Puisi


Malam.

Gelap.

Untung ada listrik.

Jadi terang dech.

Dia Anakku

(Maria, Ketika Yesus Lahir)

Oleh: Leonardo W. Permana

Sembilan bulan yang lalu

Ia mulai ada dalam rahimku

Ketika Gabriel menghampiriku

Dan menyampaikan kehendakNya untuk datang,

Melawati dunia dan segala isinya

Selama sembilan bulan

Aku membawaNya ke manapun aku pergi

Karena Ia ada dalam tubuhku, bersatu dengan ragaku

Dan di malam ini Ia lahir ke dunia

Aku merasa sangat iba

Karena tak ada tempat layak yang bersedia menerimaNya

Ia lahir dalam kepapaan kami,

Dalam ketakberpunyaan kami,

Dalam keterbatasan,

Bahkan dalam kemelaratan kami

Akupun tak pernah mengerti

Mengapa Ia memilih kami,

Orang-orang yang sangat sederhana dan bersahaja,

Bahkan amat miskin dan papa

Serta tek berpunya ini

Sebagai jalan

Untuk menyampaikanNya kepada dunia

Dan di malam ini,

Ia lahir dari seorang perempuan

Dan perempuan itu

Adalah aku

Terselip sedikit rasa bangga

Dalam relung-relung hatiku

Karena melahirkan seorang anak,

Anakku

Aku ibuNya,

Perempuan yang membawaNya

Selama sembilan bulan dalam rahimku,

Perempuan yang melahirkanNya ke dunia

Dengan rintihan dan sakit,

Perempuan yang menyampaikanNya

Kepada dunia,

Perempuan yang tak alam lagi

Aku mulai disapaNya

Dengan sebutan IBU!

Aku tak mengerti

Mengapa aku yang dipilih

Oleh Anak yang akan disebut Kudus

Anak Allah itu

Tapi akupun tak bisa menolakNya

Dan hari ini

Aku mulai jadi ibuNya

Seperti Elisabeth berujar

Bahwa aku adalah

Ibu Tuhan

Aku telah melupakan

Apa yang sembilan bulan yang lalu

Dikatakan orang-orang sebagai aib

Dalam diriku

Aku telah melupakan

Beratnya perutku selama sembilan bulan

membawaNya kemanapun aku pergi

aku telah melupakan

sakit melahirkan,

kala menghadirkanNya ke dunia

kini yang tinggal dan tersisa

hanyalah gembira dan bahagia

karena mulai hari ini

aku menjadi ibuNya

dan Dia menjadi Anakku

walau kutahu

Ia, Anak Allah Yang Mahatinggi.

Bagai padi menguning emas
tangkai kuat, isi sarat,
kasih ibu menyubur sawah Allah.

Selamat Hari Ibu…

He Knows What I Need

 

Some people come into our lives and quickly go.

Some stay for awhile

And leave footprints on our hearts …

And we are never, ever the same.

 

We love the sound of laughter

And the merriment of cheer;

But our hearts would lose their tenderness

If we never shed a tear

 

Our Father knows what’s best for us,

So why should we complain …

We always want the sunshine,

But He knows there must be rain.

Sebuah syair mungkin takkan bisa merambah sebuah rasa. Sebuah getar juga tak bisa mewakili kecamuk diri. Ini hanyalah sebuah sinyal yang bisa kumengerti. Sinyal kasih seorang anak manusia yang mencinta, mencinta demi makna; demi kemuliaan Bapa.
Semuanya tentang…
Tentang hidup
Tenang kisah ria dan sendu
Tentang nurani
Tentang cinta anak mausia yang terus menggapai.

Kupersembahkan ini demi cinta
sebagai kenangan sebelum usia menjadi renta
dan sebelum nafas terkesiap dalam kisah yang tetap misteri.

Semoga semua ini menjadi berharga atas nama cinta
karena cinta adalah anugerah
Kita terlahir karena cinta
Hidup bersama cinta
Dan pulang atas nama cinta.

Sekali lagi tentang…

Terima Kasih atas keluasan-Mu

Katika aku melangkah mengikut garis lurus hidupku,
lalu kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah untuk menyerap-Mu,
Kau masih saja terlalu luas untuk jiwaku,
dan aku merasa begitu kecil di tengah keluasan-Mu itu.

Namun setiap kali aku melangkah,
selalu saja ada sahabat yang menyertaiku dengan tuntunan dan arahan;
dengan doa dan bimbingan,
yang membawaku kepada-Mu.

Terima kasih untuk bingkai indah keluasan ini.

HA…. HA….. HA…..

Ku sakit entah di mana
Luka ku menganga
Tanpa mampu ku balut
Ku cari asal sakitku ini
Hanya hampa yang ada

Ingin ku terbang menggapai
langit surgawi
Dan kubentangkan sayap putihku
Yang bersimbahkan darah

Hingga ku tersungkur
Tanpa mampu menggapainya
Sayap putihku patah, lebur
Bulu-bulu ku raib
Hanya aku yang tersisa
dalam gelap.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.