidup seolah-olah tidak akan mati, tetapi mati seakan-akan tidak pernah hidup.”
Setelah itu tangan Tuhan memegang tanganku, lalu kami berdiam sejenak.
Kemudian aku bertanya kepada Tuhan:
“Pelajaran apa saja yang pantas kami pelajari? Dan selaku Bapa, Tuhan menghendaki apa yang harus dipelajari anak-anakMu?”
Tuhan menjawab:
“Mereka perlu belajar supaya apa yang paling utama dalam hidup, bukanlah apa yang mereka miliki, melainkan siapa yang mereka punya dalam hidupnya. Mereka harus belajar bahwa tidak baik untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain sebab semua orang akan diadili menurut nilai pribadinya, bukan sebagai kelompok perbandingannya. Mereka harus belajar bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, melainkan orang yang punya secukupnya untuk kebutuhannya.”
“Mereka harus belajar bahwa waktu berapa menit saja perlu untuk menyakiti dan melukai hati orang yang mereka cintai padahal mungkin perlu bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.”
“Mereka perlu belajar untuk memaafkan dan mengampuni bahwa sesungguhnya ada banyak orang yang amat mencintai mereka, namun saja tidak tahu bagaimana caranya untuk menyatakan itu dan mengekspresikan perasaannya.”
“Mereka perlu belajar bahwa meskipun uang dianggap bisa membeli segalanya, namun tidak dapat membeli kebahagiaan.”
“Mereka harus belajar bahwa teman yang baik adalah orang yang mengetahui semua termasuk kekurangan-kekurangan mereka, tetapi tetap menyukainya.”
“Akhirnya, mereka harus belajar bahwa tidak cukup mereka menerima pengampunan dari orang lain, melainkan mereka harus mengampuni diri sendiri.”
Setelah itu Tuhan berhenti berbicara, aku pun duduk diam sebentar di situ sambil menikmati saatnya. Lalu aku menyampaikan terima kasih kepada Tuhan atas pertemuan yang indah itu dan juga atas segala berkat yang telah kuperoleh dari Tuhan.
Kemudian Tuhan berkata:
“AnakKu, kamu boleh datang untuk wawancara denga Aku kapan saja karena Aku tetap siap 24 jam. Tanya apa saja dan Aku akan menjawab. Hanya harus kauingat ini: Orang-orang akan melupakan apa yang kamu katakan atau apa yang kamu perbuat, tetapi mereka tidak akan melupakan apa yang kamu lakukan kepadanya untuk membahagiakan mereka.”
Setelah itu, aku pulang dengan bahagia.
Mei 30, 2009

Jangan kesal satu hari pun dalam hidupmu
Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.” Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputu asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.
Saudaraku yang budiman, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.
Teruskan perjuangan hidup Anda!
Maret 16, 2009
Jangan Menangis Karena “Semuanya Indah”
Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluardari kamaroperasi.
Dia bertanya dengan penuh harapan: “Bagaimana anakku? Apakah dia dapat
disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi
sayangnya anak ibu tidak tertolong”
Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakkuyang tidak berdosa
bisaterkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?” Di mana Engkau
Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu? “
Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengananak ibu sela
beberapa waktu? Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum
jenazahnya dibawa ke universitas. “
Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan
selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap
rambut anaknya yang hitam itu.
“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagaikenangan?” perawat
itubertanya. Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan
menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.
Ibu Sally berkata, “Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk
diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia
dapat menolong orang lain yang memerlukan. Awalnya saya tidak
membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan
tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain
untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.’ “
Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu
memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia
bisa melakukannya. “
Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama
enam bulan di sana untuk merawat Jimmy.
Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan
pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki
rumah yang terasa kosong.
Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi
segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan
mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat
Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu. Kemudian dibaringkan dirinya
di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis
hingga tertidur. Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga. Di samping
bantalnya terdapat sehelai surat yang terlipat.
Surat itu berbunyi:
”Mama tercinta, Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan
selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun
saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.
Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu
ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba,
jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak
apa-apa ma.. Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.
Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan
hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus
membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak
perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma.
Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah
menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan
tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat
segalanya di sana.
Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang
melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak
terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku
melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku
menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di
pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang
sangat penting.
Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama
untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku
sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya. Tapi mama tahu,
Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis
surat ini kepada mama.
Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma.
Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya
‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan-Nya?’ Allah mengatakan Dia
berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.
Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak.
Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis
selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan
sehelai kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus
mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam. Bapa memerlukan pensil ini
untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan.
Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya. Aku
yakin makanannya akan lezat sekali. Oh, aku hampir lupa
memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker
itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit
itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.
Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk
menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman
istimewa! Bagaimana ma? Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku. “
Januari 22, 2009
langit dan awan
tak pernah berpisah
selalu berkawan
seakan mengukir suatu kisah.
bintang menyanjung bulan
menghiasi jagad raya
meminta tabir suatu jalan
bagi insan yang percaya.
aku dan sahabat
mengukir cerita tanpa akhir
takkan ada yang terlewat
dalam hati tlah kuukir.
bagai kalung mutiara
terajut indah dan bebas.
kebahagiaan tak tertara
dalam hati sedang melintas.
November 23, 2008
C
Setiap orang ingin hidup secara lengkap
Maka didambalah suatu taraf persahabatan.
Hidup pahit dan penuh luka.
Saat-saat manis persahabatan
Dapat merupakan mujizat kasih
Yang mengandung daya menyembuhkan.
Sahabat setiawan
Merupakan perlindungan yang kokoh
Barangsiapa menemukan orang serupa itu
Sungguh mendapat harta.
Sahabat setiawan tiada bernilai
Dan harganya tak tertimbang.
Ia adalah obat kehidupan.
Ah seandainya ada kata yang lebih indah
Selain terima kasih.
E
Santo Krisostomos berkata:
“Temukanlah pintu hatimu
Dan engkau akan mendapatkan
Itu adalah pintu Kerajaan Allah.”
Namun betapa sulitnya untuk masuk ke batin terdalam diri sendiri,
Menilik bilik diri dalam keheningan,
Ah…
U
Seseorang berkata:
Cinta yang ditolak, lepas dari tangan dan jatuh ke tanah, berubah menjadi lumpur.”
Tidak benar!
Cinta yang ditolak manusia, secepat kilat diterima Kristus sebagai mutiara.
Banyak cinta, jasa, dan nama
Dihina, dituduh, dibunuh.
Tetapi…
Sekalipun hancur, hilang
Bisa ditemukan kembali utuh dan mulus
Di dalam saku hati Kristus
A
Bila kita hidup bersama Kristus,
Kita tak perlu khawatir kalau-kalau akan mati sendirian!
Hati pun tak perlu getir.
Sekalipun sesekali pahit
Masih juga terasa samar-samar
bahwa ada bumbu kemanisanNya.
n
Dalam hidup ini ada dua penyakit yang tak perlu disembuhkan:
CINTA dan YESUS.
Keduanya tidak perlu disembuhkan
Sebab kesembuhannya akan mengakibatkan krisis dan frustasi.
W
Bagi persahabatan ilahi,
salib merupakan titik temu yang penuh arti.
Bagi persahabatn manusiawi,
salib bisa merupakan titik temu, sekaligus titik silang.
shb
Tiada mawar tanpa duri.
Sebagaimana mawar menguntum pada batang duri,
Begitulah persahabatan tumbuh pada penderitaan.
Bagi Allah, derita merupakan tempat kencan,
Pusat pertemuanNya dengan manusia.
Pada salibNya,
Ia bertemu sedalam-dalamnya dengan lubuk hati seluruh dunia
(juga hatimu).
Maret 3, 2007
rumput-rumput liar itu menjentik
menghembus sepoi yang nyaris tak kurasa
membawa warta
ada sahabat dari Bapa.
kamu.
Maret 2, 2007
Bangun tidur kuterus lari
sampai lupa mengosok gigi
nyampe kampus baru kusadar
aku masih pake piyama.
Maret 2, 2007
These are my wishes for you
may you find serenity and tranquility
in a world you may not always understand
may the pain you have known
and the conflict you have experienced
give you the strenght to walk through life
facing each new situation with courage and optimism
always know that there are those
whose love and understanding will always be there
even when you feel most alone
may a kind word,
a reassuring touchand a warm smile
be yours every day of your life
and may you give these gifts
as well as receive them
may the teaching of those you admire
become part of you
so that you may call upon them
remember, those whose lives you have touched
and who have touched yours
are always a part of you
even if the encounters were less than you would have wished
it is the content of the encouner that is more important than its form
may you not become to concerned with material matters
but instead place immeasureable value
on the goodness in your heart
find time in each day to see beauty and love
in the world around you
realize that what you feel you lack in one regard
you may be more than compensated for in another
what you feel you lack in the present
may become one of you strengths in the future
may you see your future as one filled with promise and possibility
learn to view everything as a worthwhile experience.
may you find enough inner strength
to determine you own worth by yourself
and not be dependent
on another’s judgment of your accomplishments.
may you always feel loved
Maret 2, 2007
Arti nama-nama penulis Injil : Yohanes, Mateus, Markus, Lukas
Rm. Gianta (Prof Kitab Suci di Institut Biblicum di Roma)
IOANNES
Mulai dengan namaku. Sebenarnya aslinya bunyinya bukan Yohanes, melainkan Yohanan. Begitu kedengarannya dalam bahasa Ibrani. Bentuk Yohanes itu cuma penyesuaian dari Ioannes, wajah Yunani dari nama Ibrani tadi. Artinya? Ah, letterlijk sudah jelas: Yo- itu Yahwe, Tuhan, dan -hanan, ucapannya mirip [khanan], artinya “ia menunjukkan perkenan/ melimpahkan rahmat”. Jadi namaku itu kalimat pendek yang menegaskan “Tuhan sudah melimpahkan rahmat”.Nomen omen. Yang Mahabesar itu kaya raya dengan rahmat hidayah. Tak perlu diminta, sudah melimpah ruah dari sana. Sudah turun kepada kita semua. Kalau kita berdoa memohon rahmat dan tuntunan hidayatnya, kita kan mengungkapkan kepercayaan bahwa Ia sungguh mau beri perkenan dan akan tetap begitu. Kebanyakan nama Ibrani asli dulu kalimat yang ada artinya dan biasanya menyatakan hal yang dilakukan Tuhan. Memang kami melihat, mendengar, dan dapat merasakan kehadiranNya meski sering kurang meluangkan diri bagiNya. Tapi Ia tidak membiarkan diri dibatasi oleh kekurangan kita. Itulah kebesaranNya. Lama baru kusadari itu. Dia yang di atas sana itu tidak terukur oleh banyak atau sedikitnya doa kita. Ia mengatasi semua itu. Ia bukannya Tuhan yang kasih sayangNya bisa ditukar dengan pujian atau diurungkan oleh kelemahan dan dosa kita. Dia bersinar di kegelapan justru karena Dia itu terang, bukan karena mau kuat-kuatan dengan si gelap yang lemah itu. Sudah kusuratkan, si gelap tak berdaya di hadapannya. Aku berkali-kali minta Gus menjelaskan hal ini dengan cara yang bisa dimengerti orang biasa.
MATHTHAIOS
Ehm, kalian boleh tahu, hanya aku, Yohanan, satu-satunya dari empat penulis Injil yang memiliki nama Ibrani yang asli dan benar, tidak kayak para anak muda zaman sekarang, namanya serba modern. Maththaios, yang bagi kalian Matius, aslinya memang keibrani-ibranian, yakni “Mattai”, bentuk pendek dari nama asli Ibrani “Mattatiah”, harfiahnya, mattat- ialah “pemberian,”dan -iah ialah sama dengan “yah, atau Yahweh,” maksudnya Tuhan. Jadi nama Matius itu dulu-dulunya berarti “anugerah dari Tuhan”. Memang ada tokoh sejarah yang nama utuhnya Mattatiah, di-Yunani-kan jadi Mattathias (bagi kalian Matatias). Ia tokoh perjuangan melawan pengaruh asing dua abad sebelum kelahiran Yesus – lihat saja 1 Makabe 2. Nama ini juga kemudian dipendekkan dan berbunyi Matias, yang jadi nama anak muda yang dipilih oleh kami bersebelas untuk menggantikan kedudukan Yudas Iskariot. Tanya lebih lanjut kepada Luc yang sudah mencatat peristiwa ini dengan teliti dalam Kis 1:18-26. Jadi nama Matius kalau diurut-urut artinya ya sama dengan Matias, walau orangnya beda. Nama mereka itu sama-sama menegaskan iman kepercayaan akan pemberian dari Tuhan. Mungkin yang memakai nama demikian itu mau mempersaksikan bahwa sudah mengalami anugerah besar dari Tuhan sendiri. O ya, tak usah berpendapat bahwa si Matt yang kita bicarakan sekarang ini sama dengan pemungut cukai yang bernama Matius yang mengikut Yesus menurut Injil Matius 9:9. Orang itu dulunya bernama Levi seperti dicatat Mark 2:14 dan diikuti Luc 5:27. Injil Matt menampilkan orang yang sama dengan alias Matius guna menegaskan panggilan itu anugerah ilahi seperti kujelaskan di atas. Seluk beluk selanjutnya bisa dijernihkan dengan ahli tafsir.Bagaimanapun juga, Matius, si Mattai itu, ialah bentuk modern, tentunya bagi zaman kami, buat nama tradisional Matatias. Jadi kayak nama tradisional Sugiyanto yang modernnya jadi Gianto. Kesannya, ia jadi kurang senang kalau namanya dikelirukan dan ditambah-tambah dengan “Su-”, apalagi bila disisipi “-y-”. Setuju, “Su-” dan “-y-” itu memberi kesan nama kodian. Maththaios juga kurang senang bila diingatkan bahwa namanya sama dengan Matatias, apalagi dengan Matias dari generasi kami. Orang sekarang! Dia suka dipanggil Matt. Tapi ia pernah terus terang berkata bahwa ia mempertahankan nama Yunaninya, yakni Maththaios, supaya bisa membuat kalian mikir tentang ungkapan Yunani “matheeteutheis” – seperti ditulisnya dalam Mat 13:52. Kata ini artinya “sudah mendapat pengajaran lengkap”. Memang ia mau supaya namanya yang bagi orang yang berbahasa Ibrani berarti “Tuhan telah memberi anugerah” itu ditangkap orang yang tahu Yunani secara lebih persis sebagai “sudah mendapat pengajaran sampai utuh”, jadi tidak separo-separo. Memang Matt itu begitu. Tahun lalu kalian kan disertai dia kan? Dia kan menunjukkan barang lama yang baru maknanya.
MARKOS
Kalian apa belum tahu siapa Mark? Namanya yang sesungguhnya ialah Markos Ioannes, jadi kayak namaku yang kedua, lihat catatan Luc dalam Kis 12:25. Tahu kan, dia itu kemenakan dari Barnabas (lihat Kol 4:10). Mereka berdua pernah bekerja kepada Paul. Ada banyak gosip tentang Mark, tapi kebanyakan sudah kalian dengar dari Luc. Begini, katanya Mark itu pernah hidup di Yerusalem, meski tampaknya tidak lahir dan besar di situ. Luc mencatat, ibu Mark bernama Maria (Kis 12:12 di situ Mark disebut dengan nama keduanya tok, yang sama dengan namaku) yang bukan salah satu Maria yang kalian kenal. Mark ini mengikuti Paul dan Barnabas (Kis 12:25) sampai di Siprus sebagai asisten mereka (Kis 13:5). Ini perjalanan Paul yang pertama yang terkenal itu. Tapi waktu mereka di kota Perga di wilayah Pamfilia (Turki Selatan), Mark tiba-tiba pergi meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem. Luc tak menjelaskan kenapa, tapi boleh jadi Mark kangen ibunya – anak muda seperti dia kalau masuk angin mintanya dikeroki mama sambil megat-megot (? = My God! My God!). Penginnya mendapat TLC (tielsi) – Tender Loving Care. Ah, kita tak usah ikut campur urusan gituan.Tapi kiranya perkara itu membuat Paul kurang percaya pada tekad Mark untuk ikut jadi misionaris! Kalian tahu, meski baik hati, Paul itu orangnya keras dan susah diladeni. Dia ceplas-ceplos omong nyinggung kanan kiri. Mugkin ini membuat Mark makan ati sampai minggat. Begitu maka dalam perjalanannya yang kedua, Paul tak mau diikuti Mark lagi. Tapi Barnabas bersikeras mau membawanya serta. Dan urusan ini jadi perselisihan terbuka antara Paul dan Barnabas – semua diceritakan Luc (Kis 15:37-39). Akhirnya Barnabas dan Paulus jalan sendiri-sendiri. Wah, dua orang itu memang keras kemauannya kayak para romo misionaris zaman dulu saja ya? Begitu maka Paulus memilih Silas, sedangkan Barnabas terus pergi bersama Mark berlayar ke Siprus. Kalian apa pernah mempelajari kasus misionaris awal ini. Tak kalah menariknya dibanding dengan benturan pilihan antara dua Yesuit cikal bakal misi Jawa kalian itu. Cuma belum jelas, siapa yang kayak Paulus dan siapa yang kayak Barnabas. Luc juga tidak mau terang-terangan kasih pendapat. Ia amat menghargai Barnabas dan Mark, tapi juga setia kepada Paul. Tapi agaknya Paul juga fair. Ia rujuk kembali dengan Mark di Roma (Kol 4:10 di atas; lihat juga 2 Tim 4:11). Ketika itu Mark tentunya sudah menjadi penerjemah Petrus di Roma dan mencatat semua kuliah lisannya dalam ujud diktat pendek tentang Yesus. Versi yang dirapikan kembali kalian punyai dalam bentuk Injil menurut Markus. Katanya kebanyakan dari kalian diajari membaca tulisan itu di novisiat – apa kalian nangkap?Wah, ngelantur. Orang setua aku memang sulit ngatur jalannya cerita. Kita tadi omong sampai mana ya? O, kan tentang Mark. Kalian mau tahu arti nama dia kan? Mark bukan nama asli Yunani – Markos – meski dicetak begitu dalam edisi asli. Namanya itu nama Latin ting. Yang bener tulisannya ialah Marcus, artinya “palu, martil, hammer.” Kita bayangkan ia bisa jadi anak seorang perwira Romawi yang tinggal di Yudea. Ibunya kiranya orang asli situ yang jadi kristen. Jadi Mark itu berdarah setengah Latin setengah Yahudi dan kristen sejak lahir. Ini sering bikin setori dengan orang Yahudi yang sering mengatai orang kayak dia ratetak. Ah, ini cerita lama. Tapi sebetulnya tak jelas kenapa ia dinamai Marcus. Orang Romawi itu adatnya praktis. Anak digadang-gadang supaya bisa jadi ahli ini itu dan dinamai dengan salah satu atribut khasnya atau piranti yang sering dipakai tokoh ahli ini. Yang memakai martil itu biasanya pandai besi kan, dan dalam masyarakat Romawi ya kaum ahli menempa pedang, senjata, roda besi, kereta. Jadi memang ia diharapkan berprofesi di kalangan para empu senjata. Ini butuh pengetahuan khusus. Boleh jadi bapaknya dulu dari divisi logistik pasukan Romawi dan ingin agar Mark nanti kalau besar jadi ahli tempa pedang. Dan memang ia menempa kata sehingga jadi Injil yang tajamnya bagai pedang bermata dua! Tulisannya dipakai dasar oleh Luc dan Matt. Kadang-kadang aku juga memanfaatkannya meski aku masih ingat semua yang kulihat dan kudengar dulu.
LOUKAS
Sekarang tinggal nama Luc yang mesti dijelaskan. Tapi dengar-dengar ia sudah pernah memperkenalkan diri kepada kalian. Luc itu leluhurnya orang Yunani utara – Makedonia, seperti Aleksander Agung – tapi sejak kecil pindah ikut orang tuanya dan besar di Antiokia, metropolitan yang sekarang namanya Antakya di Turki Tenggara, dekat perbatasan dengan Siria. Namanya memang Yunani asli, yakni Loukas. Sebetulnya ini bentuk panggilan akrab dari Loukanos. Rada mirip dengan Hans, sapaan akrab bagi Yohanes. Juga kedengaran agak modern kan? Maka Gus benar, ia memanggilnya Luc, pakai c, kedengaran lebih akrab. Bunyi Lukas dalam bahasa Indonesia, menurut Gus, tidak dapat memunculkan perasaan yang ada dalam nama Loukas, tidak seperti Luc.Luc orang Yunani kosmopolitan. Arti dasar namanya sayang masih teka-teki. Belum kutemukan jawaban yang memuaskan. Kalau tanya dia, malah tambah misterius. Di kepala ia rasional sampai ke tulang sungsum, tapi di hati tahyulnya mendarah daging. Luc memang selalu tampil tenang, intelektual, menguasai diri. Akrab tapi tetap enigmatik. Yang ketemu dia langsung merasa diperlakukan sebagai orang yang paling penting di muka bumi ini. Kalian tanya saja orang-orang paling malang; kan mereka jadi tokoh-tokoh penting dalam Injilnya! Kalian tahu juga, Ma Miryam – ibu Yesus – mau cerita soal dulu-dulu hanya kepada Luc. Ia bahkan bisa meladeni orang sesukar Paul. Ia menyertai Paul ke barat dan sabar menungguinya ketika dipenjarakan di Roma. Luc itu ahli menenun cerita. Sebelum menulis kitab pertamanya, dengan teliti diperiksanya semua kisah tentang Yesus. Ia menerjuni kawasan diegesis dan hasilnya ialah sebuah buku, dan dalam bahasa Yunani bisa disebut logos pula, artinya kisah yang ada nalarnya. Luc menerawang nalar dari perkara-perkara yang bisa dikisahkan. Dan semua dilakukannya dengan penuh perasaan. Para perempuan yang sering datang arisan ke sini sampai berlinang air mata terharu mendengar kisah yang ditulis Luc dalam bahasa Yunani yang indah itu. Juga para bapak yang mendengar semua kisah para rasul bisa jadi berapi-api penuh gairah mau ikut jadi penyebar semangat roh.Kalian boleh jadi tak pernah menyangka, Luc juga kenal macam-macam roh jahat, bahkan ia tahu persis nama-nama mereka: Beelzebul, Satanas, Diabolos, Daimonion, Pneuma Akatharton, Pneuma Poneeron. Rada kayak teman kita yang kenal sama para lelembut, memedi, dan dhemit Jawa walau tinggal di Roma. Hitung-hitung Luc tentunya juga tahu nama setan yang ketujuh, itu lho yang bersama enam yang lainnya pernah merasuki Maria Magdalena. Tapi kalian tanya pada Luc atau langsung sama Magda saja. Aku tidak begitu biasa omong tentang para setan – dalam tulisanku tak kuhubung-hubungkan kegiatan Yesus dengan eksorsisme. Ini katanya pernah jadi tanda tanya besar bagi para eksege. Mereka heran kenapa dalam Injil Yohanes praktis tak ada kisah pengusiran setan. Diskusikan ini dengan ahli kitab kalian saja.Rada puas kan? Anggap saja karangan-karangan yang kalian punya itu intinya dari Mark sang penempa kata dan diuntai kembali sebagai cerita asyik berisi nalar oleh Luc dan disepuh oleh Matt sehingga jadi anugrah istimewa bagi siapa saja. Kuusahakan pula agar pokok yang mereka garap itu dapat dipandangi dan didengar sebagai kelimpahan perkenan dari atas sana..
Maret 2, 2007
Ingat bebek? Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka.
Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam. Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.
Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.” Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?” Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Johnny mencuci piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.” Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.” Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun. Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.” Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di’jendela’. Dan Dia melihat segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu. Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu.”
Maret 2, 2007
Malam.
Gelap.
Untung ada listrik.
Jadi terang dech.