Kisah Inspiratif


INDAH RENCANA-MU, TUHAN..


Sekali peristiwa, pada sebuah gereja yang lantainya terbuat dari batu pualam yang indah. Di depan altar dipajang sebuah patung pualam Bunda Maria yang juga sangat besar. Banyak orang datang bersujud dan berdoa di hadapannya dan kadang ada yang mengagumi keindahan patung Bunda Maria dari pualam itu. Suatu malam, lantai pualam itu berkata pada patung Bunda Maria dari pualam.

Lantai pualam : ”Wahai patung pualam, hidup ini sungguh tidak adil. Benar-benar tidak adil !!! Mengapa orang-orang bersujud dan berdoa di hadapanmu dan mengagumimu. Tapi mereka malah menginjak-injak diriku ? Benar-benar tidak adil !”

Patung pualam : ”Oh temanku, lantai pualam yang baik. Masih ingatkah bahwa kita ini sesungguhnya berasal dari batu gunung yang sama ?”

Lantai pualam : ”Tentu saja, justru itulah mengapa aku semakin merasakan ketidakadilan itu. Kita berasal dari gunung batu yang sama, tetapi sekarang kita menerima perlakuan yang berbeda. Benar-benar tidak adil!”

Patung pualam : ”Lalu apakah kau masih ingat ketika suatu hari seorang pemahat datang dan berusaha memahat dirimu, tetapi kau malah menolak dan merusakkan peralatan pahatnya ?”

Lantai pualam : ”Ya, tentu saja aku masih ingat. Aku sangat benci pemahat itu. Bagaimana ia begitu tega menggunakan pahatnya untuk melukai diriku. Rasanya sakit sekali !”

Patung pualam : ”Kau benar ! Pemahat itu tidak jadi mengukir dirimu, karena kau menolaknya.”

Lantai pualam : ”Lalu apa hubungannya denganku ?”

Patung pualam : ”Ketika pemahat memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya pada dirimu, lalu ia berusaha untuk memahat tubuhku. Saat itulah aku tahu, bahwa melalui hasil karyanya kelak aku akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku tidak menolak peralatan pahatnya membentuk tubuhku. Meskipun aku berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa.”

Lantai pualam : ”Hmmmmmm, lalu ? ”(jawabnya galau).

Patung pualam : ”Kawanku, ini adalah harga yang harus kita bayar pada segala sesuatu dalam hidup ini. Saat kau memutuskan untuk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi padamu sekarang. Tetapi saat kau berserah pada rencananya, kau akan bangga pada dirimu”

Aku jadi teringat oleh sebuah lirik lagu,

INDAH RENCANAMU
Indah rencanaMu Tuhan, di dalam hidupku
Walau ‘ku tak tahu dan ‘ku tak mengerti semua jalanMu
Dulu ‘ku tak tahu Tuhan, berat kurasakan
Hati menderita dan ‘ku ‘tak berdaya menghadapi semua
Tapi ‘ku mengerti s’karang, Kau tolong padaku
Kini ‘ku melihat dan ‘ku merasakan indah recanaMu
Kini ‘ku melihat dan ‘ku merasakan indah recanaMu


Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman kecil di belakang rumahnya. Daunnya yang menghijau dengan semburat kuning di beberapa tempat sangat segar dipandang mata. Dia sungguh tak menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.

Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan. Tidak sekedar satu atau dua buah batu bata, tetapi setumpuk beton bongkaran bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya, beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda yang kala itu masih baru saja ditanamnya. Dia merasa sayang sebenarnya. Sirih belanda memang tanaman yang tidak mahal. Dia bisa saja membelinya lagi. Namun, yang satu ini berbeda. Sirih belanda itu hadiah dari sobatnya sendiri.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ia sudah melupakan kesedihannya kehilangan tanaman dari sahabatnya. Namun, di suatu pagi yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangunan. Betapa terkejutnya ia. Sirih belanda itu ternyata tidak mati! Berikutnya, pucuk-pucuk kecil yang lain bermunculan dari balik sisa bahan bangunan itu. Sampai hari ini sirih belanda itu malah memenuhi taman kecil di belang rumahnya dan naik merambati tembok-tembok belakang rumahnya. Sirih belanda itu memberi nuansa hijau yang segar dengan semburat kuningnya yang cantik di taman.

Dia menghela napas. Sangat dalam. Sirih belanda pemberian sahabatnya itu bertahan di bawah tekanan sisa bahan bangunan. Namun, persahabatannya tidak.

Dia teringat ketika masa suram itu datang menimpanya. Ia diberhentikan dengan semena-mena. Tidak hanya itu saja, ia juga dituduh dengan tuduhan bermacam-macam: koruptor, pencuri, penghasut, dan lain sebagainya. Semuanya itu karena ia tidak mau ikut-ikutan bermain kotor di kantornya. Ganjarannya adalah pengucilan sampai dengan pemecatannya.

Saat itu adalah saat yang sangat gelap buatnya. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika mendapati kenyataan bahwa orang-orang yang dianggapnya sahabat ternyata tidak seperti yang diduganya. Sahabatnya itu, ikut juga melempar batu kepadanya, ketika ia sedang jatuh terpuruk.

Ia merenung mengingat kembali saat-saat itu. Persahabatan itu ternyata palsu. Ketika harus memilih antara persahataban dengan jabatan, orang ternyata lebih memilih jabatan. Sahabatnya itu harus ikut-ikutan melempar batu kepadanya, bila masih sayang dengan jabatannya.

Kenyataan di depannya itu telak menampar kepercayaannya selama ini. Selama ini ia yakin, tidak mungkin hal-hal duniawi mengalahkan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Ternyata, ia keliru. Bila disuruh memilih, orang ternyata lebih suka pada pilihan pragmatis.

Ia kecewa.

Sekarang, bila sedang sendirian di taman belakangnya itu, mau tak mau ia teringat kembali semuanya. Ia sudah kehilangan semuanya. Namun, rimbun sirih belanda di sana seolah membisikkan sesuatu yang lain. Ia tak boleh kehilangan semangat untuk berjuang. Seperti sirih belanda kecil yang tertimbun bahan bangunan tapi tetap berjuang untuk terus tumbuh, ia juga akan terus berjuang.

Sirih belanda itu sekarang tidak lagi membuatnya menangisi sahabatnya. Sebaliknya, tumbuhan itu memberinya semangat baru. Semangat untuk terus melanjutkan hidup dan bertumbuh.

Jauh di lubuk hatinya, ia berterima kasih pada mantan sahabatnya. Sirih belanda pemberian sahabatnya itu telah memberinya setitik embun inspirasi kehidupan.

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan beberapa kuda lewat, tanpa
berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang.. . dan ia pun berkata, “Tuan, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang ? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki.”

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, “Tentu. Naiklah.” Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda atas sesuatu, mendorongnya untuk bertanya, “Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang2 kuda lain lewat, tanpa berusaha meminta tumpangan . Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?”

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda dan menjawab, “Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang.” Si orang tua melanjutkan, “Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas ada pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya. “

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. “Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak”, ia berkata pada si orang tua. “Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain..” Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

The Sower’s Seeds – Brian Cavanaugh.

Bagi para misionaris berkarya di pedalaman merupakan suatu berkat dan rahmat. Hanya karena berkat dan rahmat Allah seorang misionaris akan mampu bertahan di hutan belantara. Karena bekerja di pedalaman seseorang harus benar-benar berani berkorban. Di sana tak akan ditemukan pujian, sanjungan dan penghargaan. Seorang misionaris harus melakukan segalanya dengan tulus dan jujur. Dengan kata lain sebagai misionaris seperti di daerah Asmat, ia harus berani telanjang bulat. Ini bukan berarti seorang misionaris harus pakai koteka. Bukan. Tetapi sebagai misionaris, tidak boleh mencari penghargaan, hadiah, pujian dan sebagainya. Umat di Asmat jarang akan memuji dan tidak biasa memuji. Kalau mereka diberi sesuatu jarang sekali mereka mengucapkan terimakasih.

Karena mereka tak mengenal kata terimakasih. Pada suatu hari saya bertanya kepada seorang kategis asli Asmat,”Kenapa orang-orang di sini kalau diberi tidak pernah mengucapkan terimakasih?” Kategis tersebut menjawab,”Pater, kami selalu berpikir, kalau pater atau seseorang memberi sesuatu itu kan sudah ikhlas. Maka kami tak perlu mengucapkan terimakasih.” Aku pikir jawaban kategis tersebut sangat benar. Ternyata dalam kesederhanaan, mereka memiliki filosofi hidup yang mendalam. Saya belajar apa artinya memberi yang sejati. Memberi tanpa pamrih, tidak menuntut balasan atau ucapan terimakasih.

Walaupun bagi suku tertentu, budaya tertentu kalau menerima sesuatu tidak mengucapkan terimakasih dianggap tidak sopan. Tetapi memang seharusnya demikian, kalau kita memberi dengan tulus tak perlu mengharapkan balasan. Memberi adalah memberi. Memberi tanpa menuntut balasan membuat orang yang menerima bahagia dan yang memberipun akan akan bahagia.
“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Demikian juga Papua pasti berbeda dengan Jawa, Sumatra dan sebagainya. Masyarakat di sana sangat dipengaruhi alam sekitarnya. Dan mereka hanya mengenal apa yang ada di sekitar mereka. Tentang binatang saja, sangat terbatas yang mereka kenal. Ikan, buaya, babi, ayam hutan, burung nuri sangat akrab dengan mereka. Karena begitu akrabnya tak aneh kalau seorang ibu rela dan merasa bahagia menyusui anak babi. Umat di Asmat tak kenal apa itu kambing apalagi sapi. Jadi dunia mereka masih sangat terbatas. Maka tidaklah mudah memberitahukan binatang yang tidak mereka kenal.

Hidup adalah kesempatan untuk belajar, melayani dan mencintai. Pada awalnya, melayani dan mencintai itu seperti mengorbankan sesuatu bagi orang lain. Tetapi ketika mencintai dan melayani itu dilakukan terus menerus setiap hari, penuh ketulusan, maka perasaan berkorban itu hilang, yang muncul hanyalah senyuman yang membahagiakan.

Ada seorang misionaris dari Belanda bernama Johas. Ia bekerja di Paroki Senggo. Paroki ini sangat pedalaman. Pastor ini sangat mencintai umatnya dan selalu berusaha mengajari umatnya berbagai macam hal. Pelayanannya tidak diragukan. Pada suatu hari ia pergi ke Paroki Basyim, di pantai Kaswari. Di Paroki ini pastornya memelihara kambing. Ketika melihat kambing-kambing yang dapat dikembangbiakkan, maka pastor Johas berminat untuk membawa beberapa ekor ke Senggo. Kendati jauh dan sulit membawanya, Johas membawa beberapa ekor kambing ke Senggo. Tujuannya hanya satu supaya umat belajar mengenal dan belajar beternak kambing.

Jarak Basyim – Senggo adalah dua hari perjalanan memakai mapiboat. Perjalanan ditempuh lewat laut dan sungai. Agar kambing-kambing tersebut tidak terlalu kecapekan, dan pastornya juga tidak lelah, maka ia menginap di paroki Yaosakor. Seperti biasa kalau ada mapiboat merapat di pastoran orang kampung lari semua menuju ke tempat di mana mapiboat berlabuh. Setelah mapiboat merapat orang-orang heran melihat binatang “aneh”. Dengan penuh semangat Johas memanggil orang-orang yang berkumpul di jembatan, Ia berteriak, “Hai, anak-anak yang besar tolong bantu pater mengangkat kambing-kambing ini.” Mereka diam tidak bereaksi sama sekali bahkan malah mereka menjauh. Johas heran sekali. Biasanya kalau dimintai tolong mereka cepat membantu, kenapa mereka kini malah pergi. Sekali lagi Johas berteriak,”Sini, tolonglah saya nanti saya beri permen.” Tetapi mereka semakin menjauh. Masih ada seorang pemuda yang berdiri di jembatan, lalu Johas bertanya,”Kenapa orang-orang pergi tidak mau menolong saya.” Sang pemuda dengan tenang menjawab,” Pater, mereka takut sekali. Anjing kecil saja kalau menggigit sakit sekali, apalagi ini binatang begitu besar. Sekali menggigit pasti langsung mati kami” Pastor Johas hanya tersenyum.
Mendengar cerita Johas, akhirnya kami di pastoran tertawa semua. Kami menemukan kegembiraan bukan karena menonton sebuah film yang lucu, karena memang tak ada gedung bioskop di sana. Kami bahagia karena menyaksikan kepolosan dan kejujuran umat yang kami layani. Saya bayangkan bagaimana kalau mereka melihat sapi, bisa jadi mereka serangan jantung.

Namun pada saat itu tidak hanya bibir kami yang tersenyum, seluruh semesta alam terlihat tersenyum. Sungai yang depan rumah kami tersenyum, hutan belantara, burung-burung bahkan rumput-rumput pun tersenyum, bahkan langit biru bersorak sorai. Melayani dengan tulus hati kami menemukan senyuman di mana-mana. Kami bisa tertawa karena hal-hal yang sederhana, tetapi menyehatkan jiwa.
Inilah kehidupan yang jendela-jendelanya sudah terbuka. Pada saat seperti itu tidak ada lagi keluh kesah, kecewa karena bertugas di daerah terpencil. Semuanya hanyalah putaran waktu yang melukis keindahan, mewarnai kehidupan. Seperti sungai yang mengalir dengan tenangnya menuju samodera, demikian juga memberi, melayani, mencintai dan berbagi dengan tulus ikhlas, akan semakin menguatkan otot-otot rohani kita. (Pst. Agustinus Sudarno, OSC)

Suatu ketika, seorang raja setuju membantu seorang bocah yang kehilangan ibunya. Sang raja memerintahkan seluruh negeri untuk mencari ibu si bocah. Karena pengakuan si bocah bahwa ibunya itu cantik sekali, dan ia belum pernah melihat wanita secantik ibunya, maka sang raja menyuruh semua wanita cantik di negerinya untuk datang ke istananya, dengan pesan akan diadakan perjamuan makan malam bersama pangeran…..

Maka berdatanglah banyak wanita cantik dari seluruh negeri. Mereka berusaha menghiasi diri mereka dengan berbagai macam hal; dari berpakayan, perhiasan sampai tas dll. Tetapi tidak seorang-pun dari mereka dikenal dan diakui sebagai ibu dari si bocal ini. Sang raja-pun hampir putus asa menanggapi kerinduan sang boca dalam menemukan ibunya, karena dari semua wanita cantik yang datang ke istana tak satu-pun yang ia akui sebagai ibunya.

Ketika semua dalam situasi pasrah, tiba-tiba gerbang istana di ketuk perlahan. Silahkan masuk! Kata sang raja. Raja begitu kaget, karena seorang wanita separuh baya, dengan pakayan yang tidak rapi, rambut tertata ala kadarnya; tangannya terlihat merah karena barusan selesai mencuci pakayan. Dia adalah tukang cuci keluarga istana. Serta merta si bocah berteriak girang penuh sukacita….”Maaaa…..”. Sambil menangis ia merangkul ibunya dan mereka berdua saling merangkul bahagia. San raja dan semua penghuni istana dan para wanita cantik tertegun kagum dan heran.

Oscar Hammerstein katakan: “Apakah saya mencintai-mu karena engkau cantik; atau engkau cantik karena saya mencintaimu ?.
Berbahagialah mereka yang merasa dan mengalami dicintai sesamanya, karena ia sungguh menjadi orang yang paling cantik di dunia.

Marilah kita saling mencintai dan menemukan kecantikan sejati dalam diri sesama.

Manusia itu seperti Sebuah “Buku”….
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.

Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dib…aca, ada yg sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya,
selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih,
baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita
dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.

Terima kasih Tuhan utk hari yg baru ini..
Syukuri hari ini….
dan isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal2 yg baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya kepada Tuhan,
tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai,
kita dapati diri ini sebagai pribadi yg berkenan kepadaNYA.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak2 kita
dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu,
Menulislah dengan tinta dgn cinta
dan penuh rasa kasih sayang,
serta pena kebijaksanaan.

Aku berdoa dan berharap :
“agar Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu”
karena…..
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru,
Bunga selalu mekar,
dan Mentari selalu bersinar..
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai,
Senyum disetiap air mata,
Berkah disetiap cobaan,
dan jawaban disetiap doa.

Jangan pernah menyerah, Terus berjuang..

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?

Tidak diragukan lagi“Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”

Sebuah gembok dengan kokoh mengunci pintu pagar.

Sebatang tongkat besi yang gagah perkasa ingin membuka gembok tersebut, ia mengerahkan seluruh tenaganya, tapi tetap saja tak mampu membuka gembok itu.

Datanglah sebuah kunci yang kecil. Dengan ringan kunci kecil itu berputar, 1 suara ‘klik’ terdengar dan dan terbukalah gembok itu.

Batang besi tak habis pikir bertanya,… “Mengapa aku yang setengah mati mengerahkan tenaga tak bisa membukanya, tapi kamu yang kecil dengan mudahnya bisa ?”

Kunci menjawab, “Itu karena aku memahami isi hatinya”

Hati setiap manusia ibaratnya pintu yang tergembok, batangan besi yang paling kokoh pun tak bisa membukanya. Perhatian dan kasih sayang adalah kunci kecil yang akan dapat membuka pintu hati yang tergembok

Pasio Yesus yang selalu dikenang setiap Jumat Agung, sering membawa kita dalam suasana haru biru, terbawa romantisme sendu serta rasa iba pada seorang pribadi yang mau mengorbankan diri sampai sebegitunya untuk kita. Rasa haru itu sering berhenti di fanatisme pembelaan pada orang yang tersakiti apa lagi yang berkorban untuk kita, sedang maksud keseluruhan dibalik ketaatan Yesus pada Bapa umumnya hanya samar-samar tertangkap. Ketaatan Yesus tidaklah sekedar harus taat, namun cinta Yesus yang begitu kentara pada Bapa yang Ia tahu mencintaNya ( Mrk 1:11, Engkaulah anakKu yang Kukasihi) yang menggerakkanNya mau mewartakan kabar gembira, yaitu kabar bahwa Allah mencintai manusia, meskipun apapun konsekuensinya, sekalipun harus mati disalib sesuai dengan hukum yang berlaku dijaman itu bagi penjahat atau orang yang tidak sepaham dengan penguasa. Hal keteladanan ini yang sering terlupakan dalam merenungi Pasio Yesus, bahwa sesungguhnya saat mata hanya memandang pada Kasih Allah, akan banyak rintangan dan salib-salib dapat kita panggul dengan rasa syukur.

Acapkali pergumulan, rutinitas, dan gaya hidup, membentuk sebuah penghalang dimana mata kita tidak lagi setiap saat memandang Kasih Allah, bahkan Kisah sengsara Yesuspun secara tidak disadari menjauhkan kita dari misiNya yang ingin menyibak segala peghalang itu. Adakalanya penderitaan kita yang diwakili oleh penderitaan Yesus tampak bagai sebuah skenario yang dirancang oleh Bapa, benarkah ? Coba simak sebentar cerita di bawah ini.

Ada seorang ibu janda hidup bersama dua orang anak, seorang putri bernama Cilla, dan adiknya seorang putra berama Louis. Sebenarnya Cilla bukanlah anak kandungnya tapi putri yang dibawa almarhum suaminya dari pernikahan sebelumnya. Walaupun Cilla bukan putri kandungnya, ibu ini amat menyayanginya sama seperti sayangnya pada Luois. Entah setan dari mana,Cilla tidak pernah merasa dicintai, ia lebih mendengar hasutan kalau ibunya mempunyai maksud lain dibalik kebaikkannya itu, ibu dikiranya hanya ingin dipuji orang, dan ingin memanfaatkannya saat menjadi jompo kelak. Terasuki pikiran demikian Cilla bertingkah seenaknya, kelakuannya sangat bebas, kasar, tidak mau dinasehati hingga suatu hari ia kabur dari rumah dengan membawa perhiasan ibunya yang sebenarnya disimpan untuknya juga nanti. Kehilangan anak yang menyusahkan itu tetap saja membuat khawatir dan sedih keluarga. Ibu berusaha mencarinya tanpa henti walau tahun berganti tahun, Begitupun dengan Louis, ia sangat kehilangan kakak terkasihnya, sempat beberapa lama terpaksa tidak ke sekolah karena mencari Cilla. Suatu malam Ibu tsb mendapat telpon dari seorang wanita yang tidak dikenal, suaranya sangat kasar dan tidak sopan, katanya : “ternyata benar seperti yang ku kira, engkau memang tidak pernah sungguh-sungguh menyayangiku, suarakupun tidak lagi kau kenal, aku ingin pulang, cepat jemput ya, aku lelah sekali,” Mendengar putri yang dirindukan akan pulang, ibu sangat bahagia walaupun ia tahu Cilla masih belum berubah, cepat2 dimintanya Louis untuk menjemput. Segera Louis berangkat dengan gembira dan bersemangat karena sebentar akan bertemu Cilla kakak tersayangnya. Lama ibu menanti kedua anaknya tiba, namun yang datang malah seorang polisi yang mengabarkan keberadaan anak-anaknya di Rumah Sakit kecil di sebuah dusun terpencil. Betapa hancur hati ibu menyaksikan kedua orang yang sangat dicintainya tergelapar sekarat, namun menurut dokter ternyata masih ada harapan bila mereka segera dapat tranfusi darah. Sayang sekali persedian darah habis, tapi untunglah darah ibu cocok dengan Louis, dan ternyata Cillapun mempunyai golongan yang sama. Ibu harus cepat mengambil keputusan pada siapa darah ini harus diberikan. Ibu mengenal benar kebaikan hati Louis, ibu tahu bila darahnya diberikan pada Cilla, Louis akan meninggal, namun ia akan meninggal dengan indah karena Bapa disurga akan segera menyambutnya, sedangkan sebaliknya bila Cilla yang meninggal, betapa mengerikannya, ia akan pergi dalam keadaan dosa berat. Ibu mengambil keputusan, dibisikkannya keputusan itu pada Louis, betapa hancur hati Louis, ia ingin berteriak, ibu .. aku ingin hidup .. tapi anak yang baik ini sadar akan maksud ibunya, ia mengenal hati ibunya yang benar-benar mencintainya sehingga melalui sorot matanya, ia berkata, apapun yang ibu inginkan , itu yang ku inginkan juga. Lewat peristiwa ini akhirnya Cilla menyadari betapa benar kalau ibunya sangat mencintainya, seakan ia mendapat kesempatan untuk dilahirkan kembali untuk menjadi seorang baik.

Tidakkah kisah ibu ini mengingatkan kita pada peran Kasih Bapa dalam peristiwa Jumat Agung ? Tidakkah pengorbanan Yesus membawa kita pada Kasih Bapa yang teramat sabar, yang selalu ingin menyelamatkan ? Menyadari bahwa kita dicintai, dimana ada selalu Mata Kasih Allah yang tak pernah berkedip memandangi kita, akan membuat kita menjadi seorang “anak yang baik,” karena dalam setiap yang dikerjakan akan melihat jejak-jejak Allah di dalamnya. Kita tidak akan sanggup dengan sengaja berbuat dosa, hati akan menjadi peka akan hal yang tidak benar, karena bila itu tetap dilakukan kita akan merasa seperti sedang mencuri di rumah orang, disaksikan pemiliknya. Penderitaan tidak lagi menjadi salib yang menghimpit, tapi kesempatan untuk semakin murni dalam Kasih dan Harapan.

Memandang dan menyadari dipandang Allah disebut dengan Kontemplasi dan kesadaran kontemplatif. Kontemplasi berasal dari kata contemplare yang artinya memandang, kata itu berasal dari dua kata Latin yaitu : cum = bersama dan templum = Bait Allah, sehingga kontemplasi mengandung pengertian di dalam Bait Allah yaitu tubuh kita, kita ada bersama Allah saling memandang.

Membiasakan diri memberikan waktu hening yang cukup (20-30 menit) seperti yang Yesus lakukan di taman Getsemani, setiap hari pada waktu dan tempat yang tetap secara kontinu, untuk hanya menyadari kehadiran Allah yang ada di dalam diri kita tanpa memikirkan dan memohon apapun, akan sangat membantu melewati hari dalam kesadaran kontemplatif dan suasana kontemplasi ditengah hiruk pikuk dan kesibukan yang harus dilewati, atau dapat dilukiskan seperti kata Iwan Fals dalam lagu “Kemesraan”: “Jiwaku Tentram bersamaMu”

Sungguh akan menjadi idial, bila peristiwa pengorbanan Yesus di salib, tidak hanya berhenti pada eforia paskah, tapi menjadikan kita sungguh kontemplatif ditengah dunia yang ramai, selalu menyadari Allah memandang kita dengan mata kasihNya, juga disetiap apapun, kita melihat ada Dia yang mengasihi kita disana. Maka dalam perjiarahan hidup yang kadang penuh salib, kita dapat berkata, seperti Yesus berkata dalam sekaratul mautNya : “Bukan Kehendaku tapi kehendakMulah yang terjadi,” Jalan Salib telah membuka jalan bagi terjadinya Paskah, di balik salib, selalu ada harapan dan sukacita

(AN.W)

Ketika TUHAN menciptakan WANITA,
Malaikat datang dan bertanya…
“Mengapa kau begitu lama menciptakan WANITA TUHAN ?”

TUHAN menjawab,
“Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk WANITA ??”

Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan,
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan
dan semua itu hanya dengan 2 tangan”.

Malaikat menjawab dan takjub,
“Hanya dengan 2 tangan ??
Tidak mungkin !!!”

TUHAN menjawab
“Tidakkah kau tau, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri
dan bisa bekerja 18 jam sehari “.

Malaikat mendekat dan mengamati WANITA tersebut, dan bertanya,
” TUHAN, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh ?
seolah2 terlalu banyak beban baginya….”

TUHAN menjawab
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah Air Mata….”

“Untuk apa ?” tanya Malaikat….

TUHAN melanjutkan
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,
kegalauan, Cinta, kesepian, penderitaan dan Kebanggaan….
Serta Wanita ini mempunyai kekuatan mempesona Laki2…
Ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki WANITA…..”
“Dia dapat mengatasi beban lebih dari Laki2,
Dia mampu menyimpan Kebahagiaan dan pendapatnya sendiri…..”
“Dia mampu tersenyum saat Hatinya menjerit,
Mampu menyanyi saat menangis,
Menangis saat terharu,
bahkan tertawa saat ketakutan..”
“Dia berkorban demi orang yang dicintainya..”
“Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan.”
“Dia menangis saat melihat anaknya adalah Pemenang….”
“Dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa Bahagia…”
“Dia begitu Bahagia mendengar suara kelahiran..”
“Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya…
Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka….”

“CINTANYA TANPA SYARAT”

” HANYA ADA 1 YANG KURANG DARI WANITA,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA…..”

Ada Kekuatan di dalam KASIH,
dan Orang yang sanggup Mengasihi adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk Mementingkan Diri sendiri.

Ada Kekuatan dalam SUKA CITA,
dan Orang yang Bersukacita adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah Terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada Kekuatan di dalam DAMAI SEJAHTERA,
dan Orang yang dirinya penuh Damai Sejahtera adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada Kekuatan di dalam KESABARAN,
dan Orang yang Sabar adalah Orang yang KUAT,
karena ia Sanggup Menanggung segala sesuatu
dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada Kekuatan di dalam KEMURAHAN,
dan Orang yang Murah Hati adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
untuk melakukan yang Baik bagi sesamanya.

Ada Kekuatan di dalam KEBAIKAN,
dan Orang yang Baik adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa selalu mampu melakukan yang Baik bagi semua orang.

Ada Kekuatan di dalam KESETIAAN,
dan Orang yang Setia adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
dengan Kesetiaannya kepada ALLAH dan Sesama.

Ada Kekuatan di dalam KELEMAHLEMBUTAN,
dan Orang yang Lemah Lembut adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Menahan Diri untuk tidak membalas Dendam.

Ada Kekuatan di dalam PENGUASAAN DIRI,
dan Orang yang bisa Menguasai Diri adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Mengendalikan segala nafsu Keduniawian.

Disitulah semua letak-letak dimana KEKUATAN SEJATI berada.
Dan Sadarlah bahwa kita juga memiliki cukup KEKUATAN
untuk mengatasi segala masalah kita.
Di manapun juga, seberat dan serumit apapun juga.

MOM, I’m here …

When you were 1 year old,she fed you and
bathed you.
You thanked her by crying all night long.

When you were 2 years old, she taught you to
walk.
You thanked her by running away when she called.

When you were 3 years old, she made all your
meals with love.
You thanked her by tossing your plate on the floor.

When you were 4 years old, she gave you
some crayons.
You thanked her by coloring the dining room table.

When you were 5 years old, she dressed you
for the holidays.
You thanked her by plopping into the nearest
pile of mud.

When you were 6 years old, she walked you to school.
You thanked her by screaming, “I’M NOT GOING!”

When you were 7 years old, she bought you a baseball.
You thanked her by throwing it through the next-door-neighbor’s window.

When you were 8 years old, she handed you an ice cream.
You thanked her by dripping it all over your lap.

When you were 9 years old, she paid for
piano lessons.
You thanked her by never even bothering to practice.

When you were 10 years old she drove you all day,
from soccer to gymnastic to one birthday party after another.
You thanked her by jumping out of the car and never looking back.

When you were 11 years old, she took you and your
friends to the movies.
You thanked her by asking to sit in a different row.

When you were 12 years old, she warned you not to
watch certain TV shows.
You thanked her by waiting until she left the house.

When you were 13, she suggested a haircut that was becoming.
You thanked her by telling her she had not taste.

When you were 14, she paid for a month away at summer camp.
You thanked her by forgetting to write a single letter.

When you were 15, she came home from work, looking for a hug.
You thanked her by having your bedroom door locked.

When you were 16, she taught you how to drive her car.
You thanked her by taking it every chance you could.

When you were 17, she was expecting an important call.
You thanked her by being on the phone all night.

When you were 18, she cried at your high school graduation.
You thanked her by staying out partying until dawn.

When you were 19, she paid for your college intuition,
drove you to campus carried your bags.
You thanked her by saying good-bye outside the door
so you wouldn’t be embarrassed in front of your friends.

When you were 20, she asked whether you were
seeing anyone.
You thanked her by saying, “It’s none of your business.”

When you were 21, she suggested certain careers for
your future.
You thanked her by saying, “I don’t want to be like you.”

When you were 22, she hugged you at your college graduation.
You thanked her by asking whether she could pay for a trip to Europe.

When you were 23, she gave you furniture for your first apartment.
You thanked her by telling your friends it was ugly.

When you were 24, she met your fianc and asked about your plans for the future.
You thanked her by glaring and growling, “Muuhh-ther, please!”

When you were 25, she helped to pay for your wedding, and she cried
and told you how deeply she loved you. You thanked her by moving
halfway across the country.

When you were 30, she called with some advice on the baby.
You thanked her by telling her, “Things are different now.”

When you were 40, she called to remind you of a relative’s birthday.
You thanked her by saying you were “really busy right now.”

When you were 50, she fell ill and needed you to take care of her.
You thanked her by reading about the burden parents become to their children.

And then, one day, she quietly died. And everything you never did came crashing
down like thunder on YOUR HEART.

GEMBALA KAMBING

Suatu hari, Ceuceu seorang mahasiswa peternakan
berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Ceuceu bertanya dengan takjub, 
Ceuceu : “Pak, boleh nanya nih?”
Gembala: “Boleh”

Ceuceu : “Kambing-kambing bapak sehat sekali, bapak
kasih makan apa?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput
basah”
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Ceuceu : “Hmmm….kambing- kambing ini, kuat jalan
berapa kilo pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, 4 km sehari” 
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Si Ceuceu mulai gondok…… ..
Ceuceu : “Kambing ini, menghasilkan banyak bulu
pertahunnya ya, pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : (dengan kesalnya) “Yang hitam dulu deh….”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, banyak…… 10 kg/th”
Ceuceu: “Kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Si Ceuceu mulai kesal: “BAPAK INI KENAPA SIH SELALU
NGEBEDAIN KAMBING JADI 2,PADAHAL JAWABANNYA SAMA AJA
?!!!!!!!!!!? “
Gembala: “Oh, gini dik, soalnya yang hitam itu, punya
saya……”
Ceuceu : “Oh begitu pak, maafin saya kalo gitu,
habisnya saya emosi.
Kalo yang putih punya siapa, pak??”
Gembala: “Yang putih juga!!!!”

 

Wawancara dengan Tuhan
“Selamat pagi, ya Tuhanku,” aku berseru kepada Tuhan seraya mengetuk pintu dalam doa.
“Silakan masuk,” sambut Tuhan.
“Jadi kamu ingin mewawancari Aku?” lanjutNya.
“Kalau Tuhan ada waktu,” sahutku.
Sambil tersenyum Tuhan berkata:
“Abadilah waktu bagiKu. Maka Aku ada cukup waktu untuk melakukan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan apa yang hendak kauajukan kepadaKu?”
Lalu aku mulai bertanya:
“Apa yang paling mengejutkan Tuhan mengenai bangsa manusia?”
Tuhan menjawab:
“Yang paling mengherankan Aku mengenai bangsa manusia adalah mereka mudah bosan sebagai anak-anak dan mau cepat-cepat menjadi orang dewasa dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka merusak kesehatannya dengan mengejar uang dan menghabiskan uang itu untuk pengobatan. Mereka terlalu cemas tentang masa depannya dan melalaikan masa kini sehingga mereka tidak dapat menikmati dengan baik masa sekarang maupun masa depannya. Mereka menjalankan hidup seolah-olah tidak akan mati, tetapi mati seakan-akan tidak pernah hidup.”

Setelah itu tangan Tuhan memegang tanganku, lalu kami berdiam sejenak.
Kemudian aku bertanya kepada Tuhan:
“Pelajaran apa saja yang pantas kami pelajari? Dan selaku Bapa, Tuhan menghendaki apa yang harus dipelajari anak-anakMu?”

Tuhan menjawab:
“Mereka perlu belajar supaya apa yang paling utama dalam hidup, bukanlah apa yang mereka miliki, melainkan siapa yang mereka punya dalam hidupnya. Mereka harus belajar bahwa tidak baik untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain sebab semua orang akan diadili menurut nilai pribadinya, bukan sebagai kelompok perbandingannya. Mereka harus belajar bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, melainkan orang yang punya secukupnya untuk kebutuhannya.”

“Mereka harus belajar bahwa waktu berapa menit saja perlu untuk menyakiti dan melukai hati orang yang mereka cintai padahal mungkin perlu bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.”

“Mereka perlu belajar untuk memaafkan dan mengampuni bahwa sesungguhnya ada banyak orang yang amat mencintai mereka, namun saja tidak tahu bagaimana caranya untuk menyatakan itu dan mengekspresikan perasaannya.”

“Mereka perlu belajar bahwa meskipun uang dianggap bisa membeli segalanya, namun tidak dapat membeli kebahagiaan.”

“Mereka harus belajar bahwa teman yang baik adalah orang yang mengetahui semua termasuk kekurangan-kekurangan mereka, tetapi tetap menyukainya.”

“Akhirnya, mereka harus belajar bahwa tidak cukup mereka menerima pengampunan dari orang lain, melainkan mereka harus mengampuni diri sendiri.”

Setelah itu Tuhan berhenti berbicara, aku pun duduk diam sebentar di situ sambil menikmati saatnya. Lalu aku menyampaikan terima kasih kepada Tuhan atas pertemuan yang indah itu dan juga atas segala berkat yang telah kuperoleh dari Tuhan.

Kemudian Tuhan berkata:
“AnakKu, kamu boleh datang untuk wawancara denga Aku kapan saja karena Aku tetap siap 24 jam. Tanya apa saja dan Aku akan menjawab. Hanya harus kauingat ini: Orang-orang akan melupakan apa yang kamu katakan atau apa yang kamu perbuat, tetapi mereka tidak akan melupakan apa yang kamu lakukan kepadanya untuk membahagiakan mereka.”

Setelah itu, aku pulang dengan bahagia.

Bamboo

Jangan kesal satu hari pun dalam hidupmu

Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.” Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputu asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.

Saudaraku yang budiman, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.

Teruskan perjuangan hidup Anda!

Jangan Menangis Karena “Semuanya Indah”

 
Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluardari kamaroperasi.
Dia bertanya dengan penuh harapan: “Bagaimana anakku? Apakah dia dapat
disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi
sayangnya anak ibu tidak tertolong”
Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakkuyang tidak berdosa
bisaterkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?” Di mana Engkau
Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu? “
Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengananak ibu sela
beberapa waktu? Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum
jenazahnya dibawa ke universitas. “

Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan
selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap
rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagaikenangan?” perawat
itubertanya. Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan
menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, “Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk
diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia
dapat menolong  orang lain yang memerlukan. Awalnya saya tidak
membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan
tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain
untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.’ “

Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu
 memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia
bisa melakukannya. “

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama
enam bulan di sana untuk merawat Jimmy.

Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan
pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki
rumah yang terasa kosong.

Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi
segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan
mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat
Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu. Kemudian dibaringkan dirinya
di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis
hingga tertidur. Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga. Di samping
bantalnya  terdapat sehelai surat yang terlipat.

Surat itu berbunyi:
 “Mama tercinta, Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan
selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun
saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.

Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu
ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba,
jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak
apa-apa ma.. Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.
Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan
hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus
membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak
perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma.

 Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah
menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan
tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat
segalanya di sana.

Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang
melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak
terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku
melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku
menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di
pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang
sangat penting.

Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama
untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku
sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya. Tapi mama tahu,
Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis
surat ini kepada mama.

Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma.
Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya
‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan-Nya?’ Allah mengatakan Dia
berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.

Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak.
Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis
selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan
sehelai kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus
mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam. Bapa memerlukan pensil ini
untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan.

Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya. Aku
yakin makanannya akan lezat sekali. Oh, aku hampir lupa
memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker
itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit
itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.

Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk
menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman
istimewa! Bagaimana ma? Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku. “

Ingat bebek? Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka.

Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam. Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.

Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.” Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?” Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Johnny mencuci piring.

Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.” Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.” Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.

Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun. Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.” Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di’jendela’. Dan Dia melihat segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu. Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu.”

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.