langit dan awan
tak pernah berpisah
selalu berkawan
seakan mengukir suatu kisah.

bintang menyanjung bulan
menghiasi jagad raya
meminta tabir suatu jalan
bagi insan yang percaya.

aku dan sahabat
mengukir cerita tanpa akhir
takkan ada yang terlewat
dalam hati tlah kuukir.

bagai kalung mutiara
terajut indah dan bebas.
kebahagiaan tak tertara
dalam hati sedang melintas.

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan beberapa kuda lewat, tanpa
berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang.. . dan ia pun berkata, “Tuan, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang ? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki.”

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, “Tentu. Naiklah.” Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda atas sesuatu, mendorongnya untuk bertanya, “Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang2 kuda lain lewat, tanpa berusaha meminta tumpangan . Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?”

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda dan menjawab, “Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang.” Si orang tua melanjutkan, “Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas ada pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya. “

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. “Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak”, ia berkata pada si orang tua. “Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain..” Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

The Sower’s Seeds – Brian Cavanaugh.


Suatu hari seorang anak bertanya kepada ibunya,
“Ibu, mengapa ada begitu banyak bintang di langit?”
Ibu tersenyum kepadanya, membelai rambutnya dengan lembut dan berkata,
“Anakku, itu artinya ada banyak perbuatan baik yang dilakukan,
setiap perbuatan baik yang kau lakukan,
akan menjelma menjadi bintang di langit,
tidakkah kau ingin membuat banyak bintang di langit?
“Anak itu menatap ke langit dan berjanji
bahwa ia akan membuat banyak bintang.
Sejak saat itu, sang anak selalu menunggu malam datang
untuk menghitung bintang
apakah hari ini ada banyak atau tidak…..

Bintang selalu memberikan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang melihatnya.
Mungkin ia tampak begitu sederhana dan polos.
Namun dalam kesederhanaan, dia bersinar berkilau indah dan memberikan kedamaian.
Mungkin dia tak menyadari kalau ia begitu istimewa …
tapi karena itulah ia menjadi istimewa.

Dia menyinari semua orang dengan adil,
tidak peduli orang yang disinarinya seperti dia atau tidak,
tidak peduli orang tersebut memperhatikannya atau tidak.
Dia selalu bersinar dan memberikan kilau yang indah.

Ketika awan gelap datang dan menutupi langit,
dirinya seakan menghilang …
sementara itu dia tetap ada dengan sinarnya yang lembut berkilau.

Dia bersinar bukan untuk menjadi bintang,
tapi dia adalah bintang yang selalu bersinar.
Identitasnya tidak hilang jika dia tidak bersinar,
namun dia selalu bersinar selama cintanya mengalir untuk semua orang.
Itulah hidup yang seharusnya dihidupi.

Hidup adalah pemberian diri kepada semua orang,
tidak hanya untuk orang baik yang peduli kepada kita,
tetapi juga untuk orang lain yang mungkin tidak memberikan rasa hormat kepada kita.

Hidup harus bersinar, bersinar bagi setiap orang yang tinggal di dekat kita.
Jika bintang bersinar dengan kilau nya,
bagaimana kita bersinar untuk orang lain?
Mungkin hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah …
memberikan senyum yang tulus dan berdoa bagi orang-orang.
Saat melakukan sesuatu yang baik …
tidaklah untuk membuat semua orang berpikir bagus untuk diriku,
tapi melakukannya hanya karena ada cinta untuk mereka
juga karena … ada Dia di dalam mereka .

Setiap saat dalam kehidupan kita adalah pemberian cuma-cuma,
sehingga perlu diberikan kembali secara bebas dan cuma-cuma kepada orang lain juga.
Mungkin kita tidak bisa melakukan hal-hal besar,
tapi seperti sebuah bintang yang kecil,
diketerbatasannya tetap memberikan sesuatu yang ada pada dirinya
yaitu kilaunya yang lahir dari kemurahan hati,
demikian juga hal-hal kecil yang sesungguhnya bermakna besar
dapat lahir dari kemurahan dan ketulusan hati.

Sekarang, setiap kali ketika melihat sebuah bintang,
ingatlah bahwa hidup harus seperti bintang,
kecil namun memberikan segala sesuatu dari kedalamannya
tanpa pilih kasih satu di atas yang lain.

Mendekati Natal semoga kita semakin teringat
Panggilan menjadi bintang penunjuk arah dalam kisah Tiga Raja
Menjadikan hidup dalam kemurahan hati
Agar banyak orang dapat menikmati Sinar suka cita dari Sang Raja
Raja yang lahir dalam kesederhanaan

Bagi para misionaris berkarya di pedalaman merupakan suatu berkat dan rahmat. Hanya karena berkat dan rahmat Allah seorang misionaris akan mampu bertahan di hutan belantara. Karena bekerja di pedalaman seseorang harus benar-benar berani berkorban. Di sana tak akan ditemukan pujian, sanjungan dan penghargaan. Seorang misionaris harus melakukan segalanya dengan tulus dan jujur. Dengan kata lain sebagai misionaris seperti di daerah Asmat, ia harus berani telanjang bulat. Ini bukan berarti seorang misionaris harus pakai koteka. Bukan. Tetapi sebagai misionaris, tidak boleh mencari penghargaan, hadiah, pujian dan sebagainya. Umat di Asmat jarang akan memuji dan tidak biasa memuji. Kalau mereka diberi sesuatu jarang sekali mereka mengucapkan terimakasih.

Karena mereka tak mengenal kata terimakasih. Pada suatu hari saya bertanya kepada seorang kategis asli Asmat,”Kenapa orang-orang di sini kalau diberi tidak pernah mengucapkan terimakasih?” Kategis tersebut menjawab,”Pater, kami selalu berpikir, kalau pater atau seseorang memberi sesuatu itu kan sudah ikhlas. Maka kami tak perlu mengucapkan terimakasih.” Aku pikir jawaban kategis tersebut sangat benar. Ternyata dalam kesederhanaan, mereka memiliki filosofi hidup yang mendalam. Saya belajar apa artinya memberi yang sejati. Memberi tanpa pamrih, tidak menuntut balasan atau ucapan terimakasih.

Walaupun bagi suku tertentu, budaya tertentu kalau menerima sesuatu tidak mengucapkan terimakasih dianggap tidak sopan. Tetapi memang seharusnya demikian, kalau kita memberi dengan tulus tak perlu mengharapkan balasan. Memberi adalah memberi. Memberi tanpa menuntut balasan membuat orang yang menerima bahagia dan yang memberipun akan akan bahagia.
“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Demikian juga Papua pasti berbeda dengan Jawa, Sumatra dan sebagainya. Masyarakat di sana sangat dipengaruhi alam sekitarnya. Dan mereka hanya mengenal apa yang ada di sekitar mereka. Tentang binatang saja, sangat terbatas yang mereka kenal. Ikan, buaya, babi, ayam hutan, burung nuri sangat akrab dengan mereka. Karena begitu akrabnya tak aneh kalau seorang ibu rela dan merasa bahagia menyusui anak babi. Umat di Asmat tak kenal apa itu kambing apalagi sapi. Jadi dunia mereka masih sangat terbatas. Maka tidaklah mudah memberitahukan binatang yang tidak mereka kenal.

Hidup adalah kesempatan untuk belajar, melayani dan mencintai. Pada awalnya, melayani dan mencintai itu seperti mengorbankan sesuatu bagi orang lain. Tetapi ketika mencintai dan melayani itu dilakukan terus menerus setiap hari, penuh ketulusan, maka perasaan berkorban itu hilang, yang muncul hanyalah senyuman yang membahagiakan.

Ada seorang misionaris dari Belanda bernama Johas. Ia bekerja di Paroki Senggo. Paroki ini sangat pedalaman. Pastor ini sangat mencintai umatnya dan selalu berusaha mengajari umatnya berbagai macam hal. Pelayanannya tidak diragukan. Pada suatu hari ia pergi ke Paroki Basyim, di pantai Kaswari. Di Paroki ini pastornya memelihara kambing. Ketika melihat kambing-kambing yang dapat dikembangbiakkan, maka pastor Johas berminat untuk membawa beberapa ekor ke Senggo. Kendati jauh dan sulit membawanya, Johas membawa beberapa ekor kambing ke Senggo. Tujuannya hanya satu supaya umat belajar mengenal dan belajar beternak kambing.

Jarak Basyim – Senggo adalah dua hari perjalanan memakai mapiboat. Perjalanan ditempuh lewat laut dan sungai. Agar kambing-kambing tersebut tidak terlalu kecapekan, dan pastornya juga tidak lelah, maka ia menginap di paroki Yaosakor. Seperti biasa kalau ada mapiboat merapat di pastoran orang kampung lari semua menuju ke tempat di mana mapiboat berlabuh. Setelah mapiboat merapat orang-orang heran melihat binatang “aneh”. Dengan penuh semangat Johas memanggil orang-orang yang berkumpul di jembatan, Ia berteriak, “Hai, anak-anak yang besar tolong bantu pater mengangkat kambing-kambing ini.” Mereka diam tidak bereaksi sama sekali bahkan malah mereka menjauh. Johas heran sekali. Biasanya kalau dimintai tolong mereka cepat membantu, kenapa mereka kini malah pergi. Sekali lagi Johas berteriak,”Sini, tolonglah saya nanti saya beri permen.” Tetapi mereka semakin menjauh. Masih ada seorang pemuda yang berdiri di jembatan, lalu Johas bertanya,”Kenapa orang-orang pergi tidak mau menolong saya.” Sang pemuda dengan tenang menjawab,” Pater, mereka takut sekali. Anjing kecil saja kalau menggigit sakit sekali, apalagi ini binatang begitu besar. Sekali menggigit pasti langsung mati kami” Pastor Johas hanya tersenyum.
Mendengar cerita Johas, akhirnya kami di pastoran tertawa semua. Kami menemukan kegembiraan bukan karena menonton sebuah film yang lucu, karena memang tak ada gedung bioskop di sana. Kami bahagia karena menyaksikan kepolosan dan kejujuran umat yang kami layani. Saya bayangkan bagaimana kalau mereka melihat sapi, bisa jadi mereka serangan jantung.

Namun pada saat itu tidak hanya bibir kami yang tersenyum, seluruh semesta alam terlihat tersenyum. Sungai yang depan rumah kami tersenyum, hutan belantara, burung-burung bahkan rumput-rumput pun tersenyum, bahkan langit biru bersorak sorai. Melayani dengan tulus hati kami menemukan senyuman di mana-mana. Kami bisa tertawa karena hal-hal yang sederhana, tetapi menyehatkan jiwa.
Inilah kehidupan yang jendela-jendelanya sudah terbuka. Pada saat seperti itu tidak ada lagi keluh kesah, kecewa karena bertugas di daerah terpencil. Semuanya hanyalah putaran waktu yang melukis keindahan, mewarnai kehidupan. Seperti sungai yang mengalir dengan tenangnya menuju samodera, demikian juga memberi, melayani, mencintai dan berbagi dengan tulus ikhlas, akan semakin menguatkan otot-otot rohani kita. (Pst. Agustinus Sudarno, OSC)

Jalan yg mulus dan lurus tidak akan pernah menghasilkan,
PENGEMUDI yg hebat..

Laut yang tenang tidak akan menghasilkan,
PELAUT yg tangguh..

Langit yang cerah tidak akan menghasilkan,
PILOT yang handal..

Hidup yg tdk ada masalah tdk akan
membuat ORANG menjadi kuat..krn itu,
Jadilah org yg HANDAL dan TAHAN UJI dalam menerima berbagai tantangan hidup.
Tuhan mengijinkan jalan hidupmu berbelok dan tidak mulus,
. . . gelombang² persoalan yang menghantammu,
. . . langit yg kelam dan penuh awan badai
. . . semuanya itu dibuatNya supaya engkau menjadi pribadi yg handal dan tahan uji dalam menjalani hidup ini..!!….

Suatu ketika, seorang raja setuju membantu seorang bocah yang kehilangan ibunya. Sang raja memerintahkan seluruh negeri untuk mencari ibu si bocah. Karena pengakuan si bocah bahwa ibunya itu cantik sekali, dan ia belum pernah melihat wanita secantik ibunya, maka sang raja menyuruh semua wanita cantik di negerinya untuk datang ke istananya, dengan pesan akan diadakan perjamuan makan malam bersama pangeran…..

Maka berdatanglah banyak wanita cantik dari seluruh negeri. Mereka berusaha menghiasi diri mereka dengan berbagai macam hal; dari berpakayan, perhiasan sampai tas dll. Tetapi tidak seorang-pun dari mereka dikenal dan diakui sebagai ibu dari si bocal ini. Sang raja-pun hampir putus asa menanggapi kerinduan sang boca dalam menemukan ibunya, karena dari semua wanita cantik yang datang ke istana tak satu-pun yang ia akui sebagai ibunya.

Ketika semua dalam situasi pasrah, tiba-tiba gerbang istana di ketuk perlahan. Silahkan masuk! Kata sang raja. Raja begitu kaget, karena seorang wanita separuh baya, dengan pakayan yang tidak rapi, rambut tertata ala kadarnya; tangannya terlihat merah karena barusan selesai mencuci pakayan. Dia adalah tukang cuci keluarga istana. Serta merta si bocah berteriak girang penuh sukacita….”Maaaa…..”. Sambil menangis ia merangkul ibunya dan mereka berdua saling merangkul bahagia. San raja dan semua penghuni istana dan para wanita cantik tertegun kagum dan heran.

Oscar Hammerstein katakan: “Apakah saya mencintai-mu karena engkau cantik; atau engkau cantik karena saya mencintaimu ?.
Berbahagialah mereka yang merasa dan mengalami dicintai sesamanya, karena ia sungguh menjadi orang yang paling cantik di dunia.

Marilah kita saling mencintai dan menemukan kecantikan sejati dalam diri sesama.

Ikan berkata: “Saya tak dapat melihat airmataku karena di dalam air”.
Air berkata: “Saya dapat merasakannya karena engkau ada di dalam hatiku”.

Kita bisa menyembunyikan nyeri dan derita
tapi tiada yang tersembunyi dari yang mengasihi kita.

Bapa mengasihimu, DIA akan memberikan yg TERBAIK bagimu …..

Manusia itu seperti Sebuah “Buku”….
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.

Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dib…aca, ada yg sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya,
selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih,
baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita
dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.

Terima kasih Tuhan utk hari yg baru ini..
Syukuri hari ini….
dan isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal2 yg baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya kepada Tuhan,
tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai,
kita dapati diri ini sebagai pribadi yg berkenan kepadaNYA.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak2 kita
dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu,
Menulislah dengan tinta dgn cinta
dan penuh rasa kasih sayang,
serta pena kebijaksanaan.

Aku berdoa dan berharap :
“agar Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu”
karena…..
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru,
Bunga selalu mekar,
dan Mentari selalu bersinar..
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai,
Senyum disetiap air mata,
Berkah disetiap cobaan,
dan jawaban disetiap doa.

Jangan pernah menyerah, Terus berjuang..

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?

Tidak diragukan lagi“Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”

Sebuah gembok dengan kokoh mengunci pintu pagar.

Sebatang tongkat besi yang gagah perkasa ingin membuka gembok tersebut, ia mengerahkan seluruh tenaganya, tapi tetap saja tak mampu membuka gembok itu.

Datanglah sebuah kunci yang kecil. Dengan ringan kunci kecil itu berputar, 1 suara ‘klik’ terdengar dan dan terbukalah gembok itu.

Batang besi tak habis pikir bertanya,… “Mengapa aku yang setengah mati mengerahkan tenaga tak bisa membukanya, tapi kamu yang kecil dengan mudahnya bisa ?”

Kunci menjawab, “Itu karena aku memahami isi hatinya”

Hati setiap manusia ibaratnya pintu yang tergembok, batangan besi yang paling kokoh pun tak bisa membukanya. Perhatian dan kasih sayang adalah kunci kecil yang akan dapat membuka pintu hati yang tergembok

Pasio Yesus yang selalu dikenang setiap Jumat Agung, sering membawa kita dalam suasana haru biru, terbawa romantisme sendu serta rasa iba pada seorang pribadi yang mau mengorbankan diri sampai sebegitunya untuk kita. Rasa haru itu sering berhenti di fanatisme pembelaan pada orang yang tersakiti apa lagi yang berkorban untuk kita, sedang maksud keseluruhan dibalik ketaatan Yesus pada Bapa umumnya hanya samar-samar tertangkap. Ketaatan Yesus tidaklah sekedar harus taat, namun cinta Yesus yang begitu kentara pada Bapa yang Ia tahu mencintaNya ( Mrk 1:11, Engkaulah anakKu yang Kukasihi) yang menggerakkanNya mau mewartakan kabar gembira, yaitu kabar bahwa Allah mencintai manusia, meskipun apapun konsekuensinya, sekalipun harus mati disalib sesuai dengan hukum yang berlaku dijaman itu bagi penjahat atau orang yang tidak sepaham dengan penguasa. Hal keteladanan ini yang sering terlupakan dalam merenungi Pasio Yesus, bahwa sesungguhnya saat mata hanya memandang pada Kasih Allah, akan banyak rintangan dan salib-salib dapat kita panggul dengan rasa syukur.

Acapkali pergumulan, rutinitas, dan gaya hidup, membentuk sebuah penghalang dimana mata kita tidak lagi setiap saat memandang Kasih Allah, bahkan Kisah sengsara Yesuspun secara tidak disadari menjauhkan kita dari misiNya yang ingin menyibak segala peghalang itu. Adakalanya penderitaan kita yang diwakili oleh penderitaan Yesus tampak bagai sebuah skenario yang dirancang oleh Bapa, benarkah ? Coba simak sebentar cerita di bawah ini.

Ada seorang ibu janda hidup bersama dua orang anak, seorang putri bernama Cilla, dan adiknya seorang putra berama Louis. Sebenarnya Cilla bukanlah anak kandungnya tapi putri yang dibawa almarhum suaminya dari pernikahan sebelumnya. Walaupun Cilla bukan putri kandungnya, ibu ini amat menyayanginya sama seperti sayangnya pada Luois. Entah setan dari mana,Cilla tidak pernah merasa dicintai, ia lebih mendengar hasutan kalau ibunya mempunyai maksud lain dibalik kebaikkannya itu, ibu dikiranya hanya ingin dipuji orang, dan ingin memanfaatkannya saat menjadi jompo kelak. Terasuki pikiran demikian Cilla bertingkah seenaknya, kelakuannya sangat bebas, kasar, tidak mau dinasehati hingga suatu hari ia kabur dari rumah dengan membawa perhiasan ibunya yang sebenarnya disimpan untuknya juga nanti. Kehilangan anak yang menyusahkan itu tetap saja membuat khawatir dan sedih keluarga. Ibu berusaha mencarinya tanpa henti walau tahun berganti tahun, Begitupun dengan Louis, ia sangat kehilangan kakak terkasihnya, sempat beberapa lama terpaksa tidak ke sekolah karena mencari Cilla. Suatu malam Ibu tsb mendapat telpon dari seorang wanita yang tidak dikenal, suaranya sangat kasar dan tidak sopan, katanya : “ternyata benar seperti yang ku kira, engkau memang tidak pernah sungguh-sungguh menyayangiku, suarakupun tidak lagi kau kenal, aku ingin pulang, cepat jemput ya, aku lelah sekali,” Mendengar putri yang dirindukan akan pulang, ibu sangat bahagia walaupun ia tahu Cilla masih belum berubah, cepat2 dimintanya Louis untuk menjemput. Segera Louis berangkat dengan gembira dan bersemangat karena sebentar akan bertemu Cilla kakak tersayangnya. Lama ibu menanti kedua anaknya tiba, namun yang datang malah seorang polisi yang mengabarkan keberadaan anak-anaknya di Rumah Sakit kecil di sebuah dusun terpencil. Betapa hancur hati ibu menyaksikan kedua orang yang sangat dicintainya tergelapar sekarat, namun menurut dokter ternyata masih ada harapan bila mereka segera dapat tranfusi darah. Sayang sekali persedian darah habis, tapi untunglah darah ibu cocok dengan Louis, dan ternyata Cillapun mempunyai golongan yang sama. Ibu harus cepat mengambil keputusan pada siapa darah ini harus diberikan. Ibu mengenal benar kebaikan hati Louis, ibu tahu bila darahnya diberikan pada Cilla, Louis akan meninggal, namun ia akan meninggal dengan indah karena Bapa disurga akan segera menyambutnya, sedangkan sebaliknya bila Cilla yang meninggal, betapa mengerikannya, ia akan pergi dalam keadaan dosa berat. Ibu mengambil keputusan, dibisikkannya keputusan itu pada Louis, betapa hancur hati Louis, ia ingin berteriak, ibu .. aku ingin hidup .. tapi anak yang baik ini sadar akan maksud ibunya, ia mengenal hati ibunya yang benar-benar mencintainya sehingga melalui sorot matanya, ia berkata, apapun yang ibu inginkan , itu yang ku inginkan juga. Lewat peristiwa ini akhirnya Cilla menyadari betapa benar kalau ibunya sangat mencintainya, seakan ia mendapat kesempatan untuk dilahirkan kembali untuk menjadi seorang baik.

Tidakkah kisah ibu ini mengingatkan kita pada peran Kasih Bapa dalam peristiwa Jumat Agung ? Tidakkah pengorbanan Yesus membawa kita pada Kasih Bapa yang teramat sabar, yang selalu ingin menyelamatkan ? Menyadari bahwa kita dicintai, dimana ada selalu Mata Kasih Allah yang tak pernah berkedip memandangi kita, akan membuat kita menjadi seorang “anak yang baik,” karena dalam setiap yang dikerjakan akan melihat jejak-jejak Allah di dalamnya. Kita tidak akan sanggup dengan sengaja berbuat dosa, hati akan menjadi peka akan hal yang tidak benar, karena bila itu tetap dilakukan kita akan merasa seperti sedang mencuri di rumah orang, disaksikan pemiliknya. Penderitaan tidak lagi menjadi salib yang menghimpit, tapi kesempatan untuk semakin murni dalam Kasih dan Harapan.

Memandang dan menyadari dipandang Allah disebut dengan Kontemplasi dan kesadaran kontemplatif. Kontemplasi berasal dari kata contemplare yang artinya memandang, kata itu berasal dari dua kata Latin yaitu : cum = bersama dan templum = Bait Allah, sehingga kontemplasi mengandung pengertian di dalam Bait Allah yaitu tubuh kita, kita ada bersama Allah saling memandang.

Membiasakan diri memberikan waktu hening yang cukup (20-30 menit) seperti yang Yesus lakukan di taman Getsemani, setiap hari pada waktu dan tempat yang tetap secara kontinu, untuk hanya menyadari kehadiran Allah yang ada di dalam diri kita tanpa memikirkan dan memohon apapun, akan sangat membantu melewati hari dalam kesadaran kontemplatif dan suasana kontemplasi ditengah hiruk pikuk dan kesibukan yang harus dilewati, atau dapat dilukiskan seperti kata Iwan Fals dalam lagu “Kemesraan”: “Jiwaku Tentram bersamaMu”

Sungguh akan menjadi idial, bila peristiwa pengorbanan Yesus di salib, tidak hanya berhenti pada eforia paskah, tapi menjadikan kita sungguh kontemplatif ditengah dunia yang ramai, selalu menyadari Allah memandang kita dengan mata kasihNya, juga disetiap apapun, kita melihat ada Dia yang mengasihi kita disana. Maka dalam perjiarahan hidup yang kadang penuh salib, kita dapat berkata, seperti Yesus berkata dalam sekaratul mautNya : “Bukan Kehendaku tapi kehendakMulah yang terjadi,” Jalan Salib telah membuka jalan bagi terjadinya Paskah, di balik salib, selalu ada harapan dan sukacita

(AN.W)

tka Q mlht senyum U ? Hlg rs marah Q….
Ktka Kw brbcra ? Hlg rs bosan Q….
Ktka Kw trtawa ? Hlg rs ksepian Q….
tp ntah knapa ? …..
Ktka Kw brjalan di dpn rumah Q….hilang solop Q….

Ketika TUHAN menciptakan WANITA,
Malaikat datang dan bertanya…
“Mengapa kau begitu lama menciptakan WANITA TUHAN ?”

TUHAN menjawab,
“Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk WANITA ??”

Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan,
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan
dan semua itu hanya dengan 2 tangan”.

Malaikat menjawab dan takjub,
“Hanya dengan 2 tangan ??
Tidak mungkin !!!”

TUHAN menjawab
“Tidakkah kau tau, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri
dan bisa bekerja 18 jam sehari “.

Malaikat mendekat dan mengamati WANITA tersebut, dan bertanya,
” TUHAN, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh ?
seolah2 terlalu banyak beban baginya….”

TUHAN menjawab
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah Air Mata….”

“Untuk apa ?” tanya Malaikat….

TUHAN melanjutkan
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,
kegalauan, Cinta, kesepian, penderitaan dan Kebanggaan….
Serta Wanita ini mempunyai kekuatan mempesona Laki2…
Ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki WANITA…..”
“Dia dapat mengatasi beban lebih dari Laki2,
Dia mampu menyimpan Kebahagiaan dan pendapatnya sendiri…..”
“Dia mampu tersenyum saat Hatinya menjerit,
Mampu menyanyi saat menangis,
Menangis saat terharu,
bahkan tertawa saat ketakutan..”
“Dia berkorban demi orang yang dicintainya..”
“Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan.”
“Dia menangis saat melihat anaknya adalah Pemenang….”
“Dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa Bahagia…”
“Dia begitu Bahagia mendengar suara kelahiran..”
“Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya…
Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka….”

“CINTANYA TANPA SYARAT”

” HANYA ADA 1 YANG KURANG DARI WANITA,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA…..”

Ada Kekuatan di dalam KASIH,
dan Orang yang sanggup Mengasihi adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk Mementingkan Diri sendiri.

Ada Kekuatan dalam SUKA CITA,
dan Orang yang Bersukacita adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah Terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada Kekuatan di dalam DAMAI SEJAHTERA,
dan Orang yang dirinya penuh Damai Sejahtera adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada Kekuatan di dalam KESABARAN,
dan Orang yang Sabar adalah Orang yang KUAT,
karena ia Sanggup Menanggung segala sesuatu
dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada Kekuatan di dalam KEMURAHAN,
dan Orang yang Murah Hati adalah Orang yang KUAT,
karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
untuk melakukan yang Baik bagi sesamanya.

Ada Kekuatan di dalam KEBAIKAN,
dan Orang yang Baik adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa selalu mampu melakukan yang Baik bagi semua orang.

Ada Kekuatan di dalam KESETIAAN,
dan Orang yang Setia adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
dengan Kesetiaannya kepada ALLAH dan Sesama.

Ada Kekuatan di dalam KELEMAHLEMBUTAN,
dan Orang yang Lemah Lembut adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Menahan Diri untuk tidak membalas Dendam.

Ada Kekuatan di dalam PENGUASAAN DIRI,
dan Orang yang bisa Menguasai Diri adalah Orang yang KUAT,
karena ia bisa Mengendalikan segala nafsu Keduniawian.

Disitulah semua letak-letak dimana KEKUATAN SEJATI berada.
Dan Sadarlah bahwa kita juga memiliki cukup KEKUATAN
untuk mengatasi segala masalah kita.
Di manapun juga, seberat dan serumit apapun juga.

 

Anflipflop-vi

Aya kukituna eta jalma.

Memangna kunao kitu.

Lain asa ku teu boga pikiran pisan.

Enya, kunaon kitu.

Eta aya sendal ditincakan…karunya pisan sendalna panaseun ku aspal.

sandal-jepit

Berbahagialah mereka yang selalu mencari mutiara
dalam lumpur-lumpur duka
surga kaumiliki.

Adakalanya hidup ini terlalu mulia untuk hanya dibatasi dalam kata.
Tapi kata merupakan anugerah yang telah menjadi bahasa semesta.
Walau ada kasih Bapa yang tak tertampung kata
Tapi setidaknya kata bisa menjadi peristiwa bahasa yang mempertemukan diri dengan pemiliknya.
Terima kasih Bapa.
Atas keluasan dan keindahan hidup ini.
Kirimkanlah rahmat dan berkat melimpah ke Pdl sana.
Ah, seandainya ada sarana untuk mengungkap keluasan kasih dan berkatMu.
Engkau tahu, Bapa

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.