Puisi


YA…

 

Pada mulanya adalah cinta.

Cinta itu meraksuk, menyergap, dan membakar

gelegak masa muda kami.

Dan kami pun terpesona karenanya;

kami bermimpi karenanya.

 

Dalam kerapuhan dan keterpatahan,

kami melangkah,

meraih satu mimpi untuk bersatu dengan Sang Cinta itu.

Cinta yang telah membuatnya terpaku; terpalang.

Cinta yang telah mengucurkan air dan darah;

keringat dan air mata,

yang mengalir dari kaki salib.

Kini cinta itu menjadi nyata,

karena Ia ada dan mengada.

Mimpi kami telah menjadi harapan;

dahaga kami telah tersirami

oleh sumber keselamatan dari bawah kaki salib.

Dengan mantap dan tegap kami melangkah

Seraya berucap “Ya”

untuk cinta yang terpalang

untuk cinta yang menyelamatkan.

 

  dios.c

  10 Juli 2006

Doa Pemanggul Salib 2

 

 

     Ketika makna seolah hanya sekedar kata,

     Ketika cinta seakan bualan belaka,

     Kami datang Tuhan

     Bersujud di kaki salib-Mu

     Agar dunia tahu

     Bahwa kebahagiaan dan cinta sejati hanya ada pada-Mu.

 

     Ketika rapuh hidup menyiksa,

     Ketika harapan berubah menjadi putus asa,

     Ketika jiwa semakin rentan akan dosa,

     Kami datang Tuhan

     Siap memanggul salibMu dan salib kami

     Agar dunia tahu

     Bahwa Engkaulah satu-satunya sumber kekuatan.

    

     {Salib,

     duri dan benih,

     luka dan harapan,

     warisan hidup, pendidik kami,

     tanamkan dan tumbuhkan,

     mekarkan dan kuatkan,

     tekad kami untuk memanggulmu.}

       dios.c

        10-11 Juli 2006

Judulilah Aku

 

Bulan terjatuh di atas batu

Meremangkan kelam malam

 

Bulan terjatuh di atas batu

Membaringkan terik gelora nafas yang tak menentu

Cairkan peluh-peluh diri yang telah lewat



Bulan terjatuh di atas batu

Menebar puisi tak berlirik

Yang tak pernah dapat kuselesaikan

Doa Salib

 

Bapa,

duri dan benih

luka dan harapan

salib adalah warisan Yesus, pendidik kami.

Tanamkan, tumbuhkan, mekarkan

dalam diri kami semangat salib Putera-Mu

agar hidup kian merentang, memancang

menyinari jalan hidup yang kian tak menepi.

Doa Penyandang Salib 1

 

Kala hidup rapuh, segala daya sirna, upaya sia-sia

Datanglah, ya Allah.

 

Kala kami kecewa dan getir karena kesempatan yang terbuang,

bahagia yang hilang, dan duka yang menyerang

Datanglah, ya Allah.

 

Kala kami menangis, karena persahabatan kami pecah berkeping,

janji-janji dikhianati, hati kami dinjak, hidup kami sempoyongan

Datanglah, ya Allah.

 

Kala kami tak mampu, menatap pesona cinta-Mu, kucuran darah-Mu

Datanglah, Ya Allah.

 

Engkaulah Allah pencipta, Penyandang Salib,

penggemgam duri-duri kematian,

hidup di kekelaman manusia, tidur diantara dosa-dosa

Datanglah, dan selamatkanlah kami Ya Allah.

Entah Apa Judulnya
 

I

Belum renta tubuh ini, tetapi jiwaku terasa ngilu

Hatiku retak membelah kutub mimpi dan hidup nyata

Mengusik kemapanan, keseharian

Merogoh kekelaman

Menyisir titian

Tubuhku berkembang, tetapi jiwaku enggan merekah

Kuncup-kuncupku melunglai.

 

Jiwaku menggelepar dalam ranah tak bertepi

menyusup

meraksuk

membenam

kelam.

 

II

Dahaga ini menyeret-nyeretku tak ke mana pun

menjerat-jerat

melumat

memikat

sampai melunglai

menghilang.

 

Anganku telah merajam jiwa tak berdosa

menafaskan luka pada bilik diri

Membingkai arti yang tak pernah kumengerti

Memahkotai jati diri, yang bukan diriku.

 

Jiwaku kian menggelepar dalam ranah tak bertepi

‘bak malam membingkai hari

menyimpan elegi demi tawa esok pagi.

 

III

Ambisi diri

Cita-cita tak berestu

Hanyalan lafalan kelam yang membawaku tak ke manapun.

 

Keangkuhanku kadang membuatku tampak rapuh

Ambisiku hanya mencecer lunglai

Menyisakan kelu yang tak dapat terkisahkan.

 

IV

Biarlah,

Biar kini aku mengada lagi

Meski harus merayap di tepi bingkai yang tak kumaui

Asal Kau ada, aku bahagia.

 

Kan kusenandungkan elegi ini

Demi tawa esok hari

Karena,

Sisiran badai kehidupan

Terpaan rancu kemauan

Hanyalah mahkota

Perjalan ‘tuk mencicip setetes saja

rasa aman dan titian harapan.

 

Istirahatlah jiwaku

Ciptakan ruang untuk esok pagi

Terbenamlah dalam sepoi sapaan syarat makna

Mengalunlah

Mengakarlah, mengembanglah, merekahlah.

 

IV

{Hidup hanyalah kisah transendensi

tempat jiwa mengada makna

bersama menari, sendiri menyepi

demi citra diri dari yang ilahi}

 

Kisah 2005

Terima kasih kembali cangkir
sudah dikasih jangan dipikir

terima kasih kembali mangkok
sudah dikasih jangan diolok

Stray birds of summer come to my
window to sing and fly away.
and yellow leaves of autumn,
which have no songs, flutter and fall
there with a sign.

 

Beraja, biarkan kumencinta
Karena kuada karenanya.

Beraja, biarkan kumenangis
Karena dari situ mengalir mata air kehidupan

Beraja, biarkan kutertawa
supaya mekarlah kehidupan.


Cinta adalah air mata. Biarkan air mata mengalir dari sumbernya, karena di situlah mata sumber kehidupan yang mengairi bunga-bunga romansa hidup manusia. Dan cinta juga adalah derai tawa yang memekarkannya. Hidup menjadi mekar oleh tawa justru karena disiram air mata. Air mata yang menumbuhkan dan menyuburkan; derai tawa yang menguatkan. Biarlah kita berlindung di balik luka-luka, supaya suka cita menjadi bermakna, dan makna menjadi suka cita.

Hidup rapuh ini Kau kehendaki
Kau tinggikan daku atas tiada.
Biar kini daku bersyukur, Tuhan,
Merasa tenteram di kegelisahan.
Melesat dari hidup hanya rindu
Biar daku jatuh dalam tangan-Mu.
Kerapuhaan manusia adalah kekuatan Allah,
Kekosongan manusia adalah curahan Allah,
Kegamangan manusia adalah kemantapan Allah,
Ketiadaan manusia adalah eksistensi Allah.
Biarlah Allah yang mengisi
Biarlah Allah yang menopang
Biarlah Allah yang bertindak
Biarlah Allah yang mengada.
Dalam diri kita, tentunya.
Yang penting kita setia dalam segala daya yang hampir sirna
Yang penting kita mencinta dalam segala hampa gulana.
 

Sepi berjelaga kala senja meredup bersama fana

membias bilur-bilur kadung misteri kusam

jengah 

Sukma meraksuk daksa tak berdaya
Menggeleparkan daya yang hampir sirna
Membidik, merajam,
Namun menguatkan.

Biarlah galau menggerutu
Biarlah resah mendesah-desah
Karena kalut datang dari imagi liar
Bukan karena “ada”-nya orang yang terpikirkan.

Aku ada untuk menjadi
Bukan stagnasi beku nan kaku.
Sepanjang darah mengalir
Biarlah aku pun tetap menjadi,
Mentransformasi
Menjadi adanya
Menuju jadi diri dari Sang Citra
Identitas putra Bapa.

Jeritan-Nya

 

Maut mencekam

Penderitaan menyayat pori

Menggemakan lara daksa yang menusuk sukma.

 

Dera dan siksa merajam kasih suci

Duri-duri memahkotai ketulusan hati

Cambuk-cambuk dosa mengukir lapisan tak berdaya

Merobek sendi-sendi yang bergantungan.

 

Kasih-Nya dibungkam penghinaan

Keilahian-Nya ditelanjangi kedurhakaan

Dahaga-Nya disiram kepahitan.

 

Sakratul maut kian mendasyat

Ketika Ia terentang di kayu palang

Palu-palu menggema menikam kekeluan

Meremukkan sisa kekuatan.

 

Antara langit dan bumi

Dalam kesendirian dan kesepian

Dalam ambang maut yang kian mencekam

Merajam sisa kekuatan

Ia kabarkan derita-Nya

Menjerit melengking nyaring

Mengungkap kepahitan.

 

Jeritan-Nya

Mengguncangkan dasar-dasar bumi

Membelah kubur-kubur para suci

Membuka tabir Bait Suci

Dan mengoyak hati para terkasih.

 

Jeritan-Nya

Menggelorakan guntur-guntur

Guruh-gemuruh menggoncang surga

Menggenapkan kehendak Bapa.

 

“Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Bumi menjadi pekat dan hening

Malaikat gemetar, tersungkur menyembah

Bunda bertelut dalam duka

Sakit, terpahat luka anaknya.

 

Dan,

Allah pun menangis.

 

(Jeritan-Nya, memanggil aku)

 

Menjelang Jumat Agung, 2006

 

Tuhan,

duri dan benih,

luka dan harapan,

salib adalah warisan Yesus, pendidik kami.

 

ajarilah kami untuk memikul salib hidup kami

untuk melihat-Nya secara lebih jelas,

mengikuti-Nya secara lebih dekat,

dan mencintai-Nya secara lebih dalam.

 

Karena dengan demikian

kami dibawa pada kebangkitan.

 

Salib hanyalah pohon kaku melintang,

anak tangga pada kemuliaan.

Komputer,

 

Senja selalu membawa cerita tentang hari,

membawa siang meminang malam.

Senja selalu membawa kisah tentang peluh untuk bahan cerita bersama keluarga.

 

Senja, keremangan yang gamang

tidak terang, tidak juga gelap.

Samar.

 

Adakah hidupku di ambang senja yang mengurai kepribadian, sementara jiwa mendamba teduh yang tidak gelap, tidak juga remang.

Aku tahu, senja bagaikan pintu kubur yang membawa pada kepekatan.

Tetapi pekat itu juga adalah harapan akan fajar esok pagi bersama Sang Surya Keadilan. Tapi akankah fajar itu menjadi bukti bahwa terang akan tetap abadi?

 

Komputer,

Bersama senja hari ini,

biarlah kubawa mimpiku ke dalam pekat malam.

Biarlah ragaku terkubur gulita, tapi mimpiku ‘kan tetap abadi.

 

Bukankah Ia kini mati

masuk dalam lorong gelap, got-got kenistaan, lumpur-lumpur kedurhakaan, kepicikan, serta kemunafikan.

Ia yang menyejarah, telah melampaui ribuan senja,

bahkan kini tak berdaya dalam kegelapan.

Tapi kegelapan tak mampu membalut cahaya Cinta.

Esok Ia akan bangkit

Ia akan mengangkasa.

Ia ada. Ia beserta kita.

Ia mengada.

Ia menjadi.

Ia merajai.

 

Biarlah kumasuki senja ini, bibir lorong kegelapan,

Karena kutahu esok akan ada fajar.

Aku akan bangkit bersama Dia.

Mengangkasakan angan-angan dan sejuta impian

seiring terangkatnya Ia dalam kemuliaan.

 

Selamat menjemput malam komputer,

Engkaulah temanku dan hanya engkau yang mengerti aku karena semua data ada padamu.

Mangsa kuring ngajentul sisi tampian,

hate nyeredet

inget kana badan anu jarang mandi.

 

Duh Gusti, pangapunten diri

Ieu badan kuring teu acan mandi.

 

Tapi piwelas Gusti teu aya surutna

Ajeunna mikawelas ka saniskanten umat-Na

Anu seueur dosa dihapunten.

Anu leungit dipilarian.

Anu jarang mandi dipasuhan anduk.

 

Hatur nuhun Gusti,

Anjeun parantos ngutus nabi

anu ngajentrekeun yen awak teh kudu bersih sabab eta teh jadi tanda hate anu bersih.

 

Sok sanaos nabina dongkap ti pasisian anu kasebat Padalarang,

teu sawios-wios da sok sanaos Padalarang teh rada kampung gening jalmina mah pinuh kupiwelas. Kreatif malah, tiasa ngarenda sagala.

 

Nun Gusti, mangga berkahan anjeunna

berkahan ku kasinugrahaan.

Pamugi kujalaran lugayna Putra Anjeun, Gusti Yesus Kristus,

Anjeunna janten putra-putri Anjeun anu layeut kana pangersa Anjeun.

Geura aping-jaring saniskanten pangharepan, cinta tur cita-citana

supados nami Anjeun tiasa dimulyakeun sareng hirup abdi sadaya disucikeun.

Aku ada karena cinta

Hidup bersama cinta

dan berharap mati atas nama cinta.

Terima kasih CINTA.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.