Arti nama-nama penulis Injil : Yohanes, Mateus, Markus, Lukas

Rm. Gianta (Prof Kitab Suci di Institut Biblicum  di Roma) 
 

IOANNES

Mulai dengan namaku. Sebenarnya aslinya bunyinya bukan Yohanes, melainkan Yohanan. Begitu kedengarannya dalam bahasa Ibrani. Bentuk Yohanes itu cuma penyesuaian dari Ioannes, wajah Yunani dari nama Ibrani tadi. Artinya? Ah, letterlijk sudah jelas: Yo- itu Yahwe, Tuhan, dan -hanan, ucapannya mirip [khanan], artinya “ia menunjukkan perkenan/ melimpahkan rahmat”. Jadi namaku itu kalimat pendek yang menegaskan “Tuhan sudah melimpahkan rahmat”.Nomen omen. Yang Mahabesar itu kaya raya dengan rahmat hidayah. Tak perlu diminta, sudah melimpah ruah dari sana. Sudah turun kepada kita semua. Kalau kita berdoa memohon rahmat dan tuntunan hidayatnya, kita kan mengungkapkan kepercayaan bahwa Ia sungguh mau beri perkenan dan akan tetap begitu. Kebanyakan nama Ibrani asli dulu kalimat yang ada artinya dan biasanya menyatakan hal yang dilakukan Tuhan. Memang kami melihat, mendengar, dan dapat merasakan kehadiranNya meski sering kurang meluangkan diri bagiNya. Tapi Ia tidak membiarkan diri dibatasi oleh kekurangan kita. Itulah kebesaranNya. Lama baru kusadari itu. Dia yang di atas sana itu tidak terukur oleh banyak atau sedikitnya doa kita. Ia mengatasi semua itu. Ia bukannya Tuhan yang kasih sayangNya bisa ditukar dengan pujian atau diurungkan oleh kelemahan dan dosa kita. Dia bersinar di kegelapan justru karena Dia itu terang, bukan karena mau kuat-kuatan dengan si gelap yang lemah itu. Sudah kusuratkan, si gelap tak berdaya di hadapannya. Aku berkali-kali minta Gus menjelaskan hal ini dengan cara yang bisa dimengerti orang biasa.

MATHTHAIOS

Ehm, kalian boleh tahu, hanya aku, Yohanan, satu-satunya dari empat penulis Injil yang memiliki nama Ibrani yang asli dan benar, tidak kayak para anak muda zaman sekarang, namanya serba modern. Maththaios, yang bagi kalian Matius, aslinya memang keibrani-ibranian, yakni “Mattai”, bentuk pendek dari nama asli Ibrani “Mattatiah”, harfiahnya, mattat- ialah “pemberian,”dan -iah ialah sama dengan “yah, atau Yahweh,” maksudnya Tuhan. Jadi nama Matius itu dulu-dulunya berarti “anugerah dari Tuhan”. Memang ada tokoh sejarah yang nama utuhnya Mattatiah, di-Yunani-kan jadi Mattathias (bagi kalian Matatias). Ia tokoh perjuangan melawan pengaruh asing dua abad sebelum kelahiran Yesus – lihat saja 1 Makabe 2. Nama ini juga kemudian dipendekkan dan berbunyi Matias, yang jadi nama anak muda yang dipilih oleh kami bersebelas untuk menggantikan kedudukan Yudas Iskariot. Tanya lebih lanjut kepada Luc yang sudah mencatat peristiwa ini dengan teliti dalam Kis 1:18-26. Jadi nama Matius kalau diurut-urut artinya ya sama dengan Matias, walau orangnya beda. Nama mereka itu sama-sama menegaskan iman kepercayaan akan pemberian dari Tuhan. Mungkin yang memakai nama demikian itu mau mempersaksikan bahwa sudah mengalami anugerah besar dari Tuhan sendiri. O ya, tak usah berpendapat bahwa si Matt yang kita bicarakan sekarang ini sama dengan pemungut cukai yang bernama Matius yang mengikut Yesus menurut Injil Matius 9:9. Orang itu dulunya bernama Levi seperti dicatat Mark 2:14 dan diikuti Luc 5:27. Injil Matt menampilkan orang yang sama dengan alias Matius guna menegaskan panggilan itu anugerah ilahi seperti kujelaskan di atas. Seluk beluk selanjutnya bisa dijernihkan dengan ahli tafsir.Bagaimanapun juga, Matius, si Mattai itu, ialah bentuk modern, tentunya bagi zaman kami, buat nama tradisional Matatias. Jadi kayak nama tradisional Sugiyanto yang modernnya jadi Gianto. Kesannya, ia jadi kurang senang kalau namanya dikelirukan dan ditambah-tambah dengan “Su-”, apalagi bila disisipi “-y-”. Setuju, “Su-” dan “-y-” itu memberi kesan nama kodian. Maththaios juga kurang senang bila diingatkan bahwa namanya sama dengan Matatias, apalagi dengan Matias dari generasi kami. Orang sekarang! Dia suka dipanggil Matt. Tapi ia pernah terus terang berkata bahwa ia mempertahankan nama Yunaninya, yakni Maththaios, supaya bisa membuat kalian mikir tentang ungkapan Yunani “matheeteutheis” – seperti ditulisnya dalam Mat 13:52. Kata ini artinya “sudah mendapat pengajaran lengkap”. Memang ia mau supaya namanya yang bagi orang yang berbahasa Ibrani berarti “Tuhan telah memberi anugerah” itu ditangkap orang yang tahu Yunani secara lebih persis sebagai “sudah mendapat pengajaran sampai utuh”, jadi tidak separo-separo. Memang Matt itu begitu. Tahun lalu kalian kan disertai dia kan? Dia kan menunjukkan barang lama yang baru maknanya.

MARKOS

Kalian apa belum tahu siapa Mark? Namanya yang sesungguhnya ialah Markos Ioannes, jadi kayak namaku yang kedua, lihat catatan Luc dalam Kis 12:25. Tahu kan, dia itu kemenakan dari Barnabas (lihat Kol 4:10). Mereka berdua pernah bekerja kepada Paul. Ada banyak gosip tentang Mark, tapi kebanyakan sudah kalian dengar dari Luc. Begini, katanya Mark itu pernah hidup di Yerusalem, meski tampaknya tidak lahir dan besar di situ. Luc mencatat, ibu Mark bernama Maria (Kis 12:12 di situ Mark disebut dengan nama keduanya tok, yang sama dengan namaku) yang bukan salah satu Maria yang kalian kenal. Mark ini mengikuti Paul dan Barnabas (Kis 12:25) sampai di Siprus sebagai asisten mereka (Kis 13:5). Ini perjalanan Paul yang pertama yang terkenal itu. Tapi waktu mereka di kota Perga di wilayah Pamfilia (Turki Selatan), Mark tiba-tiba pergi meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem. Luc tak menjelaskan kenapa, tapi boleh jadi Mark kangen ibunya – anak muda seperti dia kalau masuk angin mintanya dikeroki mama sambil megat-megot (? = My God! My God!). Penginnya mendapat TLC (tielsi) – Tender Loving Care. Ah, kita tak usah ikut campur urusan gituan.Tapi kiranya perkara itu membuat Paul kurang percaya pada tekad Mark untuk ikut jadi misionaris! Kalian tahu, meski baik hati, Paul itu orangnya keras dan susah diladeni. Dia ceplas-ceplos omong nyinggung kanan kiri. Mugkin ini membuat Mark makan ati sampai minggat. Begitu maka dalam perjalanannya yang kedua, Paul tak mau diikuti Mark lagi. Tapi Barnabas bersikeras mau membawanya serta. Dan urusan ini jadi perselisihan terbuka antara Paul dan Barnabas – semua diceritakan Luc (Kis 15:37-39). Akhirnya Barnabas dan Paulus jalan sendiri-sendiri. Wah, dua orang itu memang keras kemauannya kayak para romo misionaris zaman dulu saja ya? Begitu maka Paulus memilih Silas, sedangkan Barnabas terus pergi bersama Mark berlayar ke Siprus. Kalian apa pernah mempelajari kasus misionaris awal ini. Tak kalah menariknya dibanding dengan benturan pilihan antara dua Yesuit cikal bakal misi Jawa kalian itu. Cuma belum jelas, siapa yang kayak Paulus dan siapa yang kayak Barnabas. Luc juga tidak mau terang-terangan kasih pendapat. Ia amat menghargai Barnabas dan Mark, tapi juga setia kepada Paul. Tapi agaknya Paul juga fair. Ia rujuk kembali dengan Mark di Roma (Kol 4:10 di atas; lihat juga 2 Tim 4:11). Ketika itu Mark tentunya sudah menjadi penerjemah Petrus di Roma dan mencatat semua kuliah lisannya dalam ujud diktat pendek tentang Yesus. Versi yang dirapikan kembali kalian punyai dalam bentuk Injil menurut Markus. Katanya kebanyakan dari kalian diajari membaca tulisan itu di novisiat – apa kalian nangkap?Wah, ngelantur. Orang setua aku memang sulit ngatur jalannya cerita. Kita tadi omong sampai mana ya? O, kan tentang Mark. Kalian mau tahu arti nama dia kan? Mark bukan nama asli Yunani – Markos – meski dicetak begitu dalam edisi asli. Namanya itu nama Latin ting. Yang bener tulisannya ialah Marcus, artinya “palu, martil, hammer.” Kita bayangkan ia bisa jadi anak seorang perwira Romawi yang tinggal di Yudea. Ibunya kiranya orang asli situ yang jadi kristen. Jadi Mark itu berdarah setengah Latin setengah Yahudi dan kristen sejak lahir. Ini sering bikin setori dengan orang Yahudi yang sering mengatai orang kayak dia ratetak. Ah, ini cerita lama. Tapi sebetulnya tak jelas kenapa ia dinamai Marcus. Orang Romawi itu adatnya praktis. Anak digadang-gadang supaya bisa jadi ahli ini itu dan dinamai dengan salah satu atribut khasnya atau piranti yang sering dipakai tokoh ahli ini. Yang memakai martil itu biasanya pandai besi kan, dan dalam masyarakat Romawi ya kaum ahli menempa pedang, senjata, roda besi, kereta. Jadi memang ia diharapkan berprofesi di kalangan para empu senjata. Ini butuh pengetahuan khusus. Boleh jadi bapaknya dulu dari divisi logistik pasukan Romawi dan ingin agar Mark nanti kalau besar jadi ahli tempa pedang. Dan memang ia menempa kata sehingga jadi Injil yang tajamnya bagai pedang bermata dua! Tulisannya dipakai dasar oleh Luc dan Matt. Kadang-kadang aku juga memanfaatkannya meski aku masih ingat semua yang kulihat dan kudengar dulu.

LOUKAS

Sekarang tinggal nama Luc yang mesti dijelaskan. Tapi dengar-dengar ia sudah pernah memperkenalkan diri kepada kalian. Luc itu leluhurnya orang Yunani utara – Makedonia, seperti Aleksander Agung – tapi sejak kecil pindah ikut orang tuanya dan besar di Antiokia, metropolitan yang sekarang namanya Antakya di Turki Tenggara, dekat perbatasan dengan Siria. Namanya memang Yunani asli, yakni Loukas. Sebetulnya ini bentuk panggilan akrab dari Loukanos. Rada mirip dengan Hans, sapaan akrab bagi Yohanes. Juga kedengaran agak modern kan? Maka Gus benar, ia memanggilnya Luc, pakai c, kedengaran lebih akrab. Bunyi Lukas dalam bahasa Indonesia, menurut Gus, tidak dapat memunculkan perasaan yang ada dalam nama Loukas, tidak seperti Luc.Luc orang Yunani kosmopolitan. Arti dasar namanya sayang masih teka-teki. Belum kutemukan jawaban yang memuaskan. Kalau tanya dia, malah tambah misterius. Di kepala ia rasional sampai ke tulang sungsum, tapi di hati tahyulnya mendarah daging. Luc memang selalu tampil tenang, intelektual, menguasai diri. Akrab tapi tetap enigmatik. Yang ketemu dia langsung merasa diperlakukan sebagai orang yang paling penting di muka bumi ini. Kalian tanya saja orang-orang paling malang; kan mereka jadi tokoh-tokoh penting dalam Injilnya! Kalian tahu juga, Ma Miryam – ibu Yesus – mau cerita soal dulu-dulu hanya kepada Luc. Ia bahkan bisa meladeni orang sesukar Paul. Ia menyertai Paul ke barat dan sabar menungguinya ketika dipenjarakan di Roma. Luc itu ahli menenun cerita. Sebelum menulis kitab pertamanya, dengan teliti diperiksanya semua kisah tentang Yesus. Ia menerjuni kawasan diegesis dan hasilnya ialah sebuah buku, dan dalam bahasa Yunani bisa disebut logos pula, artinya kisah yang ada nalarnya. Luc menerawang nalar dari perkara-perkara yang bisa dikisahkan. Dan semua dilakukannya dengan penuh perasaan. Para perempuan yang sering datang arisan ke sini sampai berlinang air mata terharu mendengar kisah yang ditulis Luc dalam bahasa Yunani yang indah itu. Juga para bapak yang mendengar semua kisah para rasul bisa jadi berapi-api penuh gairah mau ikut jadi penyebar semangat roh.Kalian boleh jadi tak pernah menyangka, Luc juga kenal macam-macam roh jahat, bahkan ia tahu persis nama-nama mereka: Beelzebul, Satanas, Diabolos, Daimonion, Pneuma Akatharton, Pneuma Poneeron. Rada kayak teman kita yang kenal sama para lelembut, memedi, dan dhemit Jawa walau tinggal di Roma. Hitung-hitung Luc tentunya juga tahu nama setan yang ketujuh, itu lho yang bersama enam yang lainnya pernah merasuki Maria Magdalena. Tapi kalian tanya pada Luc atau langsung sama Magda saja. Aku tidak begitu biasa omong tentang para setan – dalam tulisanku tak kuhubung-hubungkan kegiatan Yesus dengan eksorsisme. Ini katanya pernah jadi tanda tanya besar bagi para eksege. Mereka heran kenapa dalam Injil Yohanes praktis tak ada kisah pengusiran setan. Diskusikan ini dengan ahli kitab kalian saja.Rada puas kan? Anggap saja karangan-karangan yang kalian punya itu intinya dari Mark sang penempa kata dan diuntai kembali sebagai cerita asyik berisi nalar oleh Luc dan disepuh oleh Matt sehingga jadi anugrah istimewa bagi siapa saja. Kuusahakan pula agar pokok yang mereka garap itu dapat dipandangi dan didengar sebagai kelimpahan perkenan dari atas sana..