langit dan awan
tak pernah berpisah
selalu berkawan
seakan mengukir suatu kisah.

bintang menyanjung bulan
menghiasi jagad raya
meminta tabir suatu jalan
bagi insan yang percaya.

aku dan sahabat
mengukir cerita tanpa akhir
takkan ada yang terlewat
dalam hati tlah kuukir.

bagai kalung mutiara
terajut indah dan bebas.
kebahagiaan tak tertara
dalam hati sedang melintas.

 

Anflipflop-vi

Aya kukituna eta jalma.

Memangna kunao kitu.

Lain asa ku teu boga pikiran pisan.

Enya, kunaon kitu.

Eta aya sendal ditincakan…karunya pisan sendalna panaseun ku aspal.

sandal-jepit

Berbahagialah mereka yang selalu mencari mutiara
dalam lumpur-lumpur duka
surga kaumiliki.

Adakalanya hidup ini terlalu mulia untuk hanya dibatasi dalam kata.
Tapi kata merupakan anugerah yang telah menjadi bahasa semesta.
Walau ada kasih Bapa yang tak tertampung kata
Tapi setidaknya kata bisa menjadi peristiwa bahasa yang mempertemukan diri dengan pemiliknya.
Terima kasih Bapa.
Atas keluasan dan keindahan hidup ini.
Kirimkanlah rahmat dan berkat melimpah ke Pdl sana.
Ah, seandainya ada sarana untuk mengungkap keluasan kasih dan berkatMu.
Engkau tahu, Bapa

Itu tubuh mengucur darah
darah
darah

merah
kasih Allah menyala
membasuh setiap jiwa yang terluka

Selamat memasuki Pekan Suci.

1/4/07

MOM, I’m here …

When you were 1 year old,she fed you and
bathed you.
You thanked her by crying all night long.

When you were 2 years old, she taught you to
walk.
You thanked her by running away when she called.

When you were 3 years old, she made all your
meals with love.
You thanked her by tossing your plate on the floor.

When you were 4 years old, she gave you
some crayons.
You thanked her by coloring the dining room table.

When you were 5 years old, she dressed you
for the holidays.
You thanked her by plopping into the nearest
pile of mud.

When you were 6 years old, she walked you to school.
You thanked her by screaming, “I’M NOT GOING!”

When you were 7 years old, she bought you a baseball.
You thanked her by throwing it through the next-door-neighbor’s window.

When you were 8 years old, she handed you an ice cream.
You thanked her by dripping it all over your lap.

When you were 9 years old, she paid for
piano lessons.
You thanked her by never even bothering to practice.

When you were 10 years old she drove you all day,
from soccer to gymnastic to one birthday party after another.
You thanked her by jumping out of the car and never looking back.

When you were 11 years old, she took you and your
friends to the movies.
You thanked her by asking to sit in a different row.

When you were 12 years old, she warned you not to
watch certain TV shows.
You thanked her by waiting until she left the house.

When you were 13, she suggested a haircut that was becoming.
You thanked her by telling her she had not taste.

When you were 14, she paid for a month away at summer camp.
You thanked her by forgetting to write a single letter.

When you were 15, she came home from work, looking for a hug.
You thanked her by having your bedroom door locked.

When you were 16, she taught you how to drive her car.
You thanked her by taking it every chance you could.

When you were 17, she was expecting an important call.
You thanked her by being on the phone all night.

When you were 18, she cried at your high school graduation.
You thanked her by staying out partying until dawn.

When you were 19, she paid for your college intuition,
drove you to campus carried your bags.
You thanked her by saying good-bye outside the door
so you wouldn’t be embarrassed in front of your friends.

When you were 20, she asked whether you were
seeing anyone.
You thanked her by saying, “It’s none of your business.”

When you were 21, she suggested certain careers for
your future.
You thanked her by saying, “I don’t want to be like you.”

When you were 22, she hugged you at your college graduation.
You thanked her by asking whether she could pay for a trip to Europe.

When you were 23, she gave you furniture for your first apartment.
You thanked her by telling your friends it was ugly.

When you were 24, she met your fianc and asked about your plans for the future.
You thanked her by glaring and growling, “Muuhh-ther, please!”

When you were 25, she helped to pay for your wedding, and she cried
and told you how deeply she loved you. You thanked her by moving
halfway across the country.

When you were 30, she called with some advice on the baby.
You thanked her by telling her, “Things are different now.”

When you were 40, she called to remind you of a relative’s birthday.
You thanked her by saying you were “really busy right now.”

When you were 50, she fell ill and needed you to take care of her.
You thanked her by reading about the burden parents become to their children.

And then, one day, she quietly died. And everything you never did came crashing
down like thunder on YOUR HEART.

GEMBALA KAMBING

Suatu hari, Ceuceu seorang mahasiswa peternakan
berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Ceuceu bertanya dengan takjub, 
Ceuceu : “Pak, boleh nanya nih?”
Gembala: “Boleh”

Ceuceu : “Kambing-kambing bapak sehat sekali, bapak
kasih makan apa?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput
basah”
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Ceuceu : “Hmmm….kambing- kambing ini, kuat jalan
berapa kilo pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : “Mmm yang hitam dulu deh……..”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, 4 km sehari” 
Ceuceu : “Ooohh….kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”

Si Ceuceu mulai gondok…… ..
Ceuceu : “Kambing ini, menghasilkan banyak bulu
pertahunnya ya, pak?”
Gembala: “Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang
putih?”
Ceuceu : (dengan kesalnya) “Yang hitam dulu deh….”
Gembala: “Oh, kalo yang hitam, banyak…… 10 kg/th”
Ceuceu: “Kalo yang putih?”
Gembala: “Yang putih juga….”
Si Ceuceu mulai kesal: “BAPAK INI KENAPA SIH SELALU
NGEBEDAIN KAMBING JADI 2,PADAHAL JAWABANNYA SAMA AJA
?!!!!!!!!!!? “
Gembala: “Oh, gini dik, soalnya yang hitam itu, punya
saya……”
Ceuceu : “Oh begitu pak, maafin saya kalo gitu,
habisnya saya emosi.
Kalo yang putih punya siapa, pak??”
Gembala: “Yang putih juga!!!!”

 

Wawancara dengan Tuhan
“Selamat pagi, ya Tuhanku,” aku berseru kepada Tuhan seraya mengetuk pintu dalam doa.
“Silakan masuk,” sambut Tuhan.
“Jadi kamu ingin mewawancari Aku?” lanjutNya.
“Kalau Tuhan ada waktu,” sahutku.
Sambil tersenyum Tuhan berkata:
“Abadilah waktu bagiKu. Maka Aku ada cukup waktu untuk melakukan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan apa yang hendak kauajukan kepadaKu?”
Lalu aku mulai bertanya:
“Apa yang paling mengejutkan Tuhan mengenai bangsa manusia?”
Tuhan menjawab:
“Yang paling mengherankan Aku mengenai bangsa manusia adalah mereka mudah bosan sebagai anak-anak dan mau cepat-cepat menjadi orang dewasa dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka merusak kesehatannya dengan mengejar uang dan menghabiskan uang itu untuk pengobatan. Mereka terlalu cemas tentang masa depannya dan melalaikan masa kini sehingga mereka tidak dapat menikmati dengan baik masa sekarang maupun masa depannya. Mereka menjalankan hidup seolah-olah tidak akan mati, tetapi mati seakan-akan tidak pernah hidup.”

Setelah itu tangan Tuhan memegang tanganku, lalu kami berdiam sejenak.
Kemudian aku bertanya kepada Tuhan:
“Pelajaran apa saja yang pantas kami pelajari? Dan selaku Bapa, Tuhan menghendaki apa yang harus dipelajari anak-anakMu?”

Tuhan menjawab:
“Mereka perlu belajar supaya apa yang paling utama dalam hidup, bukanlah apa yang mereka miliki, melainkan siapa yang mereka punya dalam hidupnya. Mereka harus belajar bahwa tidak baik untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain sebab semua orang akan diadili menurut nilai pribadinya, bukan sebagai kelompok perbandingannya. Mereka harus belajar bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, melainkan orang yang punya secukupnya untuk kebutuhannya.”

“Mereka harus belajar bahwa waktu berapa menit saja perlu untuk menyakiti dan melukai hati orang yang mereka cintai padahal mungkin perlu bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.”

“Mereka perlu belajar untuk memaafkan dan mengampuni bahwa sesungguhnya ada banyak orang yang amat mencintai mereka, namun saja tidak tahu bagaimana caranya untuk menyatakan itu dan mengekspresikan perasaannya.”

“Mereka perlu belajar bahwa meskipun uang dianggap bisa membeli segalanya, namun tidak dapat membeli kebahagiaan.”

“Mereka harus belajar bahwa teman yang baik adalah orang yang mengetahui semua termasuk kekurangan-kekurangan mereka, tetapi tetap menyukainya.”

“Akhirnya, mereka harus belajar bahwa tidak cukup mereka menerima pengampunan dari orang lain, melainkan mereka harus mengampuni diri sendiri.”

Setelah itu Tuhan berhenti berbicara, aku pun duduk diam sebentar di situ sambil menikmati saatnya. Lalu aku menyampaikan terima kasih kepada Tuhan atas pertemuan yang indah itu dan juga atas segala berkat yang telah kuperoleh dari Tuhan.

Kemudian Tuhan berkata:
“AnakKu, kamu boleh datang untuk wawancara denga Aku kapan saja karena Aku tetap siap 24 jam. Tanya apa saja dan Aku akan menjawab. Hanya harus kauingat ini: Orang-orang akan melupakan apa yang kamu katakan atau apa yang kamu perbuat, tetapi mereka tidak akan melupakan apa yang kamu lakukan kepadanya untuk membahagiakan mereka.”

Setelah itu, aku pulang dengan bahagia.

Bamboo

Jangan kesal satu hari pun dalam hidupmu

Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.” Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputu asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.

Saudaraku yang budiman, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.

Teruskan perjuangan hidup Anda!

Jangan Menangis Karena “Semuanya Indah”

 
Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluardari kamaroperasi.
Dia bertanya dengan penuh harapan: “Bagaimana anakku? Apakah dia dapat
disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi
sayangnya anak ibu tidak tertolong”
Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakkuyang tidak berdosa
bisaterkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?” Di mana Engkau
Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu? “
Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengananak ibu sela
beberapa waktu? Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum
jenazahnya dibawa ke universitas. “

Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan
selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap
rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagaikenangan?” perawat
itubertanya. Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan
menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, “Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk
diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia
dapat menolong  orang lain yang memerlukan. Awalnya saya tidak
membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan
tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain
untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.’ “

Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu
 memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia
bisa melakukannya. “

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama
enam bulan di sana untuk merawat Jimmy.

Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan
pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki
rumah yang terasa kosong.

Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi
segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan
mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat
Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu. Kemudian dibaringkan dirinya
di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis
hingga tertidur. Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga. Di samping
bantalnya  terdapat sehelai surat yang terlipat.

Surat itu berbunyi:
 ”Mama tercinta, Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan
selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun
saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.

Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu
ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba,
jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak
apa-apa ma.. Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.
Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan
hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus
membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak
perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma.

 Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah
menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan
tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat
segalanya di sana.

Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang
melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak
terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku
melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku
menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di
pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang
sangat penting.

Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama
untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku
sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya. Tapi mama tahu,
Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis
surat ini kepada mama.

Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma.
Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya
‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan-Nya?’ Allah mengatakan Dia
berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.

Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak.
Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis
selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan
sehelai kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus
mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam. Bapa memerlukan pensil ini
untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan.

Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya. Aku
yakin makanannya akan lezat sekali. Oh, aku hampir lupa
memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker
itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit
itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.

Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk
menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman
istimewa! Bagaimana ma? Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku. “

Halaman Berikutnya »